Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Ronaldo, Messi, dan Fanatisme Sepak Bola di Indonesia
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Ronaldo, Messi, dan Fanatisme Sepak Bola di Indonesia

Redaktur Opini
Last updated: Juli 21, 2026 10:31 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Muhammad Fiam Setyawan adalah alumni mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.

Kultur fanatik telah membuat perdebatan ini tergeser jauh dari realitas objektif, dan berubah menjadi perselisihan yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

Perdebatan mengenai siapa yang layak menyandang gelar Greatest of All Time (GOAT) antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi agaknya telah menjadi narasi panjang yang tidak kenal habisnya dalam sejarah olahraga modern. Persaingan sengit ini setidaknya bisa diukur secara objektif melalui deretan trofi, statistik gol, hingga pencapaian Ballon d’Or. Namun, ketika gelombang rivalitas ini masuk ke area penggemar sepak bola di Indonesia, esensinya mengalami pergulatan yang emosional.

Diskusi taktis dan apresiasi di atas lapangan hijau seketika berubah menjadi benturan ego komunal netizen yang riuh di berbagai ruang digital. Fenomena fanatisme di tanah air ini tidak lagi sekadar mencerminkan kecintaan mendalam masyarakat terhadap olahraga si kulit bundar. Lebih jauh lagi, ia menjadi sebuah potret sosiologis yang memperlihatkan kerapuhan cara pandang serta logika dari sebagian pendukung.

Perselisihan sengit antara pemuja Ronaldo dan Messi mencerminkan adanya pergeseran fungsi sepak bola. Dari yang semula berfungsi sebagai sarana hiburan kini bertransformasi menjadi wahana adu gengsi. Krisis identitas inilah yang kemudian melahirkan pola hubungan emosional yang destruktif dan tidak rasional di kalangan pencinta olahraga tersebut.

Militansi yang berlebihan ini agaknya memiliki kaitan erat dengan minimnya prestasi sepak bola di level domestik. Tingginya gairah sepak bola masyarakat Indonesia tidak berbanding lurus dengan pencapaian riil tim nasional maupun klub di kompetisi lokal. Guna memenuhi dahaga akan kejayaan yang absen di rumah sendiri, sebagian pendukung akhirnya meminjam identitas dari panggung internasional dan memproduksinya secara berlebihan.

Pola perselisihan dari rivalitas keras antar-klub lokal pun dengan mudah ditransformasikan ke dalam bentuk persaingan individu megabintang internasional. Sikap agresif sebagian pendukung di Indonesia dalam membela Ronaldo atau Messi bisa jadi merupakan kebutuhan akan pengakuan identitas diri. Ketika seorang individu menghadapi keterbatasan dalam menemukan kebanggaan pada kehidupan personal, mereka cenderung memproyeksikan ego mereka pada objek lain.

Akibatnya, setiap prestasi dari sang idola diklaim sebagai bentuk validasi atas kehebatan diri sendiri. Sementara itu, ketika sang idola mengalami kekalahan atau penurunan performa, hal tersebut dirasakan sebagai ancaman eksistensial terhadap harga diri pendukung itu sendiri. Rasa bangga yang berlebihan atau kecenderungan overproud ini kerap mewujud dalam bentuk arogansi yang secara sengaja menyerang, merendahkan, dan mendehumanisasi kelompok pendukung lawan.

Ruang digital dimanfaatkan bukan sebagai forum diskusi untuk bertukar pikiran atau mengagumi taktik permainan, melainkan berubah menjadi arena pertempuran untuk saling membuktikan kelompok mana yang paling unggul. Sikap defensif yang tidak mau menerima kenyataan objektif, cacian kasar, dan ujaran kebencian akhirnya menjadi bahasa utama yang digunakan untuk melindungi sang idola. Kebanggaan yang agresif ini memperlihatkan bahwa para pendukung memposisikan diri mereka sebagai benteng pertahanan terakhir sang idola. Imbasnya mereka berusaha keras untuk saling melakukan pembelaan dan pembuktian buta.

Perilaku mengikuti sebuah figur secara mutlak tanpa memahaminya secara utuh merupakan sebuah bentuk pengabaian nyata terhadap anugerah akal yang berfungsi untuk menimbang kebenaran secara mandiri. Ketika sikap dogmatis ini diadopsi oleh pendukung pemain maupun klub bola, pada akhirnya lahirlah polarisasi ekstrem yang menafikan segala bentuk objektivitas berpikir.

