BACAAJA, SEMARANG – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai bikin pelaku UMKM ikut deg-degan. Harga bahan baku perlahan naik, sementara pelanggan masih sensitif soal harga. Akibatnya, banyak pelaku usaha memilih menekan keuntungan demi mempertahankan pembeli.
Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Universitas Diponegoro, Nugroho SBM, menjelaskan dampak pelemahan rupiah paling terasa bagi UMKM yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“UMKM yang memakai bahan baku impor seperti tahu, tempe, roti karena terigu masih impor, reseller produk impor, sampai usaha yang memakai platform pinjaman asing menjadi kelompok yang paling terdampak,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Bacaaja: Rupiah Melemah, Nasib Pedagang Kecil Ikut Tergerus: Nahan Harga, Untung Dikit Gak Apa
Bacaaja: Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan
Menurut Nugroho, melemahnya rupiah membuat biaya produksi otomatis ikut naik karena harga bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal. Kondisi ini banyak dirasakan pelaku usaha makanan, konveksi, hingga usaha di sektor teknologi dan elektronik.
Meski begitu, tidak semua pelaku UMKM mengalami kerugian. Ada juga usaha yang justru mendapat peluang di tengah kondisi tersebut.
“UMKM yang berorientasi ekspor bisa diuntungkan. Selain itu, pelaku usaha yang membuat produk pengganti barang impor juga punya peluang karena masyarakat mulai mencari alternatif lokal saat barang impor makin mahal,” jelasnya.
Di lapangan, banyak UMKM memilih tidak langsung menaikkan harga jual meski modal usaha bertambah. Langkah itu dilakukan untuk menjaga pelanggan tetap datang di tengah daya beli masyarakat yang belum stabil.
Menurut Nugroho, strategi seperti ini memang cukup umum saat kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
“Karena daya beli masyarakat cenderung melemah, banyak UMKM akhirnya memilih mempertahankan harga walaupun untungnya menipis. Ada juga yang menyiasati dengan memperkecil ukuran produk supaya harga tetap sama,” katanya.
Strategi tersebut memang bisa membantu menjaga pelanggan dalam jangka pendek. Namun jika pelemahan rupiah berlangsung lama, tekanan terhadap pelaku usaha diperkirakan akan semakin berat.
Nugroho menilai kondisi ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pelaku UMKM. Menurutnya, pemerintah dan Bank Indonesia juga punya peran penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
“Karena sumber masalahnya ada di depresiasi rupiah, maka ini menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, pemerintah, dan pihak terkait untuk mengatasinya,” ujarnya.
Selain itu, ia menilai UMKM juga perlu mendapat pendampingan agar lebih siap menghadapi kondisi ekonomi yang fluktuatif. Mulai dari mencari bahan baku alternatif, meningkatkan efisiensi usaha, hingga memperluas pasar agar tidak terlalu bergantung pada situasi ekonomi saat ini.
Di tengah kondisi yang belum pasti, banyak pelaku UMKM kini berada di posisi serba sulit. Menaikkan harga bisa membuat pelanggan pergi, tapi mempertahankan harga berarti harus rela keuntungan makin tipis.
Meski begitu, sebagian besar pelaku usaha masih memilih bertahan sambil berharap kondisi ekonomi segera membaik. (dul)

