BACAAJA, SURAKRTA- Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mulai serius ngebut wacana ini lewat rapat kerja bareng Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta di Balai Kota, Senin (12/1/2026). Fokus utama rapatnya satu: ngulik skema lalu lintas Jalan Yos Sudarso yang direncanakan jadi jalur wisata terintegrasi.
Rencananya, Yos Sudarso bakal disulap jadi penghubung manis antara koridor Gatot Subroto (Gatsu) dan Kampung Wisata Batik Kauman. Ide ini bukan muncul tiba-tiba. Respati bilang, konsep awalnya lahir dari diskusi bareng Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky dan budayawan Solo, Sardono.
Baca juga: Kawasan Yos Sudarso Dibikin Wisata Jalanan ala Thailand, Wali Kota Solo: Pasti Libatkan Publik
Menurut Respati, Yos Sudarso punya “bahan mentah” yang pas buat dijadikan kawasan wisata, mirip Song Wat Road di Thailand. Inspirasi lain datang dari Jakarta, tepatnya dari cara Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengoneksikan Taman Langsat dengan taman-taman di sekitarnya.
“Saya terinspirasi konsep integrasi yang dilakukan Pak Pramono Anung di Taman Langsat dan Taman Leuser. Itu luar biasa sekali,” ujar Respati.
Perubahan Fisik
Kalau rencana ini jadi, Yos Sudarso nggak cuma ganti label. Akan ada perubahan fisik, mulai dari menghilangkan separator jalan, merapikan jaringan listrik, sampai penataan kawasan biar lebih ramah pejalan kaki. Sementara itu, Dishub Surakarta lagi sibuk bikin simulasi rekayasa lalu lintas, mulai dari opsi satu arah sampai dua arah.
Respati menegaskan, semua masih tahap masak konsep. Belum ada keputusan final soal arah jalan atau skema lalu lintas. Warga dan pelaku usaha sekitar bakal diajak duduk bareng.
“Konsep integrasi ini intinya menghubungkan kampung wisata. Separator dan sistem satu arah itu pasti lewat proses, melibatkan masyarakat. Dishub juga sudah bikin simulasi, tapi ini belum final,” jelasnya.
Baca juga: Soloraya Great Sale 2025, Respati Ardi: UMKM Berperan Besar Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Ke depan, kajian lanjutan bakal digarap Dishub bareng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Respati memastikan suara warga Kauman, Nonongan, sampai pelaku UMKM bakal ikut menentukan arah kebijakan.
“Narasi sejarah di sana kuat. Tokoh-tokoh Kauman, Nonongan, semuanya akan kita libatkan. Pra-rencana ini harus benar-benar matang,” tambahnya. Jadi, sebelum Yos Sudarso berubah jadi spot nongkrong estetik ala luar negeri, satu hal yang pasti: macetnya lagi diajak rembukan dulu. Biar nanti yang ramai cuma wisatawannya, bukan klaksonnya. (tebe)

