BACAAJA, SEMARANG- Rencana pengembangan proyek geotermal di kawasan Gunung Ungaran membuat sebagian warga Kabupaten Semarang khawatir.
Seorang warga Semarang, Rengga Jumadi mengatakan kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Menurutnya, berbagai persoalan yang disebut terjadi di kawasan geotermal Dieng hingga kini dinilai belum benar-benar selesai.
“Yang jelas, geotermal itu bagi masyarakat sangat menakutkan. Karena kasus yang di Dieng itu kasus-kasus itu enggak terselesaikan,” kata Rengga usai aksi di depan kantor Gubernur Jateng, Kamis (24/9/2026).
Baca juga: Tolak Geotermal Ungaran-Telomoyo, Warga Aksi Jalan Kaki 37 KM ke Kantor Gubernur
Ia menyoroti dugaan perubahan kondisi alam dan sistem hidrogeologi di sekitar proyek. Karena itu, Rengga mempertanyakan jika proyek serupa kembali dikembangkan di Gunung Ungaran. “Kalau misalnya terus bangun lagi di Ungaran, nanti apa yang terjadi? Mosok menambah kerusakan-kerusakan alam,” ujarnya.
Kekhawatiran warga semakin besar karena Gunung Ungaran berada di kawasan yang berkaitan dengan wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Semarang.
Gangguan Lingkungan
Rengga menilai jika terjadi gangguan lingkungan di kawasan Gunung Ungaran, dampaknya berpotensi dirasakan masyarakat di wilayah yang lebih luas. “Kalau Gunung Ungaran rusak, tiga wilayah besar yang kena. Kabupaten Kendal, Kabupaten dan Kota Semarang,” katanya.
Menurut Rengga, salah satu hal yang paling dikhawatirkan warga adalah persoalan air. Ia mencontohkan berbagai kejadian yang menjadi perhatian warga di kawasan Dieng, seperti kebocoran gas dan insiden pada pipa, serta kekhawatiran mengenai penurunan debit air. “Misalnya yang tadi di Dieng terjadi. Gas bocor, pipa meledak, iya kan? Dan sebagainya. Air, debit air menurun,” ujarnya.
Baca juga: Geotermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm
Sementara itu, rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran saat ini masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan. Pemerintah menyebut proyek tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW).
Wilayah kerja panas bumi Gunung Ungaran mencakup sekitar 29.800 hektare, dengan mayoritas berada di Kabupaten Semarang dan sebagian di wilayah perbatasan Kabupaten Kendal. Namun, luas tersebut bukan berarti seluruhnya akan menjadi lokasi pembangkit.
Proyeknya masih eksplorasi, tetapi kekhawatiran warga sudah lebih dulu muncul. Karena itu, sebelum panas bumi diburu, warga ingin memastikan air, lingkungan, dan kehidupan masyarakat tidak ikut dipertaruhkan. (bae)

