Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dialek Semarangan Ternyata Cuma Hidup di Lima Kecamatan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Dialek Semarangan Ternyata Cuma Hidup di Lima Kecamatan

Selama ini banyak orang mikir semua wilayah Kota Semarang otomatis punya dialek Semarangan. Padahal kenyataannya nggak sesimpel itu. Menurut pemerhati bahasa semarangan Hartono Samidjan, Semarang “asli” ternyata cuma hidup di lima kecamatan lawas. Sisanya? Sudah campur pengaruh Solo, Kendal, sampai Demak.

T. Budianto
Last updated: Mei 15, 2026 11:33 am
By T. Budianto
3 Min Read
Share
KAMPUNG LAWAS: Kampung Kauman, salah satu kampung lawas di Kota Semarang. Diantara gang-gang sempit perkampungan inilah bahasa Semarangan tumbuh dan berkembang. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Bahasa Semarangan bukan cuma logat tetapi dialek yang punya ciri khas sendiri. Hanya saja wilayah penuturnya ternyata sangat sempit dan nggak menyebar luas seperti dialek Solo atau Banyumasan.

Pemerhati bahasa Semarangan, Hartono Samidjan menjelaskan, bahasa khas wong Semarang itu dulu cuma dipakai di lima kecamatan lama, yakni Semarang Tengah, Timur, Selatan, Barat, dan Utara.

Di luar kecamatan dengan nama lima mata angin, logat dan budaya bahasanya sudah beda. Karena, dalam sejarahnya, kawasan yang sekarang masuk Kota Semarang dulu belum bagian dari wilayah administratif Semarang.

Baca juga: Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar

Hartono lalu menjelaskan, wilayah budaya Semarang berbeda dengan batas administratif Kota Semarang saat ini. Dulu Semarang “asli” cuma berada di kawasan inti kota, di antara dua banjir kanal sampai Bukit Gombel.

Begitu melewati Bukit Gombel, pengaruh budaya Solo mulai terasa. Makanya daerah seperti Banyumanik cara ngomongnya beda dengan wong Semarang lawas. “Di atas Bukit Gombel itu sudah pengaruhnya Solo,” katanya.

Wilayah Budaya

Ke arah barat juga sama. Wilayah budaya Semarang cuma mentok sampai Krapyak. Setelah itu nuansa Kendal lebih dominan. Sementara di timur, batasnya hanya sampai kawasan Kabluk atau sekarang sekitar Jalan Gajah. Lewat dari situ, logatnya sudah berbau Demak. “Jadi cara ngomongnya sudah berbeda dengan yang di Semarang,” jelasnya. Hartono menyebut daerah-daerah pinggiran itu baru resmi masuk Kota Semarang pada 1976. Sebelum ada pemekaran wilayah, Kota Semarang memang cuma terdiri dari lima kecamatan inti.

Baca juga: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri

Karena itu, warga daerah pinggiran dulu juga tidak merasa dirinya orang Semarang. Bahkan orang Banyumanik zaman dulu kalau mau pergi ke Pasar Johar bilangnya “mau ke Semarang”. “Berarti mereka kan merasa dirinya bukan Semarang,” ujar penulis buku Halah Pokokmen: Kupas Tuntas Dialek Semarangan ini.

Fenomena itu yang kemudian membuat Hartono tertarik menelusuri sejarah dialek Semarangan. Ia lalu mengumpulkan arsip keputusan pemerintah soal perluasan wilayah Kota Semarang.

“Ternyata ada sejarah perubahan wilayah administratif. Dari lima kecamatan, menjadi sembilan kecamatan, kemudian sekarang menjadi 16 kecamatan,” jelasnya.

Karena kadang yang lebih susah dipindah bukan papan batas kota, tapi logat yang sudah diwariskan turun-temurun. Dan mungkin sampai hari ini, masih ada warga pinggiran Semarang yang kalau ke Johar di dalam hati tetap merasa: “iki lagi lungo menyang Semarang.” (bae)

You Might Also Like

Ratusan Pendukung Minta Sudewo Dibebaskan

Agustina Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Kiai Pati Ngaku Wali Cabuli 50 Santriwati: Digilir di Samping Kamar Istri, Mayoritas Korban Yatim-Piatu

Harhubnas 2025: Semarang Gaspol Bikin Transportasi Inklusif, Ekonomi Ikut Ngebut

PWI: Bencana Bukan Cuma Angka, Ada Manusia di Baliknya

TAGGED:budaya semarangdialek semaranganhartono samidjanheadlinepemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar
Next Article Bukan Cuma Buat Mudik, Jasela Didorong Jadi Jalur Pangan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

FPP Undip dan Pertamina Bikin KKN Naik Kelas di Pedurungan

Ngaji Pancasila: IKAL Lemhannas Ajak Anak Muda Jadikan Pancasila Gaya Hidup

MINTA MAAF--Pengawal tahanan KPK, Rusli minta maaf kepada massa jika tangannya tak sengaja mengenai Sudewo, Senin (29/6/2026). (bae)

Isu Sudewo Dipukul Bikin Pendukung Marah, Pengawal KPK Minta Maaf: Bukan Maksud Saya Sengaja

Muhammad Jhasani, Lurah Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. (dul)

Langganan Bencana Kekeringan, Kini Jabungan Siapkan Strategi Baru Hadapi Kemarau

MASSA RICUH--Massa pendukung Bupati Pati nonaktif, Sudewo, melembari kayu dan barang sekenanya ke depan pintu masuk pengadilan, Senin (29/6/2026). (bae)

Pengadilan Tipikor Semarang Rusuh, Massa Pendukung Sudewo Jebol Gerbang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Samuel Wattimena: Stop Jalan Sendiri, Yuk Kolaborasi Biar Budaya Lokal Bisa Mendunia!

Agustus 25, 2025
Ilustrasi chip memori. Saat ini, krisis chip memori global sedang melanda, membuat harga gadget berpotensi naik tinggi.
Tumbuh

Krisis Memori Chip Diramal sampai 2030, Alamat Harga Gadget Makin Melambung

Maret 23, 2026
Ekonomi

Nataru Bikin Bandara Ahmad Yani Full Senyum

Januari 6, 2026
Anggota Fraksi PDIP DPRD Provinsi Gorontalo Wahyudin Moridu saat klarifikasi terkait aksi viralnya di sosial media didampingi istri. Atas aksinya yang tidak menghargai rakyat dan negara, Wahyudin kini dipecat PDI-P dan disiapkan PAW. Foto; istimewa.
PolitikViral

Klarifikasi dan Sanksi: Kontroversi Wahyudin Moridu Viral “Rampok Uang Negara”

September 20, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dialek Semarangan Ternyata Cuma Hidup di Lima Kecamatan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?