Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Terjepit di Antara Narasi yang Saling Berbenturan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Terjepit di Antara Narasi yang Saling Berbenturan

Redaktur Opini
Last updated: Juni 29, 2026 10:48 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N adalah mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

Masyarakat yang tidak diajarkan cara memverifikasi, yang pegangannya hanya “kelihatannya benar”, tidak akan tahu bahwa ada yang sedang dipermainkan.

 

Banjir informasi membikin manusia justru semakin mengalami krisis identitas. Kondisi tersebut sesuai dengan penjelasan yang diajukan sosiolog Zygmunt Bauman. Ia menyebutnya sebagai liquid modernity, yaitu era ketika segala tatanan di dunia menjadi cair, tak berpijak, dan terus berubah.

Namun, di saat bersamaan, ada yang rupanya luput dari amatan. Bahwa sejatinya kekosongan itu tidak pernah dibiarkan kosong. Ia diisi dengan sengaja teratur oleh mereka yang tahu persis betapa berbahayanya manusia yang tengah kebingungan tetapi memiliki keyakinan yang kuat.

Hari ini kita disuguhkan kemudahan akses informasi. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. Segalanya tersaji lewat teknologi informasi di telepon pintar. Namun, di balik kemudahan itu ada konsekuensi yang harus dibayar mahal.

Pada dasarnya, dunia ini terdiri dari dua hal yang saling mendefinisikan, yaitu kebaikan dan keburukan. Kita tidak mungkin menyebut sesuatu itu baik tanpa terlebih dahulu menyatakan yang lain adalah buruk. Namun, pada masa sekarang ini batasan tersebut justru menjadi semakin kabur. Ketika kita melihat sesuatu sebagai hal atau tindakan baik, seketika bisa terbantahkan oleh informasi yang hadir di internet atau medsos. Dari sanalah kerancuan itu dimulai.

Akar persoalannya bukanlah sekadar pada adanya gempuran informasi, melainkan absennya nalar akibat pendidikan yang seringkali hanya menekankan pada hafalan. Itu masih ditunjang oleh hilangnya kompas moral karena nilai-nilai itu hanyalah kostum identitas. Sebuah ruang hampa yang kini dengan mudah diisi oleh berbagai kepentingan.

Ada dua pandangan yang dapat menjelaskan kejadian tersebut. Pandangan agamis melihatnya sebagai bagian dari takdir yang melingkupi makhluk-Nya. Namun, agama tidak berhenti pada percaya dan lalu diam. Ia menuntut sikap. Pandangan filosofis melihatnya sebagai pola yang bisa dibaca.

Setiap masa punya strukturnya, dan siapa yang mampu membaca struktur itu tidak akan mudah terseret. Dua pandangan ini bukan bertentangan. Keduanya menuntut hal yang sama bahwa manusia dituntut tidak boleh pasif.

Dari sanalah tercipta tiga tipe manusia: stagnan, revolusioner, dan sekadar ikut sana-ikut sini. Indonesia hari ini hidup dengan ketiganya sekaligus. Naik kata pemerintah, turun kata masyarakat. Bagi pemerintah semuanya baik-baik saja, bagi yang lain kita sedang berdiri di tepi jurang.

Ambil contoh pengalihfungsian lahan yang tertera dalam film Pesta Babi. Bagi pemerintah, proyek itu adalah gagasan pembangunan. Swasembada pangan. Kemakmuran yang akan datang dengan sendirinya. Juga tiada lagi kelaparan. Namun, masyarakat adat Papua dan para pendukungnya membaca fakta lain. Ternyata hutan tropis yang tersisa tinggal sedikit. Dampaknya makanan pokok mereka jauh berbeda dari yang akan ditanam. Dan proyek serupa sudah gagal di banyak titik sebelumnya. Maka kabar gembira itu, bagi mereka, adalah ancaman.

Dua narasi ini sama-sama beredar. Sama cepatnya, sama meyakinkannya, sama viralnya. Tapi siapa yang punya megafon lebih besar? Siapa yang bisa memastikan narasinya lebih dulu sampai, lebih sering diulang, lebih mudah ditemukan di beranda orang yang tidak tahu-menahu soal kondisi di sana? Masyarakat yang tidak diajarkan cara memverifikasi, yang pegangannya hanya “kelihatannya benar”, tidak akan tahu bahwa ada yang sedang dipermainkan. Mereka hanya memilih kubu, bukan kebenaran.

Itulah wajah asli dari krisis yang kita bicarakan. Bukan sekadar kebingungan melainkan keterjepitan. Terjepit di antara narasi yang berbenturan. Tanpa cukup bekal untuk keluar dari keduanya dengan kepala tegak.

Akar masalahnya bukan pada teknologi, melainkan tumpulnya nalar akibat pendidikan yang sekadar menjejali jawaban. Tanpa prinsip kuat dan daya kritis, sebuah masyarakat akan selalu menjadi korban kebingungan di era informasi.

Harus ada pijakan dan pisau analisis tajam untuk sekadar bertahan hidup dan menemukan kebenaran. Ya, kecuali jika kita menyerahkan sisa kewarasan pada kolom komentar media sosial yang memang dianggap sebagai sebuah pencapaian. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Mereka yang Diam-Diam Mendukung Pelaku Kekerasan Seksual

Menaja Keterkaitan Gula dengan Perayaan Kebahagiaan

Ketika Algoritma Menjadi Perangkat Pendisiplinan Manusia

2016 Called, and We Picked Up Immediately: Nostalgia dan Kerinduan yang Palsu

Sesat Pikir dalam Menilai Profesi Petani

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article LATIHAN MILITER - Sejumlah calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang akan mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad). (DOK. Setjen Infohan Kemhan) Fakta Latsarmil KDMP: 5 Peserta Meninggal, 32 Hamil, 1 Bumil Melahirkan saat Pendidikan
Next Article Aneh, Belajar Kok Sambil Dengerin Musik, Bedah Yuk..

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Jateng Siapkan 10 Ribu Vaksin Rabies Gratis

Dari Coding ke Solusi Nyata, Anak Muda Jateng Adu Inovasi AI

Jateng Kebanjiran Event Lari, UMKM Ikut Panen Cuan

NARASUMBER DISKUSI: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng membahas tentang kreativitas anak muda saat menjadi narasumber diskysi Semarang Creative City Forum di Semarang, Sabtu (26/9/2026). (ist)

Agustina Dorong Anak Muda Semarang Ubah Kreativitas Jadi IP Bernilai Ekonomi

Tak Kantongi Izin Kepolisian, Persiku Kontra PSIS Ditunda

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Orang Jawa Itu Manusia Kerja Sekaligus Manusia Doa

Mei 13, 2026
Opini

Mengapa Kita Bicara Semakin Cepat dan Nyaring?

Juni 2, 2026
Opini

BoP Kesalahan Paling Epik Prabowo

Maret 11, 2026
Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato perdananya dalam Sidang Umum PBB, New York, Selasa (23/9/2025). Foto: dok.
Opini

Pidato Berapi-api di PBB: Momentum Emas atau Janji Manis Prabowo di Panggung Dunia?

September 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Terjepit di Antara Narasi yang Saling Berbenturan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?