BACAAJA, PATI – Kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), bukan kali pertama terjadi. Namun, kasus keracunan MBG kali ini disebut sebagai yang terbesar di daerah tersebut, di banding sebelumnya.
231 siswa di Kabupaten Pati, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG pada Selasa (8/9/2026).
Keluhan mulai muncul pada malam hari dan berlanjut hingga Rabu (9/9/2026). Para siswa dilaporkan mengalami pusing, mual, mulas, diare, hingga gangguan pencernaan lainnya.
Dampaknya paling banyak dirasakan siswa MTsN 3 Pati, yakni 127 orang. Kemudian SMPN 1 Gembong sebanyak 103 siswa, serta satu siswa MTs Mambaul Ulum.
Bacaaja: Kasus Keracunan MBG Bisa Berujung Pidana
Bacaaja: Kasus Keracunan MBG 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Selesai? Kepala SPPG Minta Maaf
Banyaknya siswa yang mengalami keluhan membuat puluhan ambulans dikerahkan untuk membawa mereka ke sejumlah fasilitas kesehatan.
Puskesmas Gembong menjadi salah satu lokasi yang langsung dipadati pasien. Sebanyak 92 siswa mendapat penanganan di sana.
Dari jumlah tersebut, enam siswa harus menjalani rawat inap, sementara 86 lainnya mendapatkan perawatan jalan.
Sebanyak 98 siswa kemudian ditangani di RSUD RAA Soewondo Pati. Sementara 41 siswa lainnya dibawa ke RS Mitra Bangsa.
Di RS Mitra Bangsa, lima siswa menjalani rawat inap dan 36 lainnya diperbolehkan menjalani rawat jalan.
SPPG Gembong 1 disetop sementara
Munculnya ratusan siswa dengan keluhan kesehatan membuat operasional SPPG Gembong 1 dihentikan sementara. Diketahui, menu MBG yang bikin siswa keracunan massal disuplai oleh SPPG tersebut.
Ketua Satgas MBG Pati, Risma Ardhi Chandra, mengatakan penanganan dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan sejumlah pihak.
“Kami mengirimkan ambulans dan dari Polres sudah mengirimkan dokter,” ujar Chandra.
Kasus keracunan MBG yang berulang
Kepala Dinas Kesehatan Pati, Luki Pratugas Narimo, mengatakan kasus dugaan keracunan setelah menyantap MBG sebenarnya bukan yang pertama terjadi di wilayah tersebut.
Namun, kasus kali ini disebut menjadi yang terbesar jika dilihat dari jumlah siswa yang mengalami gejala.
“Tapi mungkin ini yang paling besar secara jumlah yang bergejala,” kata Luki, Rabu (9/9/2026).
Hingga kini, penyebab pasti munculnya keluhan pada ratusan siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut. (*)

