BACAAJA, SEMARANG- Dialek Semarangan bisa dibilang unik. Pemerhati bahasa Semaranganan, Hartono Samidjan, menyebut cara ngomong wong Semarang punya ciri khas yang susah ditemukan di daerah Jawa lain.
Menurut Hartono, yang paling kentara justru semangat egaliternya. Wong Semarang, kata dia, cenderung ngomong tanpa banyak sekat unggah-ungguh seperti budaya Jawa pada umumnya.
“Semangat egaliterismenya tinggi. Karena Semarang ini mayoritas kelas pekerja. Kota industri, kota pelabuhan, pusat kereta api, terus jauh dari keraton,” katanya.
Di budaya Jawa lain, seperti Solo, tata bahasa biasanya ketat. Ada tingkatan ngomong ke orang tua, atasan, sampai orang yang dihormati. Tapi di Semarang, gaya itu lebih cair.
Baca juga: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri
“Walaupun orang Semarang itu tidak kenal basa krama, menyiasatinya dengan ditambahi ‘ipun’. ‘Sirahipun’, ‘sikilipun’ itu sudah dianggap basa kalau menurut orang Semarang,” ujar penulis buku Halah Pokokmen: Kupas Tuntas Dialek Semarangan ini sambil tertawa.
Yang bikin istimewa, ada kata yang di banyak daerah Jawa dianggap kasar, tapi di Semarang malah jadi obrolan sehari-hari. Kata itu: “ndas”. “Sekasar-kasarnya orang Kedu atau orang Solo tidak pernah ngomong ‘ndasmu’. Kalau di Semarang, ‘ndasmu singkirke ngono loh’, itu biasa,” katanya.
Hartono menjelaskan, di daerah Jawa lain kata “ndas” biasanya cuma dipakai buat binatang. Misalnya “ndas pitik”, “ndas kebo”, atau “ndas wedus”. Tapi di Semarang, kata itu bisa dilempar ke orang tanpa dianggap menghina. “Kalau di Semarang biasa itu, bukan kasar itu. Itu hal yang biasa,” lanjutnya.
Kosakata Unik
Selain gaya ngomong yang ceplas-ceplos, Semarang juga punya kosakata unik. Salah satunya kata “jembet” yang dipakai buat nyebut orang penakut. “Ndak tahu asal-usulnya dari kata apa. Pokoknya, ‘wah wong jembete rak karuan’,” ucap Hartono.
Ada juga istilah “ngregudukan”. Kalau daerah lain bilang “gemruduk” atau “berbondong-bondong”, wong Semarang punya versi sendiri yang bikin lidah orang luar kadang keseleo. “Nah, itu nulisnya piye? Susah jenengan,” selorohnya.
Belum lagi istilah “graggreg”. Kata ini muncul dari suara pengeras suara rusak yang bunyinya “grag-greg grag-greg”. Lama-lama dipakai buat nyebut orang yang reseh, ribet, atau sak karepe dewe.
Hartono juga menyinggung sapaan khas Semarang seperti “nda” atau “mek” yang sampai sekarang masih sering dipakai dalam obrolan sehari-hari. “Piye nda, ora tau ngetok ig,” katanya mencontohkan.
Baca juga: Dari Tongkrongan ke Dunia Digital, Dialek Semarang Kembali Dirindukan
Hartono menegaskan alasan kenapa bahasa Semarangan layak disebut dialek, bukan sekadar logat. Sebab, ada banyak kosakata dan karakter budaya yang berbeda dari daerah Jawa lain. “Karena ada beberapa kata yang di tempat lain nggak ada. Terus egaliterisme,” jelasnya.
Menurut dia, budaya bahasa Jawa biasanya punya tingkatan yang ketat. Sementara di Semarang, aturan itu lebih longgar dan cair. “Dari situ akhirnya saya makin mantap bahwa Semarang ini ya tetap dialek sendiri walaupun masih cikal-bakalnya belum sempurna,” pungkasnya.
