Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Sampai Kapan Terpaksa Menjadi “People Pleaser”?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Sampai Kapan Terpaksa Menjadi “People Pleaser”?

Redaktur Opini
Last updated: Mei 7, 2026 10:32 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Nadia Zahrotul Malika, santriwati di PPPTQ Al-Hikmah Tugurejo Semarang.

Tidak ada titik puas yang benar-benar final ketika yang kita kejar adalah validasi dari orang lain.

 

Sulit mengatakan “tidak”? Saya pernah ada di titik itu. Titik ketika mengatakan “iya” terasa jauh lebih aman daripada jujur. Bukan karena saya memang ingin. Tapi karena saya takut. Takut dianggap tidak peduli. Takut mengecewakan. Takut ditinggalkan. Dan dari ketakutan itulah, pelan-pelan saya tanpa sadar membiarkan diri saya dibentuk oleh ekspektasi orang-orang di sekitar.

Ada sebutan untuk orang seperti itu: people pleaser. Terdengar ringan. Tapi bagi yang benar-benar merasakannya, ini bukan sekadar label. Ini adalah kelelahan yang tidak pernah punya nama yang tepat untuk diucapkan. Kelelahan yang tidak terlihat, karena selalu ditutupi senyuman.

Di luar, seorang people pleaser tampak menyenangkan. Selalu tersenyum. Selalu siap membantu. Selalu bilang “iya” dengan wajah tulus. Tapi di dalam, ada tumpukan kata “tidak” yang tidak pernah sempat keluar. Ada kelelahan yang terus menumpuk tanpa ada yang bertanya. Ada perasaan hampa yang muncul bukan karena tidak bersyukur, tapi karena terlalu lama hidup bukan untuk diri sendiri. Dan semakin lama, ia bahkan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ia inginkan karena terlalu sibuk mewujudkan keinginan semua orang.

Seorang people pleaser lebih sering menempatkan kesenangan orang lain jauh di atas miliknya sendiri. Tampak luar memang gamblang. Senyum selalu ada. Bantuan selalu siap. Penolakan hampir tidak pernah terjadi. Tapi di balik itu semua, ada banyak sekali bantahan yang ditelan mentah-mentah. Ada banyak keinginan pribadi yang dikorbankan diam-diam. Dan yang lebih menyedihkan, ia sering tidak menyadari bahwa ia berhak untuk merasa lelah. Bahwa ia berhak untuk berkata tidak. Bahwa tubuhnya pun punya hak atas dirinya sendiri.

Di sinilah saya mulai bertanya pada diri sendiri. Islam mengajarkan empati. Ada hadis dari Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa iman seseorang belum sempurna sampai ia menginginkan kebaikan untuk orang lain seperti yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Islam turun sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Tapi apakah itu berarti kita harus mengiyakan segalanya? Apakah empati berarti kehilangan diri? Apakah menjadi baik harus dibayar dengan tidak pernah jujur?

Saya rasa tidak. Yang dicari dari empati adalah ketulusan, bukan ketakutan. Keduanya tampak serupa dari luar, tapi terasa sangat berbeda dari dalam. Ketulusan memberi dengan lapang. Ketakutan memberi karena tidak punya pilihan lain. Dan people pleaser tanpa sadar, sering kali hidup dari tempat yang kedua. Bukan karena ia tidak baik, justru karena ia terlalu baik sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga butuh dijaga.

Kita sering lupa bahwa kita tidak mungkin bisa membuat semua orang senang. Rasulullah SAW, manusia paling mulia di muka bumi pun masih ada yang tidak menyukainya. Lalu kita, dengan segala kekurangan yang kita miliki, masih berharap bisa memenuhi seluruh ekspektasi manusia? Itu bukan kebaikan. Itu hanya kelelahan yang berkedok kepedulian. Dan kalau kita terus memaksakan diri untuk memenuhi semua itu, yang habis bukan hanya tenaga melainkan adalah diri kita sendiri.

