BACAAJA, SEMARANG – Jalur Silayur di Jalan Jalan Prof. Hamka lagi-lagi telan tumbal nyawa. Senin (4/5/2026), terjadi kecelakaan tragis di depan Temuro Cafe, kawasan Perumahan Wahyu Utomo.
Seorang bocah perempuan dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian, setelah terjadi kecelakaan motor vs truk. Insiden ini melibatkan satu keluarga yang mengendarai sepeda motor.
Dari tiga orang yang berada di kendaraan, sang anak yang diperkirakan berusia 3 sampai 6 tahun, tidak selamat.
Sementara kedua orang tuanya mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke RS Permata Medika untuk penanganan medis.
Bacaaja: Silayur Rawan Kecelakaan, Warga Hidupkan Lagi Tradisi Ruwatan
Bacaaja: Jalur Maut Silayur Ngaliyan Makan Korban Lagi, Mahasiswa Sentil Keras Pemkot Semarang
Informasi kecelakaan itu viral di media sosial usai diunggah akun Instagram @kejadiansmg. Tampak seorang korban telah ditutupi kardus di tepi jalan.
“Innalillahi, kecelakaan lur, lokasi di Ngaliyan depan Elisha Mart, info dilokasi kecelakaan melibatkan motor dengan truk. Semoga ditempatkan disisi Tuhan YME,” tulis akun @kejadiansmg, Senin (4/5/2026).
Relawan yang datang ke lokasi bergerak cepat. Evakuasi dilakukan dalam hitungan menit. Korban luka segera dibawa ke rumah sakit, sementara jenazah bocah tersebut dievakuasi ke RSUP Kariadi.
Salah satu saksi mata, Ari Widayat, petugas BRT Trans Semarang, mengaku tidak melihat langsung kejadian, tapi sempat mendengar suara benturan keras.
“Dengar suara ‘der’, langsung saya lihat. Korban jatuh ke kanan. Orang tuanya selamat, tapi anaknya sudah meninggal,” ujarnya.
Ia juga menyebut ada truk bermuatan semen berwarna hijau di sekitar lokasi saat kejadian. Tapi soal apakah kendaraan itu terlibat atau tidak, masih belum bisa dipastikan.
“Truknya ada di situ, tapi saya nggak tahu pasti kena atau nggak,” tambahnya.
Sampai sekarang, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi pasti kecelakaan ini. Sementara itu, arus lalu lintas di sekitar lokasi sudah kembali normal.
Kejadian ini makin menegaskan satu hal: Jalan Prof. Hamka bukan lagi sekadar jalan biasa, tapi titik rawan yang terus berulang makan korban.
Warga pun mulai angkat suara, minta ada langkah serius dari pihak terkait, mulai dari evaluasi lalu lintas sampai peningkatan sistem keamanan jalan.
Karena kalau dibiarkan, bukan nggak mungkin korban berikutnya akan kembali jatuh di titik yang sama. (*)

