Yuli Retno Indah Peratiwi, mahasiswa Universitas PGRI Semarang, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Domisili Gayamsari, Semarang.
