TAJUK RENCANA
KOTA selalu berubah. Gedung bertambah tinggi, jalan makin padat, kafe tumbuh di setiap sudut, dan bahasa ikut berubah diam-diam tanpa banyak orang sadar. Semarang hari ini mungkin terlihat makin modern, makin rapi, makin urban. Tapi di balik geliat kota yang terus berlari itu, ada satu identitas yang perlahan seperti kehilangan rumahnya sendiri: dialek Semarangan.
Dulu, logat Semarang begitu mudah dikenali bahkan hanya dari satu-dua kalimat. Cara bicara warga pesisir yang ceplas-ceplos, santai, egaliter, dan tanpa banyak basa-basi menjadi warna khas kota ini. Ada partikel-partikel kecil seperti “ik ta”, “ok”, “hek-eh”, “ndha”, “ndhes”, sampai intonasi khas yang terdengar akrab di pasar, gang kampung, warung kopi, terminal, hingga obrolan antartetangga.
Dialek Semarang bukan sekadar cara berbicara. Ia adalah identitas sosial. Ada kehangatan di dalamnya. Ada rasa setara tanpa jarak. Orang Semarang dulu bisa akrab hanya lewat logat. Bahkan umpatan pun sering terdengar lucu, bukan kasar. Dialek itu hidup sebagai perekat sosial warga kota. Namun sekarang, suara itu mulai jarang terdengar.
Generasi muda Semarang hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang seragam. Konten media sosial, budaya influencer, bahasa viral TikTok, hingga gaya bicara para kreator Jakarta dan luar negeri perlahan membentuk cara komunikasi baru. Anak-anak muda kini lebih fasih memakai istilah “literally”, “anjay”, “valid”, atau logat Jakarta ketimbang partikel khas Semarang yang dulu begitu akrab di telinga.
Ironisnya, banyak anak muda Semarang justru mulai merasa logat daerah terdengar “ndesa”, kurang modern, atau tidak keren dipakai di ruang publik. Akibatnya, dialek lokal makin tersisih ke ruang-ruang sempit: obrolan orang tua, percakapan tukang becak, atau sisa-sisa percakapan warga kampung yang masih bertahan. Fenomena ini bukan sekadar soal perubahan bahasa biasa. Ini tentang hilangnya identitas kota secara perlahan.
Bahasa dan dialek sejatinya bukan cuma alat komunikasi. Ia menyimpan sejarah, karakter masyarakat, cara berpikir, bahkan mentalitas sebuah daerah. Ketika dialek Semarang hilang, maka yang ikut memudar bukan hanya kosakata, tetapi juga watak sosial masyarakat pesisir yang terbuka, cair, dan egaliter.
Identitas Sosial
Yang lebih menyedihkan, hilangnya dialek ini terjadi justru di kota asalnya sendiri. Semarang perlahan menjadi kota yang modern secara fisik, tetapi kehilangan “bunyi” khas dari warganya. Anak-anak muda mungkin masih hafal spot nongkrong terbaru di Kota Lama, tetapi tak lagi memahami logat khas yang dulu membentuk identitas sosial kota ini.
Padahal di banyak kota besar dunia, identitas linguistik justru dirawat sebagai kebanggaan budaya. Dialek lokal dipakai dalam festival, konten kreatif, film, musik, hingga ruang pendidikan informal. Sementara di Semarang, dialek lokal malah sering dianggap bahan candaan atau simbol keterbelakangan.
Tentu bahasa akan selalu berkembang. Tidak mungkin generasi sekarang dipaksa berbicara persis seperti generasi sebelumnya. Tetapi perkembangan tidak harus berarti kehilangan akar. Modernitas tidak seharusnya membuat masyarakat malu terhadap identitas bahasanya sendiri.
Sudah saatnya dialek Semarang kembali diberi ruang hidup. Bukan hanya lewat nostalgia, tetapi lewat keberanian menghidupkannya dalam keseharian. Konten kreator lokal, media, komunitas seni, sekolah, hingga pemerintah kota seharusnya mulai melihat dialek Semarang sebagai aset budaya yang layak dirawat, bukan sekadar logat pinggiran.
Sebab, kota tanpa dialek lokal lambat laun akan kehilangan suaranya sendiri. Semua akan terdengar sama, datar, dan seragam. Dan ketika itu terjadi, Semarang mungkin masih punya bangunan tua, wisata estetik, dan pusat kuliner yang ramai. Tetapi identitas paling jujur dari warganya justru sudah tenggelam lebih dulu.
Mungkin suatu hari nanti, anak-anak Semarang hanya akan mengenal kata “ik ta” atau “hek-eh” dari unggahan arsip media sosial dan cerita generasi tua. Saat itu terjadi, kita baru sadar bahwa yang hilang ternyata bukan sekadar logat, melainkan jiwa sebuah kota yang perlahan lupa cara berbicara dengan dirinya sendiri. (*)

