Muhammad Fiam Setyawan adalah pemerhati isu lingkungan. Tinggal di Laweyan, Surakarta.
Tanpa Kartasura, Surakarta mungkin tidak akan pernah ada dalam bentuk yang kita kenal sekarang.
Kartasura ibarat daerah yang seringkali samar. Padahal lokasinya sangat strategis. Secara geografis, Kartasura masuk ke dalam Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Tempat ini berada di pertemuan jalur Solo-Semarang dan Solo-Yogyakarta. Tentu, tidak heran jika Kartasura sering dipakai untuk singgah sebelum lanjut ke tujuan utama. Daerah ini juga memiliki banyak tempat untuk mengisi kembali kebutuhan perjalanan, ada banyak supermarket, pasar, atau tempat makan berjejeran.
Uniknya lagi, Kartasura juga menjadi tempat bagi kampus yang malu-malu mengakui daerahnya; UIN Raden Mas Said Surakarta. Iyaa, Surakarta. Tapi, warga sekitar akrab memanggil kampus itu dengan julukan STAIN Pucangan. Karena memang letaknya di desa Pucangan, Kartasura. Lewat kampus itulah, saya menemukan satu hal yang terselip di daerah ini. Ia adalah Keraton Kartasura. Keraton yang mempunyai sejarah singkat tapi punya makna mendalam. Jika sedang melewati daerah ini dan masuk ke desa Ngadirejo, kalian akan menemukan satu benteng peninggalan keraton yang masih berdiri hingga hari ini –walaupun kondisinya mengkhawatirkan.
Sejarah yang tersembunyi di balik tempat persinggahan ini adalah sejarah yang harus dipugar kembali. Kartasura memiliki sangkut-paut yang erat dengan Keraton Surakarta, bahkan ada isu adanya nama Surakarta merupakan kebalikan dari Kartasura. Sayangnya, nasib Keraton Kartasura tenggelam dan kalah pamor. Padahal daerah ini adalah cikal bakal munculnya sejarah besar kerajaan yang masih eksis hingga hari ini.
Sebelum Surakarta bersinar menjadi pusat kerajaan, ia hanyalah desa kecil bernama Solo. Cikal bakalnya lahir dari rentetan peristiwa yang berpusat di Kartasura. Keraton Kartasura sendiri berdiri pada masa Amangkurat II. Daerah ini dipilih karena posisinya strategis dan lebih aman dibanding Plered yang sebelumnya menjadi pusat Mataram Islam. Namun, perjalanan Kartasura tidak begitu mulus.
Pada 1740, terjadi Geger Pecinan. Sebuah pemberontakan besar yang melibatkan komunitas Tionghoa yang tertekan oleh kebijakan VOC Belanda. Pemberontakan itu menjalar sampai ke Kartasura. Keraton diserang, dihancurkan, dan sebagian wilayahnya porak-poranda. Serangan itu membuat Kartasura kehilangan kewibawaannya sebagai pusat kerajaan. Secara politik dan spiritual, tempat itu dianggap “tidak layak” lagi dijadikan pusat pemerintahan.
Akibat hantaman sejarah tersebut, raja dan para bangsawan akhirnya memutuskan memindahkan pusat kerajaan ke sebuah wilayah yang masih berupa desa, yaitu Solo. Desa itu kemudian berkembang, direncanakan ulang, dan dibangun menjadi pusat kekuasaan baru. Di sanalah Keraton Surakarta lahir, dan dari sanalah babak baru Mataram Islam berkembang.
Tanpa Kartasura, Surakarta mungkin tidak akan pernah ada dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Sekarang Kartasura mungkin meredup, tetapi redupnya justru menjadi pijakan bagi berdirinya pusat kerajaan yang lebih stabil. Itulah ironi sejarah: kadang pusat kekuasaan harus runtuh agar yang baru dapat berdiri lebih kokoh lagi.
Di sisi lain, benteng Keraton Kartasura adalah bukti bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia masih berdiri, meski sebagian seperti “berdiri dengan satu kaki.” Temponya lambat, kondisinya memprihatinkan, dan jejak kejayaannya hanya tinggal imajinasi. Pada beberapa bagian, benteng itu runtuh, retak, atau berubah fungsi menjadi tembok belakang rumah warga.
Yang lebih tragis, ada bagian dari benteng yang rusak bukan karena usia, tetapi karena ulah oknum tak bertanggung jawab. Lobang-lobang besar menganga akibat pembongkaran batu bata. Sejarah mulai dijual, dan masa lalu dirusak oleh tangan yang lebih sibuk mencari untung daripada menjaga warisan. Benteng yang dulu melindungi raja, kini tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
Baru pada tahun 2022, benteng Keraton Kartasura mendapat pencatatan resmi sebagai cagar budaya. Status itu seperti tiket masuk agar peninggalan ini tidak terus dibiarkan merana. Dengan label itu, pemerintah punya dasar kuat untuk melakukan perlindungan, penataan, dan yang paling penting pemugaran. Rentang waktu menuju tahap pemugaran memang panjang dan penuh kendala, tapi setidaknya ada niat baik yang tidak berhenti di tengah jalan.
Pada tahun 2025 ini, upaya pemugaran kembali dimulai. Pemugaran ini bukan sekadar memperbaiki tembok, tetapi mengembalikan ingatan kolektif masyarakat tentang tempat yang dulu sangat penting. Pemugaran benteng Keraton Kartasura bukan hanya upaya merawat ingatan atas masa lalu, tetapi menjaga agar identitas sejarah tidak hilang ditelan modernitas.
Pada akhirnya, Kartasura mendapat “kesempatan kedua” untuk dikenang. Bukan dalam bentuk kejayaan politik, tetapi sebagai ruang belajar bahwa sejarah tidak berhenti saat kerajaan runtuh. Sejarah bertahan selama kita mau merawatnya. Kartasura adalah sejarah yang nyaris hilang karena kurang dirawat, kurang diperbincangkan, dan kurang diberi tempat dalam narasi besar Jawa. Namun, melalui benteng keraton yang perlahan dipugar dan perhatian baru terhadap masa lalunya, Kartasura kembali menemukan ruang dalam ingatan kolektif kita.
Pada akhirnya, merawat Kartasura bukan hanya tentang memuliakan masa lalu, tetapi mengakui bahwa sejarah tidak boleh dibiarkan tenggelam dalam kesibukan modernitas. Sebab sebuah bangsa hanya bisa berjalan tegak jika ia tahu jejak di belakangnya. Dan Kartasura, dengan segala tragedi dan perannya dalam sejarah Mataram Islam, adalah salah satu jejak yang penting untuk dijaga.
Ketika melewati Kartasura, kita tidak hanya singgah untuk mengisi kebutuhan selama di perjalanan, tapi juga melintasi sejarah besar Mataram Islam. Sebuah ingatan kolektif yang harus dibangun kembali agar Kartasura tidak kehilangan sejarahnya sendiri.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