Manusia itu berubah-ubah. Hari ini suka, besok bisa lupa. Hari ini memuji, besok bisa menuntut lebih. Tidak ada titik puas yang benar-benar final ketika yang kita kejar adalah validasi dari orang lain. Kalau kita terus-menerus membuang energi untuk mencari pengakuan mereka, kita tidak akan pernah sampai ke titik yang cukup. Selalu ada ekspektasi baru, selalu ada standar yang bergeser. Dan di tengah semua itu, kita yang paling banyak dirugikan.

Maka bukan tanpa alasan jika kita diajarkan untuk mengutamakan ridha Allah di atas ridha manusia. Karena ridha manusia itu tidak pernah stabil. Ia berubah sesuai suasana hati, sesuai kepentingan, sesuai keadaan. Sementara ridha Allah punya arah yang jelas, jujur, adil, dan ikhlas. Termasuk jujur kepada diri sendiri bahwa kita tidak harus selalu mengiyakan semua hal.

Mengatakan “tidak” bukan berarti kita sombong. Bukan berarti kita tidak peduli., bukan juga berarti kita memutus tali silaturahmi. Justru sebaliknya, menolak dengan lembut adalah bentuk kejujuran yang sehat. Menolak dengan cara yang baik adalah cara kita menjaga diri sekaligus menghargai orang lain dengan cara yang benar. Bukan dengan kepalsuan yang berbalut senyuman. Kebaikan yang terpaksa bukan kebaikan yang sesungguhnya. Ia hanya pertunjukan.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan sikapnya, tapi cara pandangnya. Bahwa menjaga diri sendiri bukan berarti egois. Bahwa punya batasan bukan berarti tidak peduli. Bahwa mengatakan “tidak” pada hal yang memang di luar kemampuan kita adalah bentuk kejujuran yang justru lebih dihormati daripada kepalsuan yang terlihat baik.

Pada akhirnya, saya kembali pada satu kesadaran sederhana, hidup ini bukan panggung drama tempat kita harus terus memenuhi ekspektasi penonton. Menjadi baik itu penting, tapi menjadi baik sambil tetap menjadi diri sendiri itu jauh lebih penting. Kebaikan yang tulus lahir dari hati yang ikhlas. Bukan dari keterpaksaan yang diam-diam menyisakan luka. Dan orang-orang yang benar-benar peduli dengan kita, tidak akan meminta kita untuk mengorbankan diri hanya demi membuat mereka senang.

Jadi, kapan terakhir kali kamu berkata “iya” bukan karena kamu memang mau, tapi karena kamu takut? Mungkin jawabannya bukan tentang berani atau tidak berani. Tapi tentang sudah saatnya kita berhenti mencari ridha manusia yang tidak pernah ada habisnya, dan mulai mencari ridha Allah. Karena pada akhirnya, bukan tepuk tangan mereka yang menentukan hidupmu. Tapi cara kamu menjalani hidupmu dengan jujur, tulus, dan damai. Dan soal mereka yang kecewa karena kamu akhirnya berani berkata tidak? Biarkan waktu yang menjawab.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Ketika Makna Feminisme Dibajak Warganet yang Malas Membaca

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

Manfaat Sambiloto untuk Mengobati Diabetes Melitus

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Abhirama Ranggawarsita 2026: Saat Pangan Bercerita Lewat Linimasa
Next Article Emosi Bocah Meledak Diam-Diam, Rumah Sering Jadi Awal Semua

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Puntung Rokok Dalam Ompreng Bocah, Dapur MBG Langsung Disorot

Daftar Sultan Indonesia Geser-Geseran, Duitnya Bikin Kepala Cenat-Cenut

ilustrasi Ibadah Haji.

Peringatan Calon Haji!! Belum Wukuf Sudah Tumbang, Jamaah Diminta Rem Dulu Tenaganya

Emosi Bocah Meledak Diam-Diam, Rumah Sering Jadi Awal Semua

Sampai Kapan Terpaksa Menjadi “People Pleaser”?

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Desember 5, 2025
Opini

Tidak Seharusnya Logat “Lo-Gue” Menjadi Superior dalam Pergaulan, Apalagi Ini di Semarang

Januari 29, 2026
Opini

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

November 20, 2025
Opini

Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka

November 28, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Sampai Kapan Terpaksa Menjadi “People Pleaser”?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?