BACAAJA, SEMARANG– Pemkot Semarang kembali menambah koleksi sejarahnya. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menerima sejumlah artefak dan arsip peradaban maritim yang usianya mencapai 134 tahun, sebagai bagian dari upaya menyelamatkan memori sejarah Kota Atlas.
Penyerahan koleksi dilakukan di Rumah Budaya Tangga, Medan, Rabu (1/7/2026) dari kolektor benda bersejarah Dr Jimmy Lassang Manahara Siahaan. Seluruh koleksi nantinya akan diakuisisi dan dikonservasi oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang.
Ada lima jenis artefak bersejarah yang diserahkan, mulai dari lampu kuno, sepuluh lembar saham Hotel Du Pavillon Semarang tahun 1892, saham Semarangsche Administratie Maatschappij tahun 1908, Bewijs van Aandeel Meubelindustrie Andriesse tahun 1909, hingga Surat Sero (saham) N.V. Seng Tek Tjian tahun 1955.
Baca juga: Semarang Pulangkan Jejak Sejarahnya
Dokumen-dokumen tersebut merekam perjalanan Semarang sebagai kota perdagangan, investasi, dan pusat ekonomi yang berkembang pesat sejak era kolonial.
Bagi Agustina, benda-benda itu bukan sekadar koleksi tua yang disimpan di ruang arsip. “Kami memastikan bahwa warisan ini akan dikonservasi dengan benar agar nilainya tetap abadi dan tidak rusak oleh waktu,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran artefak tersebut akan memperkaya narasi sejarah Kota Semarang yang selama ini tersebar di berbagai daerah maupun koleksi pribadi.
Tak hanya menjadi arsip, koleksi tersebut juga akan dimanfaatkan sebagai bahan edukasi, penelitian, hingga pengembangan wisata sejarah agar masyarakat dapat lebih mengenal perjalanan panjang kotanya.
“Kehadiran dokumen yang Bapak-bapak sampaikan ini tentu akan memperkaya cerita yang bisa dinikmati oleh mereka yang berkunjung ke Kota Semarang,” kata Agustina.
Museum Maritim
Ia bahkan mengungkapkan harapan besar agar Semarang memiliki Museum Maritim yang mampu menampilkan sejarah pelayaran, perdagangan, dan kemaritiman kota secara lebih utuh.
“Mudah-mudahan tahun depan, tahun 2027, kami punya cukup energi untuk membangun Museum Maritim. Karena Kota Semarang ini menjadi kota yang disebut terus-menerus di dalam sejarah kemaritiman,” ungkapnya.
Sementara itu, pengelola Rumah Budaya Tangga Medan, Jimmy Lassang Manahara Siahaan mengaku terkesan dengan keseriusan Pemkot Semarang dalam menjaga warisan sejarah. Menurutnya, komitmen tersebut menjadi inspirasi bagi komunitas pelestari budaya di berbagai daerah.
“Saya belajar dari Ibu Wali Kota bagaimana mencoba membangun sebuah tempat yang bisa memberikan andil dalam melestarikan budaya pada masyarakat. Saya senang sekali bisa belajar dari beliau,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Dorong Artefak Solo Pulang dari Belanda
Penyerahan artefak ini menjadi bagian dari kolaborasi antara Pemkot Semarang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip, Universitas Negeri Medan, dan Rumah Sejarah Medan dalam rangkaian Seminar Nasional “Menyelamatkan Heritage Kota Maritim: Sejarah dan Pengembangannya” yang berlangsung bersamaan dengan Rakernas XVIII Apeksi 2026 di Medan.
Selain penyerahan artefak, agenda tersebut juga diisi repatriasi arsip surat kabar Semarang sebagai langkah mengembalikan memori sejarah yang selama ini tersebar di berbagai tempat.
Kota yang besar bukan hanya sibuk membangun gedung baru, tetapi juga tahu cara merawat jejak lamanya. Sebab, tanpa sejarah, sebuah kota mungkin tetap berdiri megah, namun perlahan kehilangan cerita tentang siapa dirinya sebenarnya. (tebe)

