Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Akankah Kita Benar-Benar Kehabisan Udara Segar?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Akankah Kita Benar-Benar Kehabisan Udara Segar?

Redaktur Opini
Last updated: Oktober 21, 2026 7:57 am
By Redaktur Opini
3 Min Read
Share
SHARE

Yuli Retno Indah Peratiwi, mahasiswa Universitas PGRI Semarang, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Domisili Gayamsari, Semarang.

Kita tidak bisa terus-menerus mengurung anak-anak di dalam kamar bertembok tebal sambil berharap keajaiban hujan turun.

Akhir-akhir ini, napas kita tidak lagi terasa menyegarkan, melainkan berat dan menyesakkan. Langit kota-kota besar kini tertutup kabut tebal yang sayangnya bukan salju romantis, melainkan jelutong dan debu karhutla.

Menghirup udara luar rasanya mirip seperti menyedot asap knalpot beraroma kayu bakar. Paru-paru kita dipaksa bekerja keras menghadapi ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang grafiknya melonjak drastis. Udara bersih kini menjadi sesuatu yang mewah, sementara batuk berjemaah menjadi paduan suara harian di ruang-ruang publik.

Fenomena ini bukanlah sihir tiba-tiba. Kebakaran hutan dan lahan yang merebak belakangan ini menyumbang pasokan asap abu-abu secara rutin. Lihat saja musibah karhutla di lereng Gunung Sumbing yang membakar berhektar-hektar kawasan vegetasi dan memunculkan kepulan asap pekat ke udara.

Ketika alam terbakar di atas sana, racunnya terbang bebas tanpa paspor dan hinggap di paru-paru warga di bawahnya. Bukit indah di sekeliling berubah menjadi instalasi pengasapan alami, dan masyarakat secara tidak sengaja terdaftar sebagai peserta program “asupan debu gratis” saban hari.

Di tengah kondisi yang kian mencekik, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya merilis imbauan resmi. Kelompok rentan, mulai dari lansia, ibu hamil, hingga anak-anak, diminta untuk membatasi aktivitas luar ruangan.

Jika terpaksa harus keluar rumah untuk mencari nafkah atau sekolah, hukumnya wajib mengenakan masker medis bertali kencang. Anjuran ini sangat masuk akal. Namun, analoginya mirip seperti memberi payung kertas di tengah guyuran badai topan. Protektif secara teori, tetapi sangat merepotkan pada praktiknya.

Bayangkan anak-anak sekolah yang dasarnya aktif bergerak, kini harus berlari-lari mengejar bola di lapangan sambil engos-engosan di balik lipatan kain steril. Masker yang mulanya menjadi tameng pertahanan kesehatan, lama-lama terasa seperti perangkap sauna portabel di area hidung dan mulut.

Sementara itu, orang dewasa yang harus mengadu nasib di jalanan hanya bisa mengelus dada sambil menelan dahak. Kita dipaksa menyesuaikan diri dengan kondisi udara beracun, ketimbang menyelesaikan akar masalah lingkar asapnya.

Solusi mitigasi jangka pendek seperti masker dan isolasi mandiri memang bisa mencegah masuknya mikropartikel berbahaya ke tenggorokan. Namun, masker bukanlah jalan keluar permanen atas krisis ekologi yang melanda negeri ini. Kita tidak bisa terus-menerus mengurung anak-anak di dalam kamar bertembok tebal sambil berharap keajaiban hujan turun.

Penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar hutan serta strategi penanganan Karhutla yang solutif dari hulu adalah satu-satunya tabung oksigen sejati bagi kita semua. Sebelum semua warga benar-benar kehabisan napas segar, sudah saatnya pengawasan lingkungan dibenahi dengan serius, bukan sekadar membagikan masker gratis saat kabut asap makin membubung tinggi.(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta

Tragedi, Akademia, dan Susanah

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Ketika Catcalling Dibungkus Candaan, Imbasnya Perempuan Kehilangan Ruang Eksistensi

Tidak Seharusnya Logat “Lo-Gue” Menjadi Superior dalam Pergaulan, Apalagi Ini di Semarang

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, Budi Prasetyo. (ist) PCNU Nias Serahkan Uang Rp250 Juta ke KPK, Diduga Terkait Risywah Muktamar NU di Jombang
Next Article Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol) sedang bekerja mengantar penumpang di tengah kepadatan arus lalu lintas kota. Cerita dan Harapan Riyan, Ojol di Semarang yang Sambut Baik Revisi UU LLAJ

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol) sedang bekerja mengantar penumpang di tengah kepadatan arus lalu lintas kota.

Cerita dan Harapan Riyan, Ojol di Semarang yang Sambut Baik Revisi UU LLAJ

Akankah Kita Benar-Benar Kehabisan Udara Segar?

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, Budi Prasetyo. (ist)

PCNU Nias Serahkan Uang Rp250 Juta ke KPK, Diduga Terkait Risywah Muktamar NU di Jombang

PENANGKAPAN EKS-NAPITER -- Kolase foto eks-napiter pelaku pembakaran mi babi di Sukoharjo (kiri) dan petugas yang melakukan penangkapan. (ist)

Dua Polisi Terluka saat Tangkap Eks-Napiter Pembakar Warung Mi Babi di Sukoharjo

DEMO BERUJUNG RUSUH - Polisi menangkap peserta aksi demonstrasi di depan gedung DPRD DIY, kawasan Malioboro, Selasa (21/10/2026) malam.

Suara Petasan dan Aba-aba Serbu: Demonstrasi di Malioboro Berujung Ricuh, Massa Aksi Dikeroyok Ormas

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
Opini

Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi

Februari 12, 2026
Opini

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Januari 15, 2026
Opini

Hilangnya Kepercayaan Rakyat Kepada Negara

Juni 4, 2026
Opini

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Desember 17, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Akankah Kita Benar-Benar Kehabisan Udara Segar?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?