Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!

Redaktur Opini
Last updated: Januari 8, 2026 9:35 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Moh. Asad Hasanudin Afandi adalah Presiden Dema UIN Walisongo 2026.

Organisasi kemahasiswaan sering dianggap gangguan, bukan mitra kritis.

 

Di sudut kampus yang lengang memasuki musim liburan, ruangan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) organisasi mahasiswa tampak sepi dengan pintu terbuka. Spanduk lama masih tergantung, meja rapat mulai berdebu, dan papan tulis penuh agenda yang tak pernah benar-benar direalisasikan secara penuh.

Tak ada diskusi, tak ada perdebatan gagasan, hanya sunyi yang panjang di setiap sudut kampus. Pemandangan itu bukan sekadar gambaran fisik, akan tetapi metafora dari kondisi organisasi kemahasiswaan hari ini yang hidup secara administratif tapi mati secara ideologis.

Organisasi kemahasiswaan, dalam sejarah yang panjang, lahir melalui ruang kesadaran. Ia tidak hanya sebagai wadah untuk berkumpul, melainkan medium pembentukan cara berpikir kritis. Ia adalah tempat mahasiswa belajar menganalisis kondisi realitas, menafsir ketidakadilan, dan merumuskan perlawanan.

Dari rahim organisasi muncul tradisi intelektual, militansi, moral, dan keberanian bersuara. Sayangnya, hari ini, banyak organisasi kemahasiswaan mengalami degradasi, baik secara kuantitas maupun kualitas. Mereka mulai kehilangan arah, kehilangan basis, dan kehilangan makna.

Degradasi itu dimulai dari pergeseran orientasi. Organisasi mahasiswa tidak lagi dipahami sebagai alat perjuangan kolektif, melainkan batu loncatan personal. Jabatan menjadi tujuan, bukan lagi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Struktur lebih dipentingkan daripada substansi. Program kerja disusun sekadar untuk menggugurkan kewajiban administratif, bukan sebagai respons atas problem nyata yang dihadapi mahasiswa dan masyarakat. Diskusi kritis digantikan rapat seremonial, dan kaderisasi berubah menjadi formalitas tahunan.

Lebih jauh, organisasi kemahasiswaan hari ini juga terjebak dalam logika pragmatis. Banyak yang takut bersuara lantang karena khawatir dicap “problematik”. Khawatir mengganggu relasi dengan birokrasi kampus. Bahkan ada yang takut kehilangan akses fasilitas kampus.

Akibat dari semuanya itu, organisasi memilih aman: netral di tengah ketidakadilan, diam di hadapan penindasan, dan lunak terhadap kebijakan yang merugikan mahasiswa. Padahal dalam diam itulah fungsi kontrol sosial organisasi perlahan mati.

Degradasi ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari sistem pendidikan tinggi yang semakin menekankan efisiensi, akreditasi, dan prestasi individual. Kampus didorong menjadi pabrik tenaga kerja, bukan ruang pembebasan.

Mahasiswa diarahkan untuk cepat lulus, cepat bekerja, dan patuh pada sistem. Dalam konteks ini, organisasi kemahasiswaan sering dianggap gangguan, bukan mitra kritis. Maka, ketika organisasi ikut menyesuaikan diri dengan logika tersebut, yang tersisa hanyalah bayang-bayang masa lalu.

Lebih dari dampak buruk itu semua, ada yang lebih berbahaya yaitu pembusukan internal. Kader tidak lagi dibekali tradisi berpikir kritis. Ideologi organisasi hanya dihafal tanpa dipahami. Solidaritas pun digantikan kompetisi internal. Alhasil, organisasi kehilangan rohnya. Ia tetap berdiri, tetapi kosong. Ia bergerak, tetapi tanpa tujuan. Ia berbicara, tetapi tak lagi didengar.

Narasi degradasi ini seharusnya menjadi cermin, bukan vonis. Organisasi kemahasiswaan belum sepenuhnya mati, tetapi sedang sakit. Dan setiap penyakit selalu menuntut kesadaran untuk sembuh. Kesadaran itu dimulai dengan keberanian melakukan otokritik: mengakui bahwa ada yang salah, dan bersedia memperbaikinya dari akar.

Menghidupkan kembali organisasi kemahasiswaan berarti mengembalikannya pada fungsi dasarnya: sebagai ruang pendidikan politik, pengorganisasian, dan produksi gagasan. Diskusi harus kembali menjadi napas, bukan formalitas. Kaderisasi harus menjadi proses pembebasan, bukan sekadar regenerasi struktural. Organisasi harus berani berdiri di pihak mahasiswa dan rakyat, meski berhadapan dengan risiko dan tekanan.

Pada akhirnya, organisasi kemahasiswaan tidak diukur dari seberapa rapi strukturnya atau seberapa banyak program kerjanya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjaga nurani kritis kampus. Jika organisasi kehilangan keberpihakannya, maka ia hanya akan menjadi ornamen demokrasi kampus yang indah dilihat, tetapi tak punya daya ubah.

Di tengah sunyi ruang sekretariat yang terbuka itu, pertanyaannya kini bukan lagi apakah organisasi mahasiswa masih ada. Melainkan, apakah kita masih ingin memperjuangkannya sebagai alat pembebasan, atau membiarkannya larut sebagai sekadar nama tanpa arah dan makna yang jelas?(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ada Kalanya Tak Perlu Menolak Lupa

Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial

Sisi Gelap Logika Efisiensi

Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Selingkuh adalah Tindakan Krisis Moral

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Hakim Mahakamah Konstitusi (MK) Anwar Usman. Anwar Usman Ditegur MKMK karena Sering Absen Sidang, Ngaku Paham Aturan
Next Article Temuan ICW: MBG Nguntungin Prabowo, Kerugian Ditanggung Publik

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PROTES HARGA PAKAN - Peternak di Temanggung membagikan 5.000 ayam petelur kepada warga, sebagai bentuk protes atas mahalnya harga pakan ternak, Senin (10/8/2026). Menurut peternak, lebih ayam itu dibagikan kepada warga daripada mati di kandang. (*)

Demo Harga Pakan Mahal Tak Terjangkau, Peternak Temanggung Bagikan Gratis 5.000 Ayam Petelur

TAWARKAN INVESTASI--Wali Kota Agustina Wilujeng mempresentasikan proposal Semarang Logistic Hub UCC Terboyo dalam Investment Challenge 2026 di Gumaya Hotel Tower Semarang, Senin (10/8/2026). (ist)

Pemkot Canangkan UCC Terboyo Jadi Mesin Ekonomi Baru Semarang

Otak Encer Tetapi Jiwa Kehilangan Hati Nurani

CALON TUNGGAL - Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI.

Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Begini Respons DPR

SAKSI SIDANG--Kepala Desa Sidoluhur, Sudardi duduk di kursi roda saat bersaksi di sidang korupsi Bupati Pati, Sudewo, di Semarang, Senin (10/8/2026). (bae)

Sakit dan Pakai Kursi Roda, Kades dari Pati Tetap Bersaksi di Sidang Sudewo

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
Opini

Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi

Februari 12, 2026
Opini

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

Februari 3, 2026
Opini

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Januari 12, 2026
Opini

Rabiah dan Seni Mencintai Tuhan

Desember 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?