Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

Redaktur Opini
Last updated: November 20, 2025 9:46 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Abdullah Ulul Albab, mahasiswa prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Walisongo.

“Revolusi Prancis tahun 1789 yang megah itu terjadi gara-gara persoalan hak asasi dan kebebasan yang filosofis, serta rakyat jelata yang pada masa itu kelaparan lantaran harga roti melambung tinggi.”

Tidak dipungkiri lagi, apa pun yang kita lakukan di dunia ini akan berakhir pada satu tujuan: makan. Sederhana memang, tapi begitu mendasar. Semua bisa diubah dengan makanan. Sampai-sampai keyakinan pun bisa goyah lantaran terjebak kelaparan. Ini bukan teori kosong, tapi inilah kenyataan yang saya saksikan sendiri.

Yang lebih menarik lagi, ketika saya menjaga Warkop. Di situ ada kawan saya Mas Syauqi, tukang pejual kacang dan penjual risol yang ceritanya selalu bikin saya tergelak sekaligus miris. Dia pernah bercerita soal kehidupan sehari-harinya sebagai pejuang UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Dia ngomel-ngomel soal pendapatan yang dia peroleh lantaran tidak bisa menutup kebutuhan sehari-hari tapi masih cukup bisa buat makan.

“Lah wong saya seharian banting tulang, hujan-hujanan, panas-panasan, sehari dapetnya malah di bawah modal. Kadang juga cuma cukup balik modal. Meski begitu, tetap saya syukuri,” ujar Mas Syauqi sambil menikmati wedang jahe yang ada di warung saya. “Yang penting bisa makan, Mas. Gengsi itu yang bikin kita susah.”

Bukan cuma rakyat jelata seperti kita yang tunduk kepada hukum perut ini. Bahkan orang-orang yang katanya sudah mapan pun sama saja. Saya masih ingat berita tentang seorang pejabat yang tertangkap karena korupsi dana bantuan sosial. Di persidangan, dia bilang uangnya habis untuk biaya hidup mewah yang sudah menjadi kebutuhannya sehari-hari. Mobil mewah, rumah besar, anak sekolah di luar negeri. Semua itu dianggapnya sebagai kebutuhan dasar.

Ternyata definisi “makan” itu relatif bagi masing-masing orang. Buat Mas Syauqi, makan berarti sepiring nasi dengan sayur sederhana. Buat pejabat itu, makan berarti steak di hotel bintang lima meski esensinya sama: semua butuh mengisi perut, cuma takarannya berbeda. Kalau mau melihat ke belakang, sejarah dunia pun bergerak karena urusan perut. Revolusi Prancis tahun 1789 yang megah itu terjadi gara-gara persoalan hak asasi dan kebebasan yang filosofis, serta rakyat jelata yang pada masa itu kelaparan lantaran harga roti melambung tinggi.

Di Indonesia, gejolak sosial tahun 1998 yang berujung pada Reformasi juga tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi yang membuat harga sembako melonjak. Ketika perut lapar sudah tidak bisa ditawar lagi, mahasiswa turun ke jalan. Rakyat ikut bergerak. Dan rezim yang bertahan puluhan tahun itu pun akhirnya jatuh.

Jadi jangan salah, lapar itu pemicu tindakan revolusioner. Ia lebih ampuh dari propaganda politik, lebih cepat dari gerakan sosial, dan lebih jujur dari janji-janji kampanye. Maka jangan heran kalau banyak politisi yang pandai memainkan kartu kemiskinan.

“Dulu saya miskin, orangtua buta huruf, makan seadanya,” begitu kata mereka sambil tersenyum penuh percaya diri di panggung kampanye. Sekarang, setelah jabatan dan kekayaan sudah di genggaman, cerita kemiskinan itu jadi modal untuk menarik simpati.

Di negeri ini, kemiskinan dirawat dan dipelihara dengan baik. Bukan untuk dihapuskan, tapi untuk dijadikan jualan saat pemilu tiba. Ironis memang, tapi begitulah faktanya. Mereka yang mengaku pernah merasakan lapar malah paling jago bikin orang lain tetap lapar.

Saya sendiri kadang merasa munafik saat menulis ini. Di satu sisi saya paham betapa kelaparan bisa mengubah segalanya. Sementara itu di sisi lain saya mencoba berpikir seolah-olah perut saya sudah terjamin sampai esok hari. Padahal kenyataannya, kalau esok saya tak punya uang untuk makan, saya mungkin akan melakukan hal yang sama, yaitu mengabaikan prinsip hidup demi sesuap nasi.

Yang jelas, hidup ini memang berputar pada lingkaran yang sama: kerja, cari uang, makan, lalu kerja lagi. Begitu seterusnya sampai kita mati. Dan yang paling tragis adalah ketika kita sadar bahwa semua yang kita kejar itu, dari gelar, jabatan, hingga harta, semua itu pada akhirnya agar kita bisa makan dengan lebih layak.

Karena perut kosong seringkali membuat kita tidak bisa berkompromi dengan idealisme. Dan kelaparan adalah guru yang paling jujur dalam mengajarkan kita tentang prioritas hidup. Itulah mengapa manusia tidak pernah berhenti berjuang. Bukan karena kita mulia atau ambisius, tapi karena kita semua pada dasarnya tidak ingin kelaparan.

Mau sebijak apa pun kita, mau sealim apa pun kita, mau seidealis apa pun kita, kalau terpojok dalam situasi kelaparan, semuanya punya potensi untuk berubah. Prinsip bisa dilanggar, keyakinan bisa goyah, dan gengsi bisa diinjak-injak. Tak nyaman didengar, tetapi begitulah kenyataannya.

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Demokratisasi Akses Literasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Dasar

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Kisah tentang Ramadan Bagi Orang-Orang yang Tak Punya Pilihan

Isu Pemakzulan dan Pemimpin yang Tidak Mendengar Kritik

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Propam Dalami Keterlibatan Perwira Polisi di Kasus Dosen Untag
Next Article ILUSTRASI IKN - Ilustrasi Ibu Kota Nusantara (IKN) jadi kota hantu. (grafis/wahyu) MK Batalin HGU 190 Tahun di IKN, Rem Tangan Proyek Kebablasan Jokowi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi pemain ebeg saat kesurupan.
Opini

Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan

April 28, 2026
Opini

Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Februari 24, 2026
Opini

Sihir Media Sosial dan Otak yang Pelan Tapi Pasti Menjadi Tumpul

Mei 29, 2026
Opini

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Januari 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?