BACAAJA, SURABAYA- Ancaman fenomena El Nino kembali masuk radar perhatian DPR RI. Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena mengingatkan pemerintah daerah agar tak hanya sibuk mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi juga serius menyiapkan strategi menghadapi musim kering berkepanjangan.
Peringatan itu disampaikan Samuel usai mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Jumat (24/7/2026).
Menurut Samuel, dampak El Nino jauh lebih luas daripada sekadar mengganggu sektor pertanian. Kekeringan yang berlangsung lama bisa memukul industri pariwisata, UMKM, hingga aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
“Kalau El Nino datang, air akan semakin sulit, panen terganggu. Dampaknya pasti merembet ke pariwisata dan UMKM. Karena itu masyarakat harus dipersiapkan sejak sekarang melalui sosialisasi yang masif,” ujarnya.
Baca juga: Ketika Sampah Tekstil Bicara: Perlawanan Sunyi Samuel Wattimena
Ia menjelaskan, berkurangnya ketersediaan air bersih berpotensi mengganggu operasional berbagai destinasi wisata, terutama wisata alam yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Di sisi lain, hasil panen yang menurun akibat kekeringan juga bisa mengganggu pasokan bahan baku bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor kuliner dan produk olahan pertanian.
Karena itu, Samuel menilai mitigasi perubahan iklim harus menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan daerah. Pemerintah daerah didorong tidak hanya fokus pada promosi wisata, tetapi juga memperkuat edukasi masyarakat dan menyiapkan langkah antisipasi sebelum dampak El Nino benar-benar dirasakan.
Kualitas Pariwisata
Selain menyoroti ancaman perubahan iklim, Samuel juga mendorong pemerintah daerah meningkatkan kualitas pengelolaan sektor pariwisata. Menurutnya, banyak destinasi di Indonesia yang memiliki potensi besar, tetapi belum dikemas secara menarik sehingga belum mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan maupun belanja mereka.
Ia mencontohkan sejumlah negara yang mampu mengubah objek wisata sederhana menjadi destinasi kelas dunia berkat penguatan narasi, pengalaman wisata, dan pengelolaan yang kreatif. “Ini menunjukkan kemasan pariwisata kita masih sangat bisa ditingkatkan,” kata Samuel.
Dirinya juga menyinggung tantangan sektor ekonomi kreatif di tengah meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai industri padat karya. Ia menilai pemerintah daerah perlu memperbanyak program pelatihan ulang (reskilling) agar para pekerja terdampak memiliki keterampilan baru yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif.
Baca juga: Putusan MK Soal Pemisahan Pemilu Bikin DPR Meradang
“Pengembangan ekonomi kreatif harus dibarengi peningkatan keterampilan tenaga kerja dan penciptaan pasar yang mampu menyerap produk-produk mereka,” ujar wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I tersebut.
Menurut Samuel, penguatan ketahanan menghadapi perubahan iklim, peningkatan daya saing pariwisata, dan pengembangan ekonomi kreatif harus berjalan beriringan. Dengan begitu, daerah tidak hanya siap menghadapi ancaman El Nino, tetapi juga mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Membangun destinasi wisata memang penting. Tapi kalau nanti tamu datang, sementara air menghilang dan hasil panen menyusut, yang tersisa mungkin bukan kenangan indah, melainkan pelajaran bahwa alam selalu lebih dulu menentukan skenario. (tebe)

