Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka

Redaktur Opini
Last updated: November 28, 2025 8:04 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Widyanuari Eko Putra, buruh swasta dan periset lepas. Tinggal di Batursari, Demak.

Sebuah masyarakat yang baik, seharusnya bisa mengubah rasa sakit, derita, dan duka, menjadi sesuatu yang berguna.

Bunga, nama sebenarnya, baru kelas lima SD ketika pada suatu pagi ibunya yang masih tertidur, mendadak terdengar seperti mengorok sambil tersengal-sengal, dan setelah itu sejarah mencatatnya sebagai berita duka. Ada yang bilang serangan jantung, seorang lagi bilang itu takdir belaka.

Bunga, juga tentu saja ibunya, menjadi tetangga saya setelah tiga tahun silam saya membeli rumah tidak jauh dari rumah mereka. Saya suka santap telur ayam kampung dadar. Sementara itu Ibu Bunga beternak ayam dan rutin menawarkan telurnya ke siapa saja yang berminat. Istri saya pun kemudian jadi pelanggan. Kami pun jadi mengenal mereka.

Sejak ibunya meninggal, Bunga sering menangis di rumah. Sementara adiknya yang masih tiga tahun ikut-ikutan, berontak kenapa ibunya tak kunjung pulang. Tidak ada seorang anak pun yang tahan sekuat tembok ketika ditinggal mati ibunya.

Istri saya pernah ditinggal mati kucing kesayangannya, dan ia berkabung hampir dua tahun. Kesedihan atas rasa kehilangan secara teoritis mudah dijelaskan oleh teori-teori psikologi, tetapi seringkali sangat sulit untuk dihadapi oleh mereka yang mengalami.

Dan hari ini, kesedihan Bunga dan adiknya kian berlipat ganda. Tepat pukul satu dini hari, ayah mereka tak kuasa menunda kekalahan. Ia menyusul istrinya. Saya baru sampai kantor pada pagi hari ketika lelayu itu masuk ke kotak pesan di telepon. Ada hening sejenak, dan badan rasanya mengambang.

Ayah dan ibu Bunga pergi pada tahun yang sama. Hari-hari setelahnya benar-benar tak akan pernah sama. Bagaimana Bunga bisa memahami nasib yang ia terima? Ia tahu setiap makhluk hidup pasti mati, tetapi di sekolah ia tidak pernah diajari kisi-kisi menghadapi kesedihan ditinggal mati ayah dan ibu sekaligus.

Tentu saya bukan siapa-siapa mereka, sekadar handai taulan biasa. Tetapi kesedihan kadang serupa sampar, ia menular. Saya terus menerus kepikiran Bunga dan adiknya. Tuhan begitu berkuasa dalam segalanya, tapi tetap saja dua anak malang itu menderita.

Kami berdua, saya dan istri, sempat berspekulasi tentang nasib yang terbentang bagi mereka kelak. Istri saya berharap rumah mereka dijual, dan uangnya dipakai untuk biaya di panti asuhan. “Itu lebih masuk akal daripada menyusahkan saudara,” katanya.

Sementara istri saya menyusun berbagai skenario imajinatif atas Bunga, saya terdiam, gagal berlapang dada memaklumi nasib yang menimpa mereka. Jika kehidupan setelah mati benar-benar ada, saya berharap ayah dan ibu mereka masuk surga. Di sana mereka bisa duduk santai sambil memandangi ayam-ayam mereka bertelur dan berkembang biak.

Bunga tak tahu cara meluapkan kesedihan selain dengan menangis sebisanya. Ia menangis karena tak bisa membayangkan hidupnya bakal serupa anak kucing yang telantar di pinggiran jalan pasar yang becek dan bau sampah.

Definisi kesedihan memang tak pernah sama seperti saat kita membuka kamus. Sementara di belahan Bumi sana, pengarang Turki, Orhan Pamuk, menyulih kesedihan menjadi lembaran catatan harian berjudul Istambul: Kenangan Sebuah Kota.

Di buku itu Pamuk bercerita tentang sebuah kota dengan duka kolektif yang menyelimuti masyarakatnya. Duka itu bahkan membayangi hingga jauh melintasi beberapa generasi. Pamuk menyebutnya hüzün, perasaan melankolia dan kesedihan khas orang-orang Istanbul atas kejayaan bangsanya pada masa lalu.

