Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Sampai Kapan Saya Terus Menjadi Santri?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Sampai Kapan Saya Terus Menjadi Santri?

Redaktur Opini
Last updated: April 17, 2026 12:02 pm
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Nadia Z Malika, santri di pondok pesantrn Al-Hikmah Semarang. Mahasiswi UIN Walisongo Semarang.

Ada keinginan untuk menjadi wanita karier. Mandiri secara finansial. Bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung kepada siapa pun. Wajar ‘kan?

 

Selamat datang di dunia yang penuh fana. Kalimat itu terdengar basi. Tapi entah kenapa terasa semakin nyata ketika dijalani. Saya seorang alumni santriwati Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Tegal. Hari ini saya masih melanjutkan perjalanan sebagai santri sekaligus mahasiswi. Sebuah jalan yang mungkin tidak semua orang pilih atau bahkan paham.

Sejauh ini saya bersyukur. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk merasakan bangku kuliah. Apalagi sambil tetap nyantri. Di tengah banyaknya keterbatasan, Allah masih memberi ruang untuk belajar, tumbuh, dan mencari makna hidup dari dua dunia akademik dan pesantren.

Saya kini tinggal di Pondok Pesantren Al-Hikmah di daerah Tugu Rejo Semarang. Tempat yang sederhana, tapi penuh cerita. Namun, seperti manusia pada umumnya, saya juga sering diliputi pertanyaan-pertanyaan kecil yang diam-diam mengusik. Sampai kapan saya akan menjadi santri?

Pertanyaan itu muncul bukan karena lelah. Tetapi karena melihat dunia luar yang begitu luas dan penuh kemungkinan. Ada keinginan untuk menjadi wanita karier. Mandiri secara finansial. Bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung kepada siapa pun. Wajar ‘kan?

Di saat-saat seperti itu, saya sering teringat ungkapan Jawa “urip kuwi wang sinawang.” Secara sederhana, istilah ini berarti hidup itu saling memandang atau lebih dalam lagi setiap orang melihat kehidupan orang lain tampak lebih baik daripada kehidupannya sendiri.

Kita sering merasa rumput tetangga lebih hijau. Padahal bisa jadi mereka juga sedang melihat ke arah kita dengan perasaan yang sama. Orang yang bekerja mungkin melihat kehidupan santri itu tenang. Penuh makna. Juga dekat dengan Tuhan.

Sementara santri seperti saya, kadang melihat kehidupan di luar pesantren sebagai sesuatu yang lebih bebas. Lebih menjanjikan dan penuh peluang. Padahal keduanya punya tantangan masing-masing. Tidak ada jalan hidup yang benar-benar lebih mudah. Yang ada hanyalah cara kita menjalaninya.

Di titik itulah saya mulai sadar, bahwa menjadi santri bukanlah keterbatasan. Justru ini adalah sebuah keistimewaan. Tidak semua orang punya kesempatan untuk belajar agama secara mendalam. Hidup dalam lingkungan yang mengajarkan kesederhanaan, kesabaran, dan keikhlasan setiap hari.

Menjadi santri bukan sesuatu yang hina. Seperti stigma yang kadang masih beredar di luar sana. Justru sebaliknya, ini adalah proses pembentukan diri yang tidak ternilai. Bukan berarti keinginan untuk menjadi wanita karier itu salah. Sama sekali tidak.

Justru menurut saya, menjadi santri dan memiliki mimpi besar adalah kombinasi yang kuat. Kita tidak harus memilih salah satu. Kita bisa tetap menjadi santri sekaligus mempersiapkan diri untuk masa depan yang mandiri. Ilmu agama yang yang kita pelajari bisa menjadi fondasi. Sementara itu pendidikan formal menjadi jembatan menuju dunia yang lebih luas.

Mungkin yang perlu diubah bukanlah jalannya. Tetapi cara pandangnya. Bahwa apa yang sedang kita jalani hari ini bukanlah penghalang melainkan bekal. Bahwa setiap fase hidup punya waktunya sendiri. Dan bahwa tidak semua hal harus segera dicapai sekarang.

Pada akhirnya saya kembali pada satu kesimpulan sederhana: hidup ini bukan tentang menjadi seperti orang lain, tapi tentang menerima dan memaksimalkan apa yang sudah Allah berikan. Karena bisa jadi, keadaan yang kita jalani hari ini adalah sesuatu yang diam-diam diinginkan oleh orang lain.

Jadi sampai kapan saya menjadi santri? Mungkin jawabannya bukan tentang waktu. Tapi tentang bagaimana saya memaknai perjalanan ini. Selama masih ada kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, mungkin di situlah saya seharusnya berada.

Dan soal mimpi menjadi wanita karier? Tenang saja. Ia tidak pergi ke mana-mana. Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk diwujudkan. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Fondasi Pendidikan Tidak Sepantasnya Berganti Setiap Lima Tahun

Kehabisan Akal Menyetop Korupsi Kepala Daerah

Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article LINKK Semar Latih Penyandang Disabilitas Biar Nggak Cuma ‘Nunggu Diselamatkan’
Next Article Penuntut umum Kejari Kota Semarang sedang memeriksa tersangka dan berias perkara kasus pajak. (ist) Kemplang Pajak Rp5,2 Miliar, Direktur Perusahaan Solar di Semarang Ditahan Kejaksaan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PADEL PERKUAT KOLABORASI - PLN Icon Plus ikuti gelaran Naven Padel Series 2026 Seri Yogyakarta, untuk memperkuat kolaborasi PLN Group.

PLN Icon Plus Jadi Bagian Gelaran Naven Padel Series 2026, Perluas Kolaborasi PLN Group

PKL SIMPANG LIMA - Pembeli sedang membeli dagangan di lapak PKL Simpang Lima Semarang, turut Jalan Ahmad Yani, Senin (31/8/2026). (dul)

Derita PKL Simpang Lima: 35 Tahun Jualan, Namanya Hilang dari Daftar Relokasi

AMBRUK SAAT DIRESMIKAN - Jembatan gantung di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, ambruk saat diresmikan Bupati Citra Pitriyami, Minggu sore (30/8/2026).

Heboh! Jembatan Gantung Pongpet Pangandaran Ambruk saat Diresmikan Bupati

Portal Malioboro Bikin Lansia Kesusahan Melintas

Kondisi lapak pedagang di kawasan Simpang Lima Semarang yang masih sepi pembeli, Senin (31/8/2026). (dul)

PKL Simpang Lima Direlokasi Enam Bulan, Katanya Mau Ditata Ulang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Januari 23, 2026
Opini

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

November 20, 2025
Opini

Mereka yang Diam-Diam Mendukung Pelaku Kekerasan Seksual

Mei 5, 2026
Opini

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Februari 22, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Sampai Kapan Saya Terus Menjadi Santri?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?