Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh

Redaktur Opini
Last updated: Maret 3, 2026 8:10 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Prabowo dan Trump tampak akrab. Namun, apakah keakraban itu berbuah keuntungan untuk Indonesia? Tidak juga.

 

Dalam politik internasional, dan juga dalam banyak hal, kedekatan dan hubungan pribadi itu penting. Bahkan sangat penting. Dalam arti positif, kedekatan membangun kepercayaan (trust) dan dari kepercayaan itu bisa dibangun kerja sama yang saling menguntungkan. Dalam arti yang tidak terlalu positif, kedekatan juga bisa bermakna ‘ordal’ atau orang dalam. Hubungan tidak terbangun atas dasar trust tapi transaksional.

Saya menulis artikel berjudul “Proximity Without Leverage? Indonesia’s Risky Bet on Trump’s Board of Peace” di Fulcrum.sg pada 2 Maret 2026 yang membahas tentang hal ini. Saya menyoroti keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace-nya Donald Trump. Dulu argumennya untuk ikut BoP adalah untuk memuluskan perundingan tarif. Namun, itu juga berarti bahwa politik luar negeri Republik Indonesia menjadi condong ke AS.

Presiden Prabowo sendiri memperlihatkan visi kenetralan dalam politik luar negeri Indonesia. Di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss, dia pidato, “Berkawan dengan semua, bermusuhan tidak dengan siapa-siapa.” Namun, begitu habis berpidato, dia bersama-sama dengan Trump dalam pengumuman Board of Peace. Itu terjadi dalam suasana anti-Amerika yang kental dari negara-negara Eropa dan Kanada.

PM Kanada Mark Carney mengucapkan pidato yang amat penting saat di Davos itu. “Yang sekarang terjadi bukanlah transisi (dari sistem internasional lama ke baru) tapi patahan (rupture) yang tidak akan bisa tersambung kembali. Sistem lama tidak akan kembali dan dunia sekarang harus menerima realitas pertarungan antara kekuatan-kekuatan global.” Tidak usah diterangkan bahwa kekuatan baru itu adalah China, yang bersaing untuk pengaruh dan kekuasaan global dengan AS.

Carney menyerukan kerja sama antara negara-negara berkekuatan menengah (middle powers)–seperti negara-negara Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Ini untuk memperbesar pengaruh dan menjadi pengimbang kekuatan dominan global. Indonesia adalah termasuk ‘the middle power‘ seperti yang dimaksudkan oleh Carney. Namun, alih-alih bergabung dan membangun kekuatan itu, Indonesia memilih berdekatan dengan Trump. Apakah ini sebuah pilihan yang benar dan akan menguntungkan Indonesia?

Kita tidak tahu jawabannya yang pasti. Yang jelas, Prabowo berusaha mendekati Trump. Dan Trump pun menyambut, dengan berulang kali memuji serta menggoda Prabowo. Mereka tampak akrab. Namun, apakah keakraban itu berbuah keuntungan untuk Indonesia? Tidak juga. Indonesia memang sangat semangat mendukung Trump. Belum apa-apa, Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengirim pasukan ke Gaza. Cuma masalahnya, belum jelas siapa yang memberi mandat.

Belum jelas siapa yang akan membeayai. Apakah pasukan-pasukan—yang sejak saat persiapan sudah memakan beaya besar itu—akan dibeayai oleh BoP? Ataukah pembeayaannya dari APBN kita, yang nantinya bisa diklaim sebagai “iuran” ikut BoP? Di permukaan bisa jadi Indonesia tidak membayar iuran US$ 1 milyar itu. Tapi dibayar pakai tentara. Pemerintah berutang untuk menjelaskan ini.

Sementara tarif? Hasilnya kita tahu sendiri. Perjanjian dagang yang kita dapatkan dari AS sangat asimetris—AS mendapat jauh lebih banyak dari kita. Trump itu seorang salesman. Dia tahu ‘ngalem’ seseorang dan kemudian morotin duitnya. Sementara kita berlagak seperti serdadu yang selalu berkata, “Siapppp.” Dan, siap mentraktir siapa saja kalau dipuji. Orang Solo pasti tahu arti kata, “umuk.”

Dalam permainan kekuasaan, segala sesuatu bergantung kekuatan. Dan kekuataan itu yang membuat pengaruh. Dalam hal ini, pengaruh adalah membuat pihak lain melakukan apa yang kita maui. Kalau Anda punya kekuasaan, hanya dengan berkedip saja, orang lain akan patuh.