Pada mulanya adalah rasa bangga, dan terkadang jumawa, atas sejarah panjang Istanbul yang merentang lima ratus tahun ke belakang. Kekaisaran Ottoman Islam sebagai asal mula kebesaran Istanbul pada masa lalu, pernah menjadi bangsa yang mumpuni di bidang seni dan arsitektur, pasukan militer, hingga kemudian menjadi pusat perdagangan dunia paling gilang-gemilang.

Sampai kemudian arus balik tiba. Eropa mulai mengokang senjata, dan di tubuh gemuk Ottoman penyakit datang merajalela, dari korupsi, ribut-ribut jatah kursi, hingga pukulan telak akibat perang yang tak berkesudahan. Ottoman tumbang, dan kekalahan itu menyisakan jejak luka sampai sekarang.

Konon, keindahan itu hanya perkara jarak. Istanbul yang menawan adalah tangkapan kamera bagi mereka yang berdiri di kejauhan. “Terjerat di dalam keindahan kota ini dan Bosphorus berarti diingatkan akan perbedaan antara kehidupan diri sendiri yang menyedihkan dan kejayaan masa lalu yang membahagiakan,” tulis Pamuk di catatan hariannya.

Kesedihan itu selalu saja menyelinap di antara gema panjang sirine kapal-kapal yang berlayar di selat Bosphorus. Wajah-wajah murung yang kerap kali bingung hendak menatap ke mana: Barat yang gemerlap atau Timur yang khusyuk. Juga reruntuhan tiang-tiang gedung yang pernah begitu megah.

Yang adiluhung dan yang agung dari Istanbul memang telah tercatat di sejarah. Namun, sejarah pulalah yang justru menjebak mereka dalam menlankolia. Sebab sisa-sisa kejayaan itu justru menjadi tugu pengingat bahwa ia tak akan kembali, dan Istanbul selamanya akan terikat dalam identitas yang ambigu.

Sejauh mata memandang adalah sisa-sisa keruntuhan sebuah bangsa, yang lambat laun menuju sebuah kota modern dan menyerupai Eropa. Sementara di dalam kepala mereka, masih saja mereka mengangankan kembalinya masa kejayaan. Barat dan Timur mengikat erat kedua kaki mereka, tak bisa ke mana-mana lagi.

“Hidup tidak mungkin seburuk itu. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bisa berjalan-jalan di sepanjang Bosphorus,” ucap Pamuk. Pada akhirnya segala pelik kesedihan itu bermuara pada penerimaan. Apa yang kini mereka punya itulah yang mereka cinta.

Sebuah masyarakat yang baik, seharusnya bisa mengubah rasa sakit, derita, dan duka, menjadi sesuatu yang berguna. Bukannya menghindari penderitaan dan hanya mencari senangnya saja. Dari Nietzsche kalimat itu saya pinjam, dan agaknya itu bukan hal yang remeh-temeh.

Pertanyaannya kemudian, berapa banyak di dunia ini sebuah bangsa mampu mengubah duka menjadi daya? Akankah Bunga kelak bahagia? Akankah orang-orang Istanbul sanggup melupakan kesedihan kolektif mereka? Bisakah kita di sini pura-pura bahagia, sementara negara terus-menerus mengirim berita sedih setiap pagi? Terlalu banyak pertanyaan, terlalu sedikit jawaban.

November 2025.

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Lewat KDMP, Negara Justru Bersaing dengan Rakyatnya Sendiri

Bisakah Kita Memulai Revolusi dari Secangkir Kopi?

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Gelombang Job Scam Makin Liar, Indonesia Jadi Target
Next Article CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai. Bos Google Bilang Investasi AI Sudah Lebay dan Irasional, tapi . . .

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Antara Pemenuhan Seksual dan Kepuasan Emosional, Pilih Poliamori atau Open Relationship?

April 21, 2026
Opini

Membaca Sisi Psikologis dan Relasi Manusia pada Kasus Reyhan dan Fara

Maret 13, 2026
Opini

Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian

Maret 19, 2026
Opini

Iman dan Nilai-Nilai Kemanusiaan di Hadapan Ancaman Akal Imitasi

Juni 8, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?