BACAAJA, SEMARANG – Minyakita yang selama ini menjadi pilihan banyak warga karena harganya lebih terjangkau kini semakin sulit ditemukan di toko-toko kelontong. Kondisi ini membuat pedagang kesulitan memenuhi permintaan pelanggan, sementara masyarakat terpaksa membeli minyak goreng merek lain dengan harga yang lebih mahal.
Masunah (60), pedagang sembako di Daerah Krapyak Semarang, mengaku hampir setiap hari ada pelanggan yang datang untuk mencari Minyaita. Namun dalam beberapa waktu terakhir, ia justru kesulitan mendapatkan pasokan.
“Banyak yang cari Minyakita, tapi barangnya memang enggak ada. Akhirnya pembeli saya arahkan ke minyak yang ada, meskipun harganya lebih mahal,” ujar Masunah. Selasa (9/6/2026).
Bacaaja: Harga Kertas Melambung Tinggi, Pelaku Usaha Fotokopi Ketar-ketir
Bacaaja: Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan
Menurutnya, Minyakita selama ini menjadi salah satu produk yang paling dicari karena dianggap lebih terjangkau dibanding minyak goreng kemasan lainnya. Ketika stok menghilang dari pasaran, pelanggan pun tidak memiliki banyak pilihan.
Keluhan serupa juga disampaikan Masyito (50), pemilik toko kelontong di Daerah Tugurejo Semarang yang merasakan pasokan Minyakita semakin sulit diperoleh. Ia mengatakan toko-toko kecil kini jarang mendapatkan distribusi seperti sebelumnya.
“Sekarang susah dapatnya. Informasinya karena distribusinya lebih banyak masuk ke koperasi, jadi toko kecil seperti kami jarang kebagian,” katanya.
Tak hanya langka, harga Minyakita yang masih beredar di pasaran juga mulai mengalami kenaikan. Masito menyebut harga yang sebelumnya berkisar Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter kini bisa mencapai sekitar Rp21 ribu per liter.
“Kalau ada barangnya pun sekarang lebih mahal. Kita juga bingung kalau mau jual, karena pembeli pasti cari yang harganya murah,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat pedagang berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi mereka ingin memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi di sisi lain barang yang dicari justru sulit didapat.
Masunah mengaku sering menerima pertanyaan dari pelanggan yang berharap Minyakita kembali tersedia di tokonya. Namun hingga kini ia belum bisa memastikan kapan pasokan akan kembali normal.
“Sebetulnya pelanggan tetap mencari Minyakita. Mereka sudah cocok karena harganya lebih terjangkau. Tapi kalau barangnya enggak ada, ya mau enggak mau beli yang lain,” tuturnya.
Kelangkaan Minyakita menjadi persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, hilangnya salah satu pilihan minyak goreng yang lebih terjangkau membuat pengeluaran rumah tangga semakin bertambah.
Para pedagang berharap distribusi Minyakita bisa kembali lancar sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan minyak goreng dengan harga yang sesuai kemampuan mereka. “Harapannya barangnya ada lagi seperti dulu, supaya pembeli juga enggak susah cari,” pungkas Masyito. (dul)

