BACAAJA, SEMARANG- Pemerintah Kota Semarang langsung tancap gas menangani kecelakaan tunggal yang melibatkan truk ekspedisi di kawasan Tanjakan Silayur, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan.
Truk Hino Dutro bernopol AE 8434 BA milik PT Kantor Pos Madiun itu dilaporkan mengalami gagal nanjak sekitar pukul 04.30 WIB. Truk yang melaju dari arah Surabaya menuju Boja tersebut mendadak meluncur mundur, nyebrang median jalan, lalu berhenti di dekat SPBU Silayur. Beruntung, insiden ini nggak menelan korban jiwa. Tapi suasana sempat bikin pengguna jalan auto waswas.
Baca juga: Pemkot Perketat Pengawasan Jalur Silayur
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan begitu laporan masuk, petugas gabungan langsung diterjunkan ke lokasi buat mengamankan area dan mengurai lalu lintas.
“Keselamatan masyarakat tetap jadi prioritas. Petugas langsung bergerak supaya kondisi cepat aman dan normal lagi,” katanya. Menurut Agustina, kawasan Silayur memang butuh perhatian ekstra karena karakter jalannya panjang, curam, dan sering bikin kendaraan berat kewalahan kalau nggak siap.
Karena itu, Pemkot Semarang juga meminta evaluasi menyeluruh dilakukan bersama kepolisian dan pihak terkait supaya kejadian serupa nggak terus-terusan terulang.
Faktor Penyebab
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan menjelaskan, hasil pemeriksaan awal menunjukkan dugaan penyebab utama berasal dari keterlambatan perpindahan transmisi oleh pengemudi saat menanjak.
“Muatan truk sekitar 4 ton dan masih sesuai aturan. Tapi di jalur seperti Silayur, penguasaan kendaraan itu penting banget,” jelasnya. Dishub bersama kepolisian juga langsung melakukan pemeriksaan teknis kendaraan dan pengecekan uji KIR di lokasi kejadian.
Nggak cuma penanganan cepat, Pemkot Semarang kini juga lagi mematangkan pembangunan pos pemantauan permanen di kawasan Silayur. Nantinya bakal ada sistem Early Warning System (EWS) dan pengawasan 24 jam buat memantau kendaraan barang yang lewat.
Baca juga: Silayur Itu Bukan Jalan, Tapi “Ujian Mental” Pengendara
Rencananya, kendaraan angkutan bakal dicek mulai dari dokumen, status KIR, sampai kondisi fisik kendaraan sebelum naik ke jalur tanjakan. Selain itu, edukasi buat perusahaan angkutan dan sopir juga bakal terus digencarkan, terutama soal teknik berkendara di jalur ekstrem dan pentingnya kesiapan kendaraan.
Danang menegaskan, keselamatan di Silayur nggak bisa cuma mengandalkan rem dan doa. “Harus ada kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, operator angkutan, sampai pengemudi,” ujarnya.
Di Semarang, tanjakan Silayur tampaknya bukan cuma penguji mesin kendaraan. Kadang, dia juga jadi tempat tes: siapa yang benar-benar siap berkendara, dan siapa yang masih nekat modal pede. (tebe)

