BACAAJA, SEMARANG – Kasus kekerasan ekstrem yang melibatkan anak belakangan bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Bukan cuma karena aksinya yang dianggap di luar nalar, tapi juga karena pelakunya masih sangat muda. Publik pun ramai bertanya, bagaimana mungkin seorang anak bisa tega melakukan tindakan brutal, bahkan kepada orang yang dekat dengannya sendiri.
Di balik kasus-kasus yang muncul ke permukaan, ternyata ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Anak yang melakukan kekerasan berat umumnya bukan tiba-tiba berubah menjadi agresif dalam semalam. Ada tekanan, emosi yang menumpuk, hingga lingkungan yang perlahan membentuk cara berpikir dan cara mereka bereaksi terhadap masalah.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana menjelaskan, banyak kasus kekerasan pada anak sebenarnya merupakan akumulasi dari persoalan emosional yang tidak tertangani sejak awal. Menurutnya, ledakan emosi yang muncul hanyalah puncak dari masalah yang selama ini dipendam diam-diam.
Vera menyebut, regulasi emosi anak belum matang sepenuhnya. Di usia pertumbuhan, anak masih belajar memahami rasa marah, kecewa, takut, atau sedih. Karena itu, kemampuan mereka untuk menahan dorongan emosi, berpikir tenang, dan mempertimbangkan akibat dari tindakannya masih sangat terbatas.
Dalam kondisi tertekan, anak bisa bertindak impulsif tanpa benar-benar memikirkan dampaknya. Apalagi kalau mereka tidak punya ruang aman untuk bercerita atau mengekspresikan isi hati. Banyak anak akhirnya memilih memendam semuanya sendiri sampai emosinya meledak dalam bentuk perilaku agresif.
Situasi makin rumit ketika lingkungan sekitar justru memberi contoh buruk. Anak dikenal sebagai peniru ulung. Apa yang mereka lihat setiap hari perlahan dianggap sebagai hal biasa, termasuk cara menyelesaikan konflik dengan bentakan atau kekerasan.
Menurut Vera, jika di rumah kekerasan dianggap sebagai cara cepat menyelesaikan masalah, anak bisa tumbuh dengan pemahaman bahwa tindakan kasar adalah respons yang efektif. Dari sinilah pola perilaku agresif bisa terbentuk tanpa disadari oleh keluarga sendiri.
Paparan kekerasan yang terjadi berulang juga punya dampak besar terhadap cara pandang anak. Tidak harus selalu mengalami langsung. Menyaksikan pertengkaran keras, ancaman, atau perlakuan kasar di rumah bisa meninggalkan luka psikologis yang dalam pada anak.
Di sisi lain, tekanan emosional yang terus menumpuk sering menjadi bom waktu. Anak yang merasa dipermalukan, tidak dihargai, sering dimarahi, atau hidup dalam ketakutan berpotensi mengalami ledakan agresi ketika emosinya sudah tidak tertahan lagi.
Vera menjelaskan bahwa trauma yang tidak ditangani dapat mengubah respons emosional anak terhadap situasi tertentu. Anak bisa menjadi sangat sensitif, mudah marah, atau merasa perlu melawan untuk mempertahankan diri, meski dengan cara yang berbahaya.
Faktor keluarga juga disebut sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku anak. Konflik rumah tangga berkepanjangan, pola komunikasi yang kasar, disiplin terlalu keras, hingga pengawasan yang minim dapat memperburuk kondisi emosional anak dari waktu ke waktu.
Belum lagi tekanan ekonomi dan masalah kesehatan mental orangtua yang kadang ikut menciptakan suasana rumah penuh ketegangan. Dalam kondisi seperti itu, anak bisa merasa tidak aman secara emosional dan kehilangan tempat untuk mencari perlindungan.
Vera menegaskan, anak yang melakukan kekerasan ekstrem tidak selalu mengalami gangguan kejiwaan berat. Banyak orang langsung mengaitkan perilaku agresif dengan gangguan mental, padahal penyebabnya bisa jauh lebih kompleks.
Memang ada beberapa kondisi klinis yang dapat meningkatkan risiko perilaku agresif, seperti gangguan perilaku atau masalah regulasi emosi. Namun dalam banyak kasus, kekerasan lebih sering muncul akibat tekanan psikologis yang terus menumpuk tanpa penanganan yang tepat.
Karena itu, perubahan perilaku anak sebaiknya tidak dianggap sepele. Orangtua dan guru perlu lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul sebelum semuanya terlambat.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai misalnya ledakan marah yang makin sering, kebiasaan merusak barang, mengancam orang lain, atau munculnya sikap dingin dan kehilangan empati secara drastis.
Ada juga anak yang mulai terobsesi dengan tema kekerasan, fantasi balas dendam, hingga sering membenarkan tindakan kasar lewat ucapan atau unggahan di media sosial. Perubahan seperti ini sering dianggap fase biasa, padahal bisa menjadi alarm serius.
Selain itu, anak yang tiba-tiba menarik diri dari lingkungan, sulit fokus di sekolah, atau menunjukkan perubahan perilaku ekstrem juga perlu mendapat perhatian lebih. Kondisi emosional yang terus dibiarkan bisa berkembang menjadi tindakan yang tidak terkendali.
Soal pengaruh gim, film, dan media sosial, Vera menilai konten kekerasan memang bukan penyebab utama. Namun paparan semacam itu dapat menjadi pemicu tambahan jika anak sudah memiliki masalah emosi, trauma, atau konflik keluarga sebelumnya.
Anak yang impulsif dan kurang pengawasan lebih mudah terpengaruh oleh konten agresif yang mereka konsumsi setiap hari. Karena itu, pendampingan dari orangtua tetap menjadi hal penting agar anak punya batasan yang sehat dalam menyerap informasi.
Saat anak mulai menunjukkan perilaku agresif, langkah pertama yang disarankan adalah mengamankan situasi. Orangtua perlu menjauhkan anak dari benda berbahaya dan menghindari respons yang justru memancing emosi semakin besar.
Vera mengingatkan bahwa menghadapi anak yang sedang meledak emosinya tidak bisa dilakukan dengan teriakan atau adu kuasa. Fokus utamanya bukan memenangkan perdebatan, melainkan membantu anak kembali tenang agar bisa diajak bicara.
Setelah emosi mereda, anak perlu didengarkan tanpa langsung dihakimi. Banyak anak sebenarnya hanya ingin dipahami, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikan isi hatinya dengan benar.
Pencegahan jangka panjang juga penting dilakukan sejak dini. Anak perlu diajarkan mengenali emosinya sendiri, memahami cara mengekspresikan marah secara sehat, serta dibesarkan dalam lingkungan yang hangat namun tetap punya aturan yang konsisten.
Di tengah maraknya kasus kekerasan yang melibatkan anak, perhatian terhadap kesehatan mental dan suasana rumah menjadi hal yang tidak bisa lagi dianggap remeh. Sebab di balik ledakan emosi seorang anak, sering ada cerita panjang yang selama ini luput didengar orang dewasa. (*)

