Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Geotermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Geotermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm

R. Izra
Last updated: September 10, 2026 9:09 am
By R. Izra
4 Min Read
Share
SPANDUK AKSI: Para peserta aksi Jateng Guyub membetangkan spanduk di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). (Foto: dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Massa aksi Jateng Guyub menggelar aksi damai selama tiga hari, mulai Rabu-Jumat (22-24/7/2026), di depan kantor Gubernur Jawa Tengah. Pada hari kedua, massa Jateng Guyub fokus pada perjuangan isu-isu lingkungan.

Warga lereng Gunung Lawu mengaku mulai merasakan perubahan lingkungan yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Debit mata air terus menyusut, banjir mulai muncul di kawasan pegunungan, hingga suhu udara yang terasa semakin panas. Kondisi itu membuat penolakan terhadap rencana proyek geothermal kembali menguat.

Keluhan tersebut disampaikan perwakilan Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, Ari Setianto, saat mengikuti aksi Jateng Guyub di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (23/7/2026).

Bacaaja: Dari Orasi ke Irama, Konser Perlawanan di Hari Kedua Aksi ‘Jateng Guyub’
Bacaaja: Massa Jateng Guyub Ruqyah Kantor Gubernur, Tabur Bunga dan Dupa di 8 Penjuru

Ari mengatakan, penolakan terhadap proyek geotermal bukan isu baru. Warga sudah menyuarakan penolakan sejak 2018 ketika proyek masih direncanakan di Tawangmangu. Kini, rencana tersebut bergeser ke Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

“Selama ini di Lawu ada isu geotermal sejak 2018 dan berpindah-pindah lokasi. Sekarang bergeser ke Jenawi. Kami tetap konsisten menolak karena geotermal sampai sekarang belum bisa menjawab persoalan energi, justru masih menyimpan banyak dampak negatif,” katanya.

Menurut Ari, masyarakat belajar dari berbagai proyek geothermal di daerah lain yang dinilai memunculkan persoalan lingkungan, mulai dari berkurangnya sumber air, turunnya kesuburan tanah hingga munculnya lumpur panas.

Namun yang paling membuat warga khawatir, kata dia, kerusakan lingkungan justru sudah mulai terasa bahkan sebelum proyek geotermal berjalan.

Ia menilai pembangunan destinasi wisata yang semakin masif di lereng Gunung Lawu ikut mengubah kondisi kawasan hijau. Banyak objek wisata dibangun di bagian atas permukiman warga sehingga memengaruhi daya dukung lingkungan.

“Yang sekarang kami rasakan justru dampak dari pembangunan wisata. Debit air berkurang, saat musim hujan sekarang muncul banjir. Padahal daerah kami pegunungan dan dulu tidak pernah banjir. Baru dua tahun terakhir ini terjadi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Yuni Olen (48), warga Kemuning. Ia mengaku sumber mata air yang selama ini menjadi andalan warga terus mengalami penurunan debit.

Saat musim hujan, air bahkan berubah keruh sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu juga disebut telah merusak rumah warga.

“Kalau musim hujan sekarang air konsumsi sudah tidak bisa dipakai. Sumber mata air juga turun. Banjir kemarin sampai merusak rumah warga. Yang paling merasakan dampaknya itu perempuan karena mengurus kebutuhan air di rumah,” katanya.

Tak hanya persoalan air, Yuni juga merasakan perubahan suhu di kawasan Tawangmangu. Menurutnya, udara yang dulu identik dengan hawa dingin kini tidak lagi sesejuk beberapa tahun lalu.

Karena itu, warga khawatir jika proyek geotermal tetap dilanjutkan, tekanan terhadap lingkungan di lereng Gunung Lawu akan semakin besar.

“Kami tetap konsisten menolak geotermal sampai kapan pun karena di berbagai daerah proyek seperti ini selalu memunculkan persoalan dan penolakan masyarakat,” tegas Ari. (dul)

You Might Also Like

11 Hari Jelang Sidang Putusan, Sudewo Kembali ‘Merengel’ Minta Bebas

Agustina: Wayang Sudah Jadi Napas Kota Semarang

Kapolda Jateng Ribut Digeser Kapolri Baru, Penggantinya Roy Hardi

MinyaKita Bau Solar Bikin Heboh, Warga Klaten Ramai Minta Penggantian Serentak

BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat Akhir September

TAGGED:banjirGeotermalGeothermalgunung lawukerusakan lingkunganlereng gunung lawupembangunan wisatawarga
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Resah Menjelang Agustus
Next Article Saat Media Sosial Menggerus Fokus dan Kesehatan Mental Remaja

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

KHUSYUK - 1.328 hafiz dan hafizah menggelar khataman Alquran bareng di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonosobo pada puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini mengantarkan Wonosobo raih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Keren! Wonosobo Raih Rekor MURI pada HSN 2026, 1.328 Hafiz dan Hafizah Khataman Alquran Bareng

LATIHAN TANGANI INSIDEN: Petugas Bandara Ahmad Yani Semarang sedang latihan menangani insiden kebakaran pesawat. (ist)

Bandara Ahmad Yani Latihan Tangani Kecelakaan Pesawat dan Kebakaran

Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya (DWS).

Dari Taruna Nusantara TN5 hingga Senayan, Uniknya Perjalanan Karier Politik Danang Wicaksana Sulistya

PABRIK OBAT KERAS - Pejalan kaki melintas di depan pabrik obat keras ilegal berkedok pabrik botol dan pabrik kardus di Jalan Indronoto, Dusun II, Desa Wirogunan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (22/10/2026).

Pabrik Obat Keras di Sukoharjo Digrebek Polisi, Pemdes: Bilangnya Pabrik Kardus

Tedjowulan Belum Akui Purboyo dan Hangabehi, Ini Respons Keduanya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Ospek Maba UPGRIS Angkat Konflik Agraria, Caping Jadi Simbol Sikap

September 22, 2026
Hukum

Bukan Cuma Garam, Jetis Punya “Harta” dari Bibir Pantai Purworejo

September 4, 2026
Info

Muktamar NU Digelar, Makam Gus Dur Buka 24 Jam

Agustus 24, 2026
Ekonomi

“Pak Rahman”, Jurus Pemkot Jinakin Harga Pangan

November 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Geotermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?