BACAAJA, SEMARANG- Rencana proyek geotermal di kawasan Gunung Ungaran-Telomoyo banyak mendapat penolakan. Salah satunya dari LBH Semarang yang selama ini kerap mendampingi isu kerusakan lingkungan.
Aktivis LBH Semarang, Cornel Gea menyoroti klaim bahwa geotermal merupakan sumber energi terbarukan. Menurut Cornel, geotermal tidak bisa begitu saja disebut sebagai energi yang benar-benar terbarukan.
Sebab, ada batas masa operasi sumur dan persoalan lain yang menurutnya masih bisa muncul selama pembangkit beroperasi.
“Saya kira dia tidak pernah klaim itu tuh, klaim yang dangkal ya, menyebut geotermal itu adalah terbarukan,” kata Cornel, Kamis (24/9/2026).
Cornel menjelaskan, air yang berada di dalam sistem geotermal bisa mengalami perubahan seiring eksploitasi. Selain itu, sumur juga disebut dapat mengalami penumpukan kerak sehingga memengaruhi kemampuan pembangkit dalam menghasilkan energi.
“Efektifnya sebenarnya dia (geotermal) itu hanya bisa beroperasi maksimal mungkin 15 sampai 20 tahun. Jadi, ya enggak benar-benar terbarukan,” ujarnya.
Dia juga menyebut persoalan serupa terjadi pada sejumlah proyek geotermal di berbagai daerah. Cornel menyinggung Sorik Marapi, Dieng, hingga proyek di Maluku sebagai contoh lokasi yang menurutnya memiliki persoalan masing-masing.
Mulai dari kebocoran pipa, pencemaran sumber air, gangguan terhadap pertanian, hingga persoalan keselamatan warga, kata Cornel, menjadi alasan masyarakat di sekitar proyek geotermal perlu waspada.
“Jadi, orang sangat maklum dan sangat wajib untuk khawatir masyarakat sekitar karena yang benar-benar terancam itu hidup mereka. Dan ancamannya itu nyawa, masa depan, sumber mata pencarian,” ujarnya.
Penggunaan Air
Cornel juga menyoroti penggunaan air dalam pembangkit geotermal. Menurutnya, meski kebutuhan airnya tidak sebanyak pembangkit listrik tenaga uap, geotermal tetap membutuhkan air yang berada di wilayah yang selama ini juga digunakan masyarakat.
“Rata-rata dilakukan itu di tempat-tempat petani yang membutuhkan sumber air,” katanya.
Dia menilai kondisi tersebut penting diperhatikan ketika proyek geotermal dikembangkan di kawasan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Sebab, persoalan air bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan pembangkit, tetapi juga pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga.
Cornel juga mempertanyakan solusi teknis yang selama ini ditawarkan untuk mengatasi persoalan dalam proyek geotermal. Salah satunya dengan menerapkan sistem tertutup, termasuk menginjeksikan kembali air ke dalam tanah.
Menurut dia, sistem tersebut sudah digunakan di sejumlah proyek geotermal, tetapi persoalan seperti kebocoran maupun pencemaran menurutnya masih terjadi.
Karena itu, penolakan terhadap rencana geotermal Gunung Ungaran-Telomoyo menurut Cornel bukan semata-mata menolak pengembangan energi.
Kekhawatiran warga lebih berkaitan dengan potensi dampak terhadap keselamatan, sumber air, pertanian, dan ruang hidup masyarakat di sekitar kawasan proyek. Ia menilai berbagai persoalan yang terjadi di proyek geotermal di daerah lain perlu menjadi bahan evaluasi sebelum pengembangan proyek baru dilakukan.
Bagi warga dan aktivis yang menolak, persoalannya bukan sekadar soal panas bumi bisa menghasilkan listrik atau tidak. Yang dipertanyakan adalah bagaimana memastikan sumber air, lahan pertanian, keselamatan, dan ruang hidup warga tetap aman ketika proyek mulai berjalan. (bae)

