BACAAJA, SEMARANG – Bangunan megah, parkiran luas, pengunjung hilir mudik. Tapi di balik ramainya salah satu mal di Kota Semarang, keluarga Suhadi menyebut ada sejarah yang ikut terkubur.
Suhadi mempertanyakan keberadaan tiga makam leluhurnya yang diduga kini berada di bawah area parkir mal.
Bukan minta dipindah ke tempat mewah, keluarga hanya ingin makam itu dikembalikan atau minimal diberi penanda agar jejak sejarah tidak hilang begitu saja.
Bacaaja: Ziarah ke Makam Kartini: Perempuan Nggak Cukup Pintar, Harus Punya Arah
Bacaaja: Gramedia Jalma Semarang: Toko Buku Kayak Tempat Healing, Ada Playground dan Kafe
“Makam eyang dan kedua putranya yang waktu Jepang masuk dibantai oleh Jepang karena memang eyang itu berdarah Belanda,” kata Suhadi, Selasa (9/6/2026).
Makam yang ia maksud ialah pusara Maria Mentel dan dua anaknya yang menjadi korban pembantaian saat pendudukan Jepang. Kini, berdasarkan penelusuran keluarga, lokasi itu sudah berubah total menjadi area parkir.
“Sekarang ya sudah rata, diratakan dengan tanah itu untuk tempat parkir mal,” ujarnya.
Yang tersisa bukan batu nisan atau pagar makam, melainkan foto-foto lama yang masih disimpan keluarga. Suhadi menilai keberadaan makam itu bukan sekadar urusan ahli waris, tetapi juga bagian dari sejarah Kota Semarang.
“Iya. Karena itu fakta sejarah,” tegasnya.
Ia juga menyebut leluhurnya merupakan pejuang bawah tanah yang ikut memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ironisnya, kata dia, jejak sejarah itu kini nyaris tak menyisakan tanda.
Saat pembangunan mal dilakukan, Suhadi mengaku keluarga sama sekali tidak pernah diajak bicara. Tidak ada pemberitahuan, apalagi musyawarah.
Kalau permintaan itu terus diabaikan, keluarga memilih jalur hukum. Mereka juga menegaskan tidak akan memperpanjang Hak Guna Bangunan (HGB) yang berkaitan dengan lahan tersebut.
“Ya akhirnya kita selesaikan secara hukum. Kami tidak akan memperpanjang HGB,” ujar Suhadi.
Kuasa hukum keluarga Suhadi, Novel Al Bakrie, mengatakan tiga makam itu berada di kawasan bekas gelanggang olahraga Semarang yang kini berubah menjadi pusat perbelanjaan.
Menurutnya, hilangnya makam tersebut bukan persoalan sepele.
“Ini sangat-sangat bernilai sejarah yang tinggi terkait kedudukannya sebagai istri PB IX yang sekarang dihilangkan begitu saja. Ini bahaya, ini penghilangan sejarah,” kata Novel.
Ia pun melempar pesan kepada pengelola mal. Jangan sampai bangunan megah berdiri, tapi sejarah justru ikut dicor dan ditutup aspal. Sebab jika persoalan ini tak diselesaikan, ahli waris mengaku siap membawa sengketa tersebut ke ranah pidana maupun perdata. (bae)