Perwujudan nyata dari sikap fanatisme buta dalam rivalitas Ronaldo-Messi ini terlihat pada hilangnya proses verifikasi data yang valid. Informasi subyektif yang distortif, meme ejekan yang merendahkan, hingga narasi provokatif dari akun fanbase ditelan mentah-mentah tanpa proses penyaringan kritis sedikit pun.

Kedua belah pihak secara sadar menciptakan ekosistem yang hanya mau menerima pasokan informasi dari pendukung idola mereka sendiri. Akibatnya, pembelaan buta yang agresif mengalahkan rasionalitas sehat. Seakan-akan sang idola memengaruhi martabat dan harga diri mereka secara langsung.

Lebih jauh lagi, gejala kelumpuhan nalar ini melahirkan anggapan dogmatis bahwa sang idola memiliki sifat semacam “kemaksuman” atau kesucian yang antikritik. Sebagai contoh, ketika Ronaldo mengalami kekalahan atau Messi sedang tampil buruk, para pengikutnya segera merumuskan berbagai dalih pembelaan diri. Mereka akan sibuk mencari kambing hitam di luar sang idola. Mulai dari melemparkan kesalahan pada taktik pelatih, performa rekan setim, kesalahan wasit, hingga menciptakan teori konspirasi lain. Konstruksi berpikir seperti ini membuktikan bahwa figur individu telah menjadi sesuatu yang sakral.

Saat ini, era Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi mulai memasuki akhir. Kendati demikian, konflik emosional di kalangan pendukung di Indonesia tampak masih menyisakan bara api perselisihan yang sulit dipadamkan. Kultur fanatik telah membuat perdebatan ini tergeser jauh dari realitas objektif, dan berubah menjadi perselisihan yang terus dirawat dari generasi ke generasi. Hal ini membuktikan bahwa fanatisme agresif yang terlanjur mengikat ego personal pendukung tidak mudah luruh begitu saja oleh waktu.

Sepak bola yang secara historis seharusnya berfungsi sebagai wahana pemersatu komunal, kini justru kerap menjadi medium perselisihan. Kemerdekaan akal sehat harus direbut kembali dari belenggu fanatisme buta yang merusak. Kedewasaan pendukung hanya akan tercapai ketika kita mampu membebaskan diri dari jerat fanatisme buta dan menikmati olahraga ini secara humanis. (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Transisi Energi atau Transisi Bencana?

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Manfaat Sambiloto untuk Mengobati Diabetes Melitus

Bagaimana Film “Na Willa” Memotret Pola Pengasuhan dan Pendidikan Anak?

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article TERDAKWA KORUPSI--Bupati Pati nonaktif, Sudewo, menjalani sidang kasus korupsi di Pengadilan Tipikor Semarang. (bae) Sudewo Pengin Jadi Bupati Pati Lagi, Minta Doa Pendukung
Next Article Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jateng, Nadi Santoso. Kasus Kades Tlogomulyo Jadi Alarm! Pemprov Jateng Ingatkan Kepala Desa Tak Mainin Anggaran

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ini Kebakaran atau Pembakaran Ya?” Ganjar Usul 5 Langkah Tangani Bencana Karhutla di Indonesia

Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol) sedang bekerja mengantar penumpang di tengah kepadatan arus lalu lintas kota.

Cerita dan Harapan Riyan, Ojol di Semarang yang Sambut Baik Revisi UU LLAJ

Akankah Kita Benar-Benar Kehabisan Udara Segar?

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, Budi Prasetyo. (ist)

PCNU Nias Serahkan Uang Rp250 Juta ke KPK, Diduga Terkait Risywah Muktamar NU di Jombang

PENANGKAPAN EKS-NAPITER -- Kolase foto eks-napiter pelaku pembakaran mi babi di Sukoharjo (kiri) dan petugas yang melakukan penangkapan. (ist)

Dua Polisi Terluka saat Tangkap Eks-Napiter Pembakar Warung Mi Babi di Sukoharjo

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ideologi Angka dan Realitas Sebagian

Agustus 13, 2026
Opini

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Februari 22, 2026
Opini

Ketika Pemanfaatan Anggaran Negara Menjauh dari Kepentingan Rakyat

Juli 3, 2026
Gus Yasin dan Romy Rohmahurmuzi memberikan keterengan kepada awak media seusai Muktamar PPP X di Ancol Jakarta. Seperti Muktamar sebelumnya, Muktamar PPP tahun ini juga diwarnahi dengan perpecahan antar kader. Hasilnya, dua kubu salim klaim kemenangan melalui jalur aklamasi partai. Baik kubu incumben Mardionao maupun kubu Agus Suparmanto. Foto: dok.
Opini

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

September 28, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ronaldo, Messi, dan Fanatisme Sepak Bola di Indonesia
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?