Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketidakadilan Terus Terjadi Bahkan Ketika Kita Tengah Tidur Lelap
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ketidakadilan Terus Terjadi Bahkan Ketika Kita Tengah Tidur Lelap

Redaktur Opini
Last updated: April 9, 2026 9:54 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N, mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

Alih-alih merangkul warung-warung kecil yang sudah ada, birokrasi di ini justru menghadirkan raksasa baru yang menjadi pesaing bagi rakyatnya sendiri.

 

Ancaman datang berbarengan dengan keberadaan manusia. Secara naluriah, manusia ingin merasa aman, dan bersamaan dengan itu ada hal-hal yang mereka anggap sebagai ancaman. Hanya saja, yang sulit bagi manusia sebenarnya bukan menghadapi ancaman, melainkan memilih ancaman yang tepat.

Perlu dipahami bahwa ancaman itu bermata dua: membuat kita terdiam dan pasrah atau bergerak tanpa getar. Salah satu wujud dari sikap terdiam dan pasrah adalah merasa aman, dan hal itu bisa menjadi jebakan. Ketika tidak ada perang atau gejolak yang tampak, manusia cenderung menyebut keadaan itu normal.

Walter Benjamin menyebutnya sebagai “katastrof yang tak pernah berakhir”; bahwa status quo itu sendiri adalah bencana. Bukan sesuatu yang menuju bencana, melainkan bencana yang sudah berlangsung setiap hari dan kita terlalu nyaman untuk melihatnya. Maka tidak perlu jauh-jauh mencari contoh:

Lihatlah kebijakan koperasi desa terbaru sebagai contoh konkret “bencana yang berlangsung setiap hari”. Secara administratif, ia mungkin tampak rapi. Tetapi di balik meja birokrasi itu pedagang lokal sedang mati perlahan. Alih-alih merangkul warung-warung kecil yang sudah ada, birokrasi di ini justru menghadirkan raksasa baru yang menjadi pesaing bagi rakyatnya sendiri.

Koperasi yang seharusnya menjadi rumah bagi warga untuk tumbuh bersama malah menjelma menjadi pemangsa yang membunuh usaha kecil demi kelangsungan sistem baru yang rawan korupsi. Inilah wujud ancaman yang lahir dari niat baik yang salah urus.

Lalu, mengapa rakyat tetap diam? Bukan karena mereka tak peduli, melainkan karena gairah melawan telah pelan-pelan digantikan oleh kepatuhan pada rutinitas. Rakyat sesungguhnya tidak sedang tenang, mereka sedang ditidurkan oleh sistem yang membuat ketidakadilan terasa sebagai kewajaran. Padahal setiap manusia lahir dengan impian, ironinya sistem ini sedang membunuh impian itu secara perlahan.

Ambil analogi orang tidur. Mereka akan terlelap bersama malamnya tanpa mempedulikan sekitar. Hanya satu dalam pikirannya: tidur nyenyak dan nyaman. Padahal ada bahaya yang mengancam, entah gempa bumi atau kebakaran. Yang tersisa dalam benaknya hanyalah mimpi, maka yang harus dilakukan adalah bangun.

Bangun dari tidur adalah representasi dari golongan yang mulai membuka mata. Mereka tidak lagi melihat mimpi yang semu, melainkan kenyataan. Adanya api yang berkobar. Bumi yang bergoyang. Dan seperti api yang tidak menunggu kita siap, status quo pun bekerja demikian. Bedanya, ia tidak berbunyi, tidak berbau. Ia hanya terasa seperti hari biasa. Kesadaran akan bahaya status quo itulah yang menuntut kebangkitan besar-besaran, atau yang sering disebut revolusi.

Menurut penuturan Tan Malaka di dalam buku Aksi Massa, revolusi terjadi karena besarnya jurang antara kelas yang memerintah dan kelas yang diperintah. Di desa kita, jurang itu terpampang nyata.

Perhatikanlah! Antara birokrat yang memegang kendali koperasi dengan pedagang kecil yang kian hari tersisih dari tepi jurangnya sendiri. Revolusi dalam konteks ini bukanlah sekadar pemberontakan fisik, melainkan keberanian untuk menarik kembali hak kelola yang telah dirampas oleh meja-meja birokrasi tersebut. Itu adalah buah dari kesadaran yang sudah terlalu lama dibungkam.

Ancaman terbesar yang sesungguhnya bukanlah perang yang menggemuruh. Ia hadir diam-diam dalam sistem yang perlahan merampas ruang hidup kita. Dimulai dari menyingkirkan lapak-lapak pedagang kecil di desa, hingga pada puncaknya mengklaim air, tanah, dan udara sebagai milik sebagian pihak saja.

Ancaman itu bekerja dalam keadaan yang terasa wajar. Dalam ketidakpedulian yang terasa damai. Dalam kemapanan yang terasa aman. Itulah status quo. Dan seperti orang yang terlelap di tengah bahaya, yang perlu dilakukan hanya satu “bangun”. Karena bangun dari tidur adalah kesadaran sejati.

Dan pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan bangun, melainkan sudah berapa lama kita pura-pura tidak mendengar alarm yang seharusnya membangunkan kita? (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Demokratisasi Akses Literasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Dasar

Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan

Banjir yang Naik Kelas: Alarm Keras untuk Tata Ruang Kota Semarang

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Masuk Musim Kemarau, Luthfi Cek Embung dan Irigasi
Next Article “Kericuhan” Warnai Halalbihalal Ketua FPDIP DPRD Kota Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sidat Citanduy Jadi Jalan Baru Warga Sidamukti

Kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Rektor Unsoed Kena OTT, Siapa Tanda Tangan Ijazah?

OMAH KEBOEN--Pengelola sedang memupuk tanaman di Omah Keboen di Jalan Wonodri Sendang Raya, Kota Semarang. (ist)

Hikayat Omah Keboen: dari Bank Sampah Jadi Pertanian Terpadu di Tengah Kota Semarang

PESAWAT CITILINK‐-Pesawat Citilink terparkir di apron Bandara Ahmad Yani Semarang. (ist)

Citilink Tambah Penerbangan Semarang-Jakarta, Pilihan Jam Makin Banyak

PEMERAN UMKM--UMKM mengikuti pemeran produk pada ajang WARASVERSE 2026 di The Park Mall Semarang, 21–23 Agustus 2026. (ist)

Jelang MTQ Nasional di Semarang, Agustina Siapkan UMKM Bersertifikat Halal

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ketika Makna Feminisme Dibajak Warganet yang Malas Membaca

April 2, 2026
Opini

Ke Mana Para Loyalis Itu?

Juli 6, 2026
Opini

Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional

Maret 6, 2026
Opini

Watak Feodalisme dan Patriarki Menyuburkan Praktik “Child Grooming”

Januari 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketidakadilan Terus Terjadi Bahkan Ketika Kita Tengah Tidur Lelap
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?