Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Resah Menjelang Agustus
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
OpiniPolitik

Resah Menjelang Agustus

Redaktur Opini
Last updated: Juli 24, 2026 12:57 pm
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N adalah mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

Yang viral seringkali hanya mengalihkan isu. Agustus tahun lalu, tepat sebelum meledaknya demonstrasi, berita yang bersaing viral justru perceraian seorang publik figur.

Bayangkan bila suatu hari nanti segalanya menjadi mudah. Bukan karena teknologi, melainkan masyarakat yang ramah-tamah dan kondisi ekonomi masyarakat yang memuaskan. Yang miskin berkesempatan menjadi mapan, dan yang mapan tidak rakus akan kekuasaan. Apakah bayangan itu mustahil? Tentunya tidak ada batasan untuk bermimpi. Bahkan mimpi Merdeka 100% pun bukan sekadar angan kosong.

Sebentar lagi Indonesia menemui hari jadinya. Biasanya dirayakan dengan rangkaian lomba sebagai cara mengenang perjuangan para pahlawan. Padahal untuk mencapai kemerdekaan, ada perang dingin di antara para pahlawan. Kala itu mereka berdebat tentang arah negara ini.

Soekarno dengan gagasan Nasakomnya, S.M. Kartosuwiryo dengan gagasan negara Islam sebagai penolakan penjajahan, juga D.N. Aidit dan Muso yang ingin menciptakan masyarakat komunal tanpa penindasan. Kenyataannya, semua gagasan itu berakhir pada pertumpahan darah.

Hakikatnya, merayakan kemerdekaan hanya dengan lomba adalah ketidakpedulian terhadap masa lalu. Meminjam istilah Soekarno, kita telah melupakan “JAS MERAH”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab saat itu yang berlangsung adalah pertarungan politik demi kepentingan khalayak, bukan seremoni tahunan.

Sayangnya, semangat itu tak berlanjut hingga kini. Politik hari ini kian suram. Kita hidup dalam politik abu-abu. Benar dan salah sukar dibedakan karena informasi telah dikuasai oligarki demi melanggengkan kekuasaannya.

Dominasi ini bukan tuduhan abstrak, melainkan pola yang berulang. Yang viral seringkali hanya mengalihkan isu. Agustus tahun lalu, tepat sebelum meledaknya demonstrasi, berita yang bersaing viral justru perceraian seorang publik figur. Padahal ketika itu ada sopir ojek online bernama Affan yang tewas dilindas kendaraan aparat.

Pola serupa terlihat pada saat isu konflik di Papua kembali mengemuka. Pembabatan hutan pemicu pemanasan global tenggelam oleh gemuruh pemberitaan swasembada pangan. Fenomena ini bukan konspirasi yang direkayasa, melainkan cerminan ekosistem media yang didikte logika kapitalisme.

Algoritma lebih memihak sensasi clickbait ketimbang isu substantif seperti kekerasan aparat. Begitulah hegemoni kapitalisme bekerja: bukan lewat sensor terbuka, tapi seleksi diam-diam atas apa yang layak menjadi perhatian rakyat.

Pola ini tampak pula dalam kebijakan. Banyak program kerja tak menjawab masalah nyata rakyat. Apakah ini negara rakyat, atau negaranya penguasa? Yang terbaru, laporan Kompas “Anggaran Dipotong Drastis, Perpusnas Tak Bisa Bagikan Buku Lagi ke Masyarakat” mengungkap anggaran Perputakaan Nasional yang dipangkas hampir separuh, dari Rp721,7 miliar (2025) menjadi Rp377,9 miliar (2026).

Dampaknya pembagian buku ke desa, taman bacaan, lapas, dan puskesmas terpaksa dihentikan. Bandingkan dengan anggaran Program Makan Bergizi Gratis yang mencapai ratusan triliun rupiah. Ratusan kali lipat anggaran Perpusnas. Ketimpangan ini menunjukkan ke mana prioritas negara diarahkan. Proyek besar yang tampak di panggung jadi primadona. Tidak berpihak kepada dunia literasi yang diam-diam menumbuhkan nalar kritis rakyat.