Buat wong Semarang, ngobrol memang nggak harus terasa resmi. Kadang makin akrab justru makin frontal. Dan mungkin di kota ini, ukuran sopan santun bukan ditentukan seberapa halus pilihan katanya, tapi seberapa tulus orangnya. Karena di Semarang, orang bisa bilang “ndasmu”, lalu lima menit kemudian tetap traktir kopi satu meja. (bae)
Kamus Semarangan :
- asem ik : sejenis umpatan
- atis : dingin (minuman), sejuk (cuaca
- asu : anjing, umpatan
- anggak : gaya, sombong
- atos : keras (omongan)
- badak : bakwan
- bakbuk : impas
- bangjo : lampu pengatur lalu lintas
- balangan : rombengan, barang bekas
- banger : bau tak sedap
- blaik : ungkapan kaget, takut, khawatir
- brompit : sepeda motor
- calam : bapak
- ceng ceng po : teman akrab
- cengli : baik
- CS (ce es) : teman akrab
- ciamik : bagus
- ciak : makan
- coa : omong besar, membual
- coso : bojo
- dayatsu : angkutan kota (dari merek mobil Daihatsu)
- denyom : pacar, cewek, gadis
- entek ting :habis tanpa sisa, kalah besar
- gali : preman pasar atau terminal
- gamjet : tak punya uang, bokek
- galap : balap
- gentho : jagoan
- gethokmen : pura-puranya
- gomdhe : banyak uang
- gomom : rokok
- gondhes : bodoh
- gress : baru
- he’ eh : iya atau mengiyakan
- Ik : akhiran untuk menegaskan kondisi
- Ita-itu : bertingkah, macam-macam
- jelade : duapuluh lima
- jelepuh : sepuluh
- jemet : limapuluh
- kahat : makan
- kakekane : sejenis umpatan
- kamso : bodoh, kikuk, tak bisa ikuti perkembangan
- kangkrengane : bentuk halus dari kakekane
- kas : panggilan akrab untuk pria
- kemaki : sombong
- kempling : mengkilat (barang), cantik (garis, perempuan)
- kenthip : terpencil, jauh, tinggi
- kolir : tak punya apa-apa, miskin
- komble : pelacur
- koplak : bodoh, bertindak semaunya
- koya : bohong, menipu
- krenyeh : jelek (kemampuan orang), kualitas rendah (barang)
- lautan : istirahat makan siang
- lheb : hebat
- cup : sudah memilih, mengincar
- mangpi : lima rupiah
- mayan : lumayan
- mbois : perlente
- mentu, metu : keluar, lewat
- mlengse : tidak pas posisinya
- mudun : turun, datang
- ndha : sapaan akrab
- dhao : terkenal, ngetop, hebat
- ndhobol : asal ngomong, omong tanpa kebenaran
- ndholor : nalar, masuk akal
- ndhoyong : mabuk
- nggasruh : ngawur, tanpa nalar
- ngekek : tertawa ngakak, tertawa lepas
- ngerek : terkenal, kondang, mengerek (bendera)
- ngicu : Ibu
- ngoce : minum minuman keras
- ngothek : bicara lantang
- nggataki : menipu, membohongi
- nggeblas : langsung pergi
- nggonduk : mangkel
- nggelap : pergi tanpa pamit, menghilang
- ngreyen : mencoba yang baru (motor)
- njembling : buncit (perut)
- mbojo : pacaran
- nyamari : mengkhawatirkan
- nyari : merayu, mendekati orang yang ditaksir
- nyetut : mencuri, mengambil barang orang
- pemes : pisau silet
- prayis : polisi
- raimu : wajahmu (umpatan)
- reka rekane : pura-puranya
- reti : mengetahui
- rewo-rewo : gerombolan
- sakbajek : sangat banyak
- sali : banyak uang
- sangar : menakutkan
- sarakke : karena
- sebeh : bapak, ayah
- sebehan : guna-guna
- semeh : ibu
- sengak : bau apek, omongan yang menyinggung perasaan
- silir : sejuk, banyak angin
- stel kendho : bersikap tenang
- stin : kelereng
- stut : sabuk, ikat pinggang
- tek ke, utekke : otaknya, umpatan
- tikel : berlipat
- tinggi : mabuk berat
- udha-undhi : imbang, hampir sama
- ujung-ujung : silaturahmi saat lebaran
- yangyangan : pacaran
Sumber: Buku “Halah Pokokmen: Kupas Tuntas Dialek Semarangan”

