BACAAJA, SEMARANG – Jalur maut di kawasan Ngaliyan, khususnya ruas Jalan Prof. Hamka hingga Silayur, lagi-lagi jadi sorotan. Rentetan kecelakaan lalu lintas yang terus berulang bikin mahasiswa dan warga makin geram—apalagi korban jiwa terus bertambah dari tahun ke tahun.
Kondisi ini akhirnya bikin mahasiswa dari berbagai kampus turun tangan. Mereka menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk kepedulian sekaligus tekanan ke pemerintah agar nggak lagi “tutup mata”.
Ketua DEMA UIN Walisongo Semarang, Muhammad As’ad Hasanuddin Afandi, bilang aksi ini bukan reaksi spontan, tapi akumulasi keresahan yang sudah lama.
Bacaaja: Portal BSB Bikin Truk Nggak Lagi Bebas Lewati Silayur
Bacaaja: Wali Kota Semarang Akui Jalur Silayur Tak Layak Dilintasi Truk Besar
“Aksi ini kita inisiasi bersama karena melihat rentetan kecelakaan dari 2016 sampai 2020 yang memakan korban jiwa sekitar 20 kejadian,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, insiden terbaru pada 10 April di kawasan Silayur jadi titik puncak. Mahasiswa menilai, masalah ini sudah terlalu lama dibiarkan tanpa penanganan serius.
Nggak cuma demo, mereka juga turun langsung melakukan penelusuran ke titik-titik rawan kecelakaan seperti Silayur dan Beringin. Dari situ, mereka menyimpulkan bahwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tapi masalah sistemik yang harus segera dibereskan.
“Kami lakukan riset kecil dengan turun langsung ke lokasi. Itu jadi dasar kami bergerak,” jelasnya.
Keluhan masyarakat juga jadi bahan bakar aksi ini. Warga mengaku resah, terutama karena masih banyak truk besar yang melintas di jam sibuk di jalur tersebut.
“Banyak warga yang mengeluh, jalan ini memang butuh perhatian serius dari Pemkot Semarang,” tambahnya.
Mahasiswa dan warga pun sepakat, kalau nggak ada langkah konkret, tragedi serupa bakal terus berulang.
Mahasiswa menegaskan, aksi ini bukan sekadar turun ke jalan lalu selesai. Mereka berkomitmen bakal terus mengawal sampai ada solusi nyata.
“Kami akan terus kawal, bukan cuma hari ini, tapi sampai ada solusi konkret,” tegasnya.
Sebelumnya, HMI Cabang Semarang juga sudah lebih dulu angkat suara. Mereka bahkan mengecam keras dugaan kelalaian Pemerintah Kota Semarang atas kecelakaan berulang di Silayur.
Dalam pernyataannya, HMI mendesak wali kota dan dinas terkait untuk memberikan klarifikasi terbuka sekaligus permintaan maaf kepada publik.
Dengan tekanan yang makin kuat dari mahasiswa dan masyarakat, bola sekarang ada di tangan pemerintah: mau bertindak cepat, atau nunggu korban berikutnya? (dul)