Sayangnya kita tak bisa melawan kekuasaan timpang ini semata dengan pikiran. Ada hal konkret yang bisa dilakukan. Beberapa contohnya ialah, teori Murray Bookchin dan praksis nyata seperti gerakan Zapatista (Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) di Meksiko.

Bookchin berpandangan rakyat harus membangun ekonomi tandingan di luar kendali penguasa. Tujuannya agar rakyat tak terus ditindas oligarki. Praksis serupa dilakukan Zapatista melalui pergerakan akar rumput. Mereka membangun kedaulatan bagi rakyat, bukan demi kepentingan segelintir pihak.

Gagasan ini tak melulu mengawang di Meksiko sana. Serikat Petani Indonesia telah mendirikan Bank Benih di Bogor dan ratusan Koperasi Petani, agar kelak petani lepas dari ketergantungan pada benih dan tata niaga korporasi. Koperasi tersebut juga dikelola sendiri oleh dan untuk mereka sendiri. Inilah wujud nyata ekonomi tandingan Bookchin di bumi pertiwi.

Bayangkan jika model ini diperluas. Dokter, guru, buruh, dan petani, tak lagi bekerja demi satu orang atau perusahaan, melainkan demi kepentingan kolektif yang mereka kelola bersama. Bukankah kedamaian dan kemakmuran yang akan menyambut? (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

PDIP Jateng Pasang Target Ambisius: Tiap PAC Wajib Punya 500 Kader, Bidik Menang Total di 2029

Karang Taruna Jateng Dikasih PR Baru: Kawal Desa, Lawan Kemiskinan!

Pilgub Masih Lama, Jateng Mulai Nabung Biar APBD Nggak Kaget

Kas Semarang Aman, Target Hampir Kesentuh

Transisi Energi atau Transisi Bencana?

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PENGECEKAN JARINGAN - Pekerja sedang melakukan pengecekan jaringan backbone (JB) sekaligus perbaikan infrastruktur fiber optik pada jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Kebumen–Kentungan yang berada di wilayah Jenar Wetan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Jaga Stabilitas Layanan Digital, PLN Icon Plus Inspeksi Jalur Backbone SUTT Purworejo
Next Article Geotermal Belum Jalan, Warga Lawu Sudah Rasakan Dampak Lingkungan: Banjir Jadi Alarm

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dicari, Komisioner KI  yang Bukan Sekadar Pintar tapi juga Bisa Kerja Bareng

Seluruh Jalur Pendakian Gunung di Jateng Diminta Tutup Sementara

KHUSYUK - 1.328 hafiz dan hafizah menggelar khataman Alquran bareng di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonosobo pada puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini mengantarkan Wonosobo raih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Keren! Wonosobo Raih Rekor MURI pada HSN 2026, 1.328 Hafiz dan Hafizah Khataman Alquran Bareng

LATIHAN TANGANI INSIDEN: Petugas Bandara Ahmad Yani Semarang sedang latihan menangani insiden kebakaran pesawat. (ist)

Bandara Ahmad Yani Latihan Tangani Kecelakaan Pesawat dan Kebakaran

Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra, Danang Wicaksana Sulistya (DWS).

Dari Taruna Nusantara TN5 hingga Senayan, Uniknya Perjalanan Karier Politik Danang Wicaksana Sulistya

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Desember 4, 2025
Daerah

Soal Kriminalisasi Dokter, Dimas Pasang Badan dari Purbalingga

Desember 13, 2025
Nasional

Arah Baru MBG Dipertegas, Anak Kurang Gizi Diprioritaskan

April 15, 2026
Opini

Tubuh Mahasiswa Bukan Wilayah Otoritas Akademik

Mei 18, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Resah Menjelang Agustus
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?