Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar

Redaktur Opini
Last updated: Agustus 11, 2026 10:33 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Fara Ulyatul Fatma, mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang.

Yang dibutuhkan desa bukan basa-basi soal pemberdayaan. Tetapi kewenangan nyata untuk mengurus rumahnya sendiri.

Jalan desa yang saya lewati bergelombang bukan karena alam iseng menata kontur tanah. Tetapi karena truk sampah lalu-lalang setiap hari menuju gunungan sampah yang bisa meledak sewaktu-waktu. Sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026 saja, tercatat delapan TPA di Indonesia terbakar akibat gas metana yang terperangkap dalam tumpukan sampah open dumping.

Di kiri dan kanan jalan, tumbuhan yang harusnya hijau tampak abu-abu berdebu. Namun, ada satu Ironis yang sudah menjadi adat kebiasaan warga  desa yang saya kunjungi ini . Pemuda desa lebih memilih mempertaruhkan hidup di luar kota daripada menghidupkan tanah kelahirannya sendiri. “

“Masyarakat tidak dapat menentukan nasib desanya sendiri. Kami tidak bisa menentukan nasib desa sendiri,” kata kepala desa itu, saat saya bertanya soal objek wisata milik desa yang kini terbengkalai. Kalimat itu bukan keluhan receh, melainkan cermin dari kondisi yang makin dikonfirmasi angka.

Dana desa nasional turun dari Rp 71 triliun (2025) menjadi Rp 60 triliun (2026), dan sejumlah desa bahkan kehilangan lebih dari separuh anggarannya. Ada yang tinggal 30 persen dari tahun sebelumnya.

Pemerintah pusat menyebut ini “dikompensasi” lewat program Koperasi Desa Merah Putih senilai puluhan triliun. Di atas kertas terdengar rapi, tapi bagi desa yang jalannya masih berlobang dan lampu jalan menyala berkat urunan warga, kompensasi itu terasa seperti janji manis di baliho kampanye: indah dipandang, sulit dicairkan.

Masalah kedua bukan cuma soal uang. Tetapi juga soal siapa yang tinggal untuk menghabiskannya. Data BPS mencatat jumlah petani berusia 65 tahun ke atas naik dari 3,3 juta menjadi 4,7 juta orang dalam satu dekade terakhir. Sementara itu petani muda usia 15–24 tahun cuma merangkak dari 229 ribu ke 363 ribu.

Wajar saja, siapa yang rela jadi petani singkong kalau gengsi kerja kantoran di kota terasa lebih menjanjikan, meski gajinya pas-pasan dan kamar kosnya sepetak? Desa tidak kehilangan penduduknya secara tiba-tiba. Desa kehilangan harapannya pelan-pelan. Dan harapan itu keburu naik bus duluan ke terminal kota.

Tentu ada yang akan membela. Negara juga punya keterbatasan anggaran. Dan pemangkasan dana desa katanya dialihkan untuk hal yang sama-sama menyentuh desa. Tapi kebijakan yang dirancang dari meja rapat di ibu kota, tanpa mengajak kepala desa duduk bersama sejak awal, sulit disebut keberpihakan. Itu lebih mirip perintah yang dibungkus istilah pemberdayaan.

Maka ketika orang ramai bicara soal “peran pemuda membangun desa”, pertanyaan yang lebih jujur bukan mau atau tidak. Tetapi dikasih ruang atau tidak. Percuma anak muda pulang kampung membawa idealisme, kalau dana desa terus dipangkas dan tidak ada ruang tumbuh yang mendukung.

Yang dibutuhkan desa bukan basa-basi soal pemberdayaan. Tetapi kewenangan nyata untuk mengurus rumahnya sendiri. Persoalan sampah, jalan, dan objek wisata yang selama ini cuma jadi papan nama tanpa isi. Karena jalan bergelombang itu, sesungguhnya, adalah metafora paling jujur untuk cara negara memperlakukan desa: dilewati, dibebani, tapi jarang benar-benar diperbaiki. (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Krisis Bikinan Itu Bernama Krisis Sampah

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

Mau Menang atau Kalah, MU Tetap Lucu Bahkan Bagi Saya yang Tidak Terlalu Suka Sepak Bola

Mencari “Pangku” di Kamus-Kamus Lama

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Jateng Banjir Wisatawan, Diserbu 30,95 Juta Orang Plesiran dalam Tiga Bulan
Next Article DEMO--Massa dari kelompok Pati Ora Sepele (POS) berorasi meminta koruptor dihukum berat. (bae) Bakal Rame Terus Nih Sidang Sudewo, Dikawal Fans dan Haters sampai Vonis

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pexi Jateng Usulkan Xiangqi Masuk Popda 2027

Kalapas Purwodadi Kenalkan Layanan Kunjungan dan Kemudahan SDP

KORBAN KERACUNAN - Sejumlah korban keracunan MBG di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapat perawatan medis lebih lanjut, Rabu (23/9/2026).

Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 411 Orang, Menu Dimasak Sejak Pukul 19.30 WIB

Aktivis LBH Semarang Soroti Klaim Geotermal sebagai Energi Terbarukan

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (Tauwas BGN), Ketut Sumedana. (Dok BGN)

Alasan Ungkap BGN Tutup Permanen 4 SPPG, Termasuk Patalan 2 Bantul

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Sihir Media Sosial dan Otak yang Pelan Tapi Pasti Menjadi Tumpul

Mei 29, 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Opini

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

September 21, 2025
Opini

Terjepit di Antara Narasi yang Saling Berbenturan

Juni 29, 2026
Ilustrasi pemain ebeg saat kesurupan.
Opini

Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan

April 28, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Desa yang Diminta Mandiri, Tetapi Dikunci dari Luar
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?