Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Sekolah Wajib Jadi Rumah Aman Buat ODHIV
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Sekolah Wajib Jadi Rumah Aman Buat ODHIV

Nugroho P.
Last updated: Juli 25, 2026 8:54 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi ODHIV.
SHARE

BACAAJA, SIDOARJO – Anak-anak yang hidup dengan HIV/AIDS tetap punya hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan sekolah tidak boleh menjadi tempat lahirnya stigma atau diskriminasi terhadap pelajar ODHIV.

Pesan itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Sabtu (25/7). Ia menekankan setiap anak berhak belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa diperlakukan berbeda.

Pernyataan tersebut muncul setelah Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mengungkap masih ada puluhan anak usia sekolah yang hidup dengan HIV/AIDS. Kondisi itu dinilai perlu mendapat perhatian bersama, bukan justru memunculkan cap negatif.

Data Dinas Kesehatan mencatat, sejak 2001 hingga Juni 2026 terdapat 60 kasus kumulatif HIV/AIDS pada kelompok usia 11 hingga 17 tahun. Dari jumlah itu, tujuh anak meninggal dunia, sementara 53 lainnya masih menjalani kehidupan sebagai pelajar.

Sementara pada kelompok usia 0 sampai 10 tahun, tercatat 117 kasus. Sebanyak 35 anak meninggal, sedangkan puluhan lainnya masih menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.

Abdul Mu’ti menjelaskan urusan penanganan medis merupakan tanggung jawab pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan. Namun, urusan pendidikan menjadi kewajiban semua pihak agar anak-anak tetap bisa belajar tanpa hambatan.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang nyaman, aman, dan ramah bagi siapa saja. Status kesehatan seorang anak tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi akses pendidikan.

Ia menilai kolaborasi menjadi kunci utama. Pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, tenaga kesehatan, guru, hingga orang tua harus bergerak bersama memberikan pendampingan kepada anak-anak tersebut.

Dengan kerja sama yang baik, pelajar ODHIV bisa tetap menjalani aktivitas belajar secara normal sekaligus memperoleh dukungan yang mereka butuhkan.

Selain membahas hak pendidikan, Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gawai oleh anak.

Menurutnya, penggunaan gadget tanpa kontrol dapat memengaruhi kesehatan mental anak. Paparan konten yang tidak sesuai usia juga bisa mengganggu perkembangan mereka.

Ia mengatakan banyak anak mengalami penurunan konsentrasi karena terlalu lama berinteraksi dengan perangkat digital. Bahkan, tidak sedikit yang mulai menjauh dari lingkungan sosialnya.

Karena itu, orang tua diminta lebih aktif mendampingi anak saat menggunakan internet maupun media sosial. Guru juga diharapkan ikut menjadi pendamping yang mampu mendengar keluh kesah peserta didik.

Abdul Mu’ti mendorong anak-anak lebih banyak mengikuti aktivitas fisik, bermain bersama teman, dan membangun interaksi sosial secara langsung agar tumbuh lebih sehat.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai edukasi mengenai kesehatan reproduksi sejak dini perlu diberikan kepada anak. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah perilaku berisiko yang dapat memicu penularan HIV/AIDS.

Ia mengakui pembahasan soal pendidikan seksual masih sering dianggap tabu di tengah masyarakat. Padahal, informasi yang benar justru bisa menjadi bekal bagi anak untuk menjaga diri.

Emil menegaskan edukasi tersebut bukan mengajarkan perilaku bebas, melainkan membangun kesadaran mengenai kesehatan, tanggung jawab, serta nilai-nilai moral.

Ia berharap keluarga dan sekolah tidak lagi ragu memberikan pemahaman yang sesuai dengan usia anak. Dengan begitu, mereka memiliki bekal menghadapi berbagai tantangan di lingkungan pergaulan.

Momentum Hari Anak Nasional, lanjut Emil, seharusnya menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya lewat aturan. Dukungan nyata dari keluarga, sekolah, dan masyarakat jauh lebih menentukan.

Menurutnya, ketika semua pihak saling bekerja sama, anak-anak bisa tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari stigma, termasuk bagi mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. (*)

You Might Also Like

Curhat Alumni Viral, Dugaan Perundungan Guru SMAN Bantul Diusut Serius Sekarang

Kolaborasi Riset: Dari Sampah Jadi Energi, Dari Beasiswa Jadi Solusi

Laksana Aksara: Gerak Baru Bedana Nyetel Bareng Warga

Ribuan Pramuka Tumpah Ruah di Gunungpati, Luthfi Dorong Kolaborasi Bangun Ketahanan Bangsa

Libur Ramadhan Nggak Full, Sekolah Tetap Jalan Santai

TAGGED:Abdul MutiHIVODHIV
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Nakes Jember Kini Jemput Bola ke Rumah

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sekolah Wajib Jadi Rumah Aman Buat ODHIV

Nakes Jember Kini Jemput Bola ke Rumah

Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.

Malioboro Mau Full Jalan Kaki, Parkir Dicari Bareng

Berangkat Ngajar, Guru Honorer Malah Jadi Korban Penganiayaan Aparat Desa

Sidang Tesis S2 Pakai Kostum Cosplay

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudin dan para anggota Komisi X DPR RI berfoto bersama para pelajar saat berkunjung ke Wamena Pegunungan Papua. UU Sisdiknas dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi lokal wilayah Papua. Foto: dok.
Pendidikan

RUU Sisdiknas dan “PR Besar” Papua Pegunungan: Ketika Pendidikan Tak Cukup Sekadar Regulasi

Oktober 8, 2025
Pendidikan

Mahasiswa Diminta Ikut Bedah Data Kemiskinan dan Naikkan Kelas UMKM

Juli 16, 2026
Pendidikan

KNPI dan Kesbangpol Semarang Hadirkan Forum Debat Kekinian, Mahasiswa Bicara Tanpa Batas

Oktober 7, 2025
Pendidikan

Sekda Jateng: Enam Hari Sekolah Masih Dikaji

November 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Sekolah Wajib Jadi Rumah Aman Buat ODHIV
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?