Nah, bagimana dengan Indonesia dan Trump? Sejauh ini, saya melihat bahwa Trump itu adalah “sales minyak ular” (snake oil salesman). Tidak ada satu pun ucapannya bisa dipegang. Dan itu seharusnya sudah diketahui oleh Indonesia sejak dulu. Apa saja yang dipegang oleh Trump, kalau tidak bangkrut ya hasil dari tipu menipu.

Apa yang didapat Indonesia dari Trump dan AS? Tidak ada. Nol. Sementara, kita sudah memberikan begitu banyak. Kita bahkan mengingkari prinsip tradisional yang kita pegang: non blok! Bukan netralitas ala Prabowo (‘friend to all, enemy to none‘). Politik luar negeri kita bebas aktif: tidak terikat pada kekuatan dominan global–seperti kata Carney–dan aktif menunjukkan kepemimpinan negara-negara Selatan, anti kolonialisme, pro-tata internasional yang adil, pro-kerja sama dan bukan konflik.

Itulah. Ketika Prabowo buru-buru bilang akan siap ke Teheran untuk menjadi mediator konflik antara Iran dengan AS-Israel, siapa yang percaya? Apakah Indonesia punya leverage (pengaruh untuk itu)? Kalau saja Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo setia pada garis non blok dan bebas aktif–dengan menjadi pemimpin dari salah satu middle power dari Selatan, tentu negara-negara lain akan segan.

Halah, ternyata Indonesia di bawah Prabowo lebih suka jadi kucing!(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka

Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial

Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?

Beban Ganda yang Harus Ditanggung Masyarakat Kecil

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Asap mengepul di Teheran, setelah militer Israel melancarkan serangan ke Iran, Sabtu (28/2/2026). Media AS Laporkan Arab Saudi-Israel Dorong Trump Serang Iran, Begini Tanggapan Riyadh
Next Article Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas terkena serangan AS-Israel. Garda Revolusi Iran bersumpah siapkan balas dendam. Pesan Terakhir Ali Khamenei Sebelum Gugur Terungkap: Saya Tak akan Pergi!

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

1,2 Juta NIK Diduga Bocor, Pemprov Bilang Aman: “Belum Ada Korban”

WADUK MENGERING: Dampak kemarau panjang di Waduk Botok, Kedawung, Sragen, Jateng beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

BMKG Sebut Kemarau 2026 Punya Pola Tak Biasa

TURNAMEN FREE FIRE - Komunitas e-sport RIKAS bersama Warmindo Mayoritas kembali menggelar turnamen Free Fire Clash Squad 4v4, dengan kuota terbatas hanya 64 tim.

Slot Cuma 64 Tim, Turnamen Free Fire di Warmindo Mayoritas Kembali Dibuka

KEMBALIKAN MAHAR--Kades Kayen, Agus Riyanto (baju batik dan berpeci) menjelaskan pengembalian mahar seleksi perangkat desa, saat bersaksi dalam sidang dugaan korupsi Bupati Pati nonaktif Sudewo di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (22/7/2026). (bae)

Seusai OTT Sudewo, Kades di Pati Bergegas Kembalikan Mahar Seleksi Perangkat Desa

RUWATAN - Massa Jateng Guyub meruqyah atau meruwat Kantor Gubernur Jawa Tengah, sebagai simbol tolak bala atas matinya nurani pemerintah.

Massa Jateng Guyub Kantor Gubernur, Tabur Bunga dan Dupa di 8 Penjuru

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Presiden Prabowo Subianto akhirnya resmi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025. Dalam Prepres ini, Pemerintah bakal menaikkan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya buat guru, dosen, tenaga kesehatan, penyuluh, TNI/Polri, dan pejabat negara.
Opini

Naikin Gaji ASN, Prabowo Main Aman atau Efisien?

September 20, 2025
Kedatangan Jokowi ke kediaman Presiden Prabowo pada Sabtu, 4 Oktober 2025 membuat publik bertanya-tanya. ada apa gerangan sang mantan presiden itu menemui presiden?
Opini

Pertemuan Jokowi–Prabowo: Silaturahmi, Gimmick atau Sinyal Politik?

Oktober 7, 2025
Opini

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Januari 22, 2026
Opini

Meretas Kesadaran Kelas di Tengah Ilusi Ekonomi Pro-Rakyat

April 30, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?