Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ketika Alam Membalas Tuntas
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ketika Alam Membalas Tuntas

Redaktur Opini
Last updated: Desember 2, 2025 7:51 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).

 

Apakah kita masih memiliki rasa hormat terhadap lingkungan sebagai sesama unsur dalam kosmos?

Kabar bencana datang dari Sumatera. Banjir bandang dan tanah longsor jadi sorotan lantaran memakan begitu banyak korban. Sementara itu, di media sosial akhir-akhir ini banyak kita saksikan gambar-gambar air berwarna coklat susu yang membawa glondongan kayu.

Gambar-gambar itu sering diiringi petikan lagu karya Ebiet G. Ade berjudul “Berita Kepada Kawan”.“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.”

Pada konten lain, terdengar pula lagu Iwan Fals “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi” dengan penggalan lirik yang menyayat: “Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu? Oh, mengapa? O… jelas kami kecewa. Menatap rimba yang dulu perkasa. Kini tinggal cerita. Pengantar lelap si buyung.”

Selain itu, muncul pula potongan pidato pejabat yang menyampaikan bahwa sawit juga pohon yang menghasilkan oksigen, sehingga menurutnya perubahan hutan menjadi kebun sawit tidaklah dianggap sebagi masalah serius.

Ada juga pidato seorang menteri yang berbicara bahwa negara-negara maju dulu mengeruk sumber daya alam sebelum mencapai kemajuan, seolah memberi legitimasi bagi eksploitasi.

Bahkan ada seorang ulama, yang seharusnya menjadi penjaga moral, justru tampak membela tambang dengan mengatakan bahwa eksploitasi alam adalah hal lumrah demi kemaslahatan, sambil meremehkan mereka yang ingin alam tetap utuh.

Rangkaian pernyataan pongah dan angkuh itu seperti dijawab secara langsung oleh bencana yang merenggut ratusan nyawa, menggulung mobil dan rumah, serta merusak infrastruktur. Lalu untuk apa, dan untuk siapa sebenarnya eksploitasi yang selalu didalihkan atas nama pembangunan dan kemajuan itu?

Untuk memahami kerusakan ini, saya teringat pada teori-teori yang pernah saya baca tentang cara masyarakat Jawa memandang alam sebagai bagian dari kelengkapan kosmos. Saya rasa meskipun teori ini membincang tentang Jawa, tetapi juga bisa untuk melihat masyarakat Indonesia secara lebih luas.

Alam bukanlah objek. Orang Jawa menempatkan unsur-unsur dalam lingkungannya sebagai sesuatu yang saling melengkapi. Pemisahan seperti muda dan tua, gunung dan laut, siang dan malam, itu semua bukanlah pertentangan, tetapi harmoni yang saling memberi makna.

Karena itulah, manusia dan alam dipahami sebagai unsur yang terhubung. Penjagaan terhadap alam juga tumbuh dari anggapan bahwa alam memiliki unsur ruhani: pohon, gunung, sendang, dan sebagainya (Anderson, 2000: 11).

Jika demikian, mengapa kerusakan alam tetap terjadi? Apakah terjadi perubahan ideologi, ataukah mereka yang memegang pandangan kosmik itu telah tersingkir?

Menilik era Reformasi, penjarahan hutan besar-besaran di daerah Blora, Rembang, dan Kudus justru menunjukkan paradoks: masyarakat merasa berhak mengambil bagian dari alam karena sebelumnya hasil hutan hanya dinikmati pihak-pihak tertentu.

Uniknya, sejumlah pohon-pohon yang dianggap memiliki nilai mitologis tetap dibiarkan berdiri, seperti Pohon Panggung di Sendangmulyo Rembang atau pohon-pohon di sekitar makam Dewi Nawangsih Raden Rinengku.

Mitos tampaknya lebih ditaati daripada hukum. Tetapi itu juga menunjukkan bahwa yang mereka lindungi bukanlah seluruh alam, melainkan bagian-bagian tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

Kenyataan itu semakin terlihat dalam praktik pembangunan hari ini. Di sepanjang Sungai Buyaran Demak, pembersihan sungai dilakukan dengan alat berat. Pohon-pohon yang tumbuh di tepian tidak ditebang terlebih dahulu, tetapi langsung dirusak dengan mesin, meninggalkan dahan-dahan compang-camping. Peristiwa itu memperlihatkan betapa kita tak mampu berterima kasih kepada alam yang selama ini menopang hidup kita.

Kini, ketika bencana berulang dan kerusakan kian tampak, kita seolah dipaksa menengok kembali hubungan manusia dengan alam. Apakah kita masih memiliki rasa hormat terhadap lingkungan sebagai sesama unsur dalam kosmos?

Ataukah kita telah terjebak dalam cara pandang yang hanya melihat alam sebagai bahan baku ekonomi? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kita tidak terus mengulang kesalahan yang sama—kesalahan yang selalu dibayar mahal oleh mereka yang paling dekat dengan sungai, hutan, dan tanah yang rusak.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara

“Western Gaze”, “Eastern Gaze”, dan “Single Story” ala Chimamanda Ngozi Adichie

Banjir yang Naik Kelas: Alarm Keras untuk Tata Ruang Kota Semarang

Mau Menang atau Kalah, MU Tetap Lucu Bahkan Bagi Saya yang Tidak Terlalu Suka Sepak Bola

Bagaimana Mengumpat Menyelamatkan Kita dari Kegilaan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Wakil Ketua DPRD Jateng yang juga Penasehat Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi) Pusat, Mohammad Saleh. (Foto: Ist) M Saleh Minta Pemprov Jateng Gaspol Kembangkan Ekonomi Kreatif
Next Article Jaksa melintas di lobi kantor Kejati Jateng. (bae) Korupsi BUMD Cilacap, Kejati Bilang Bakal Periksa Mantan Pangdam

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

PROTES HARGA PAKAN - Peternak di Temanggung membagikan 5.000 ayam petelur kepada warga, sebagai bentuk protes atas mahalnya harga pakan ternak, Senin (10/8/2026). Menurut peternak, lebih ayam itu dibagikan kepada warga daripada mati di kandang. (*)

Demo Harga Pakan Mahal Tak Terjangkau, Peternak Temanggung Bagikan Gratis 5.000 Ayam Petelur

TAWARKAN INVESTASI--Wali Kota Agustina Wilujeng mempresentasikan proposal Semarang Logistic Hub UCC Terboyo dalam Investment Challenge 2026 di Gumaya Hotel Tower Semarang, Senin (10/8/2026). (ist)

Pemkot Canangkan UCC Terboyo Jadi Mesin Ekonomi Baru Semarang

Otak Encer Tetapi Jiwa Kehilangan Hati Nurani

CALON TUNGGAL - Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI.

Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Begini Respons DPR

SAKSI SIDANG--Kepala Desa Sidoluhur, Sudardi duduk di kursi roda saat bersaksi di sidang korupsi Bupati Pati, Sudewo, di Semarang, Senin (10/8/2026). (bae)

Sakit dan Pakai Kursi Roda, Kades dari Pati Tetap Bersaksi di Sidang Sudewo

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah sebenarnya punya niat baik: anak sekolah kenyang, cerdas, dan sehat. Tapi realitanya, justru banyak siswa keracunan massal di berbagai daerah. Programnya keren di pidato, tapi di lapangan? Bisa bikin perut mules berjamaah.
Opini

Makan Bergizi Gratis, Tapi Rakyatnya Masuk IGD

September 21, 2025
Ilustrasi umbi porang.
Opini

Menilik Potensi Umbi Porang sebagai Alternatif Pengobatan Diabetes Melitus

November 5, 2025
Opini

Antara Pemenuhan Seksual dan Kepuasan Emosional, Pilih Poliamori atau Open Relationship?

April 21, 2026
Opini

Pajak dan Kisah Suami-Istri

Februari 16, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ketika Alam Membalas Tuntas
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?