BACAAJA, SEMARANG- Dialek Semarangan nggak lahir dari ruang kelas atau dari balik tembok keraton. Bahasa khas wong Semarang berkembang di tempat-tempat yang penuh obrolan rakyat.
“Di Semarang itu karena sebagai bahasa tutur dulu berkembang di terminal, di pasar, di stasiun, kemudian di seputar gedung-gedung bioskop,” kata pemerhati bahasa, Hartono Samidjan saat ditemui di rumahnya, Kamis (14/5/2026).
Hartono bercerita, Semarang zaman dulu punya sekitar 32 gedung bioskop. Bioskopnya berdiri sendiri, tidak numpang di dalam mal seperti sekarang. Di sekitar bioskop itu biasanya ada halaman luas dan deretan warung tempat orang nongkrong sambil nunggu film diputar.
Baca juga: Dialek Semarangan Ternyata Cuma Hidup di Lima Kecamatan
“Karena dulu transportasi masih susah, paling naik sepeda atau naik angkot sehingga orang datang lebih awal sebelum jam pertunjukan,” ujarnya. Dalam momen itulah obrolan ngalor-ngidul terjadi, menggunakan kosakata dan gaya bicara Semarang. “Nah, ketika menunggu pertunjukan film dimulai, terjadilah dialog. Di situlah bahasa Semarangan berkembang,” katanya.
Fenomena serupa juga terjadi di pasar tradisional. Tapi menurut Hartono, sekarang ruang-ruang sosial seperti itu mulai hilang karena kebiasaan masyarakat ikut berubah.
“Sekarang pasar sudah sepi, orang belanja online. Bioskop juga sudah menyatu dengan mal,” ujarnya. Menurut dia, dialek Semarangan selama ini berkembang sebagai bahasa tutur, bukan bahasa tulis. Akibatnya, banyak penulisan kosakata Semarangan jadi semrawut.
Arti Berbeda
Misalnya kata “loro” yang bisa punya dua arti berbeda. Bisa berarti sakit, bisa juga angka dua. “Kalau sopo sing loro? ditulisnya pakai ‘o’ artinya jadi dua, tidak pas. Kalau sakit harusnya pakai ‘a’ atau ‘lara‘,” jelasnya.
Hartono lalu mencontohkan asal-usul nama kampung Petolongan di Semarang. Menurut dia, nama aslinya dulu sebenarnya “Petalangan” karena pusatnya orang buat talang.
Baca juga: Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar
Namun karena dulu penulisannya memakai huruf Jawa lalu dialihaksarakan secara keliru, nama itu berubah jadi Petolongan seperti sekarang. Di sisi lain, Hartono menyebut dialek Semarangan punya daya serap yang unik.
Siapapun yang lama tinggal atau kuliah di Semarang, lambat laun bakal ikut ngomong ala wong Semarang. “Orang Ambon, orang Batak, orang mana pun pada akhirnya akan berbahasa (dialek) Semarangan,” katanya.
Mungkin itu sebabnya dialek Semarang susah punah. Selama masih ada tongkrongan, warung kopi, dan obrolan receh tengah malam, bahasa ini bakal tetap hidup, meski bioskop legendarisnya sekarang sudah kalah sama suara notifikasi belanja online. (bae)

