BACAAJA, SEMARANG– Ancaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Semarang di tengah musim kemarau.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang kini memperkuat mitigasi teknis dan kesiapsiagaan personel untuk mencegah munculnya titik api. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut Apel Kesiapsiagaan Penanganan Bencana Kebakaran TPA Jatibarang yang digelar 9 Juli lalu dan dipimpin Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto.
Sejak saat itu, pengawasan kawasan, kesiapan personel, sarana pemadaman hingga penanganan titik api diperketat. Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasarani mengatakan, petugas lapangan terus disiagakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran, terutama di kawasan yang memiliki risiko tinggi.
“Kami tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Tim lapangan melakukan patroli rutin setiap 4 hingga 6 jam di seluruh zona rawan,” ujar Glory, Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Kemarau Datang, Pemkot Pasang Mode Siaga di TPA Jatibarang
Patroli tersebut dilakukan bersama penyiraman berkala oleh Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang setiap dua hari sekali. Selain itu, sistem on-call juga disiapkan dengan target waktu respons kurang dari 15 menit.
Mitigasi tidak hanya dilakukan di permukaan. DLH juga mengantisipasi potensi api bawah permukaan atau subsurface fire yang bisa muncul dari timbunan sampah.
Sebanyak delapan titik pipa injeksi air disiapkan di kawasan TPA untuk membantu menangani potensi kebakaran dari dalam timbunan. Petugas juga melakukan flaring gas metana setiap hari, penyemprotan biodekomposer, serta penutupan timbunan menggunakan tanah (soil cover) secara bertahap, baik pada zona aktif maupun pasif.
Pemantauan kawasan juga diperkuat dengan penggunaan drone. Untuk penanganan awal, DLH menyiapkan cadangan air sekitar 230 meter kubik. Mobil tangki TPA, pompa portabel, selang air, dan alat pemadam api ringan (APAR) juga ditempatkan dalam kondisi siap digunakan.
Apel Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan tersebut bukan sekadar formalitas. Setelah apel kesiapsiagaan digelar, tercatat empat kejadian titik api di dalam maupun sekitar kawasan TPA.
Namun, seluruh titik api berhasil ditangani dengan cepat melalui kolaborasi petugas TPA, Damkar, kelurahan, TNI, Polri, hingga warga sekitar.
“Empat kejadian titik api berhasil ditangani dengan cepat berkat kolaborasi petugas TPA, Damkar, kelurahan, TNI, Polri, hingga warga sekitar,” kata Glory. Menurutnya, dukungan logistik air, armada tangki, serta APAR yang tersedia di lokasi turut mempercepat penanganan awal.
Baca juga: Agustina Ajak Investor Bangun PSEL Jatibarang, Target Rampung 2027
DLH juga menyadari bahwa mitigasi kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan petugas dan peralatan. Orang-orang yang setiap hari beraktivitas di kawasan TPA juga menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran.
Edukasi dan sosialisasi kini menyasar pengemudi truk sampah, pemulung, pengepul hingga peternak. Mereka diberikan brosur dan imbauan terkait larangan merokok serta kebiasaan membuat perapian atau diang di kawasan TPA.
Glory meminta seluruh pihak mematuhi aturan tersebut. “Peralatan teknis di lapangan tidak akan maksimal tanpa kedisiplinan bersama. Kami meminta para pengemudi, pemulung, dan peternak betul-betul mematuhi larangan merokok serta tidak membuat perapian di kawasan TPA demi keselamatan bersama,” tegasnya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng juga mengapresiasi kesiapan tim gabungan dalam menjalankan mitigasi pascaapel kesiapsiagaan. Ia meminta kewaspadaan tetap dijaga selama musim kemarau belum berakhir.
“Komitmen yang ditetapkan sejak Apel Kesiapsiagaan 9 Juli lalu harus terus dipertahankan. Selama musim kemarau belum usai, kewaspadaan seluruh jajaran tidak boleh kendor,” tutur Agustina.
Dengan patroli tiap beberapa jam, cadangan air ratusan meter kubik, delapan titik injeksi, drone hingga sistem respons cepat, TPA Jatibarang kini dipasangi pagar pengamanan berlapis.
Tapi tetap saja, teknologi boleh canggih, mobil tangki boleh siap, petugas boleh siaga 24 jam, kalau masih ada yang nekat merokok atau bikin api di tengah gunungan sampah, semua persiapan itu bisa berubah jadi lomba lari mengejar asap. (tebe)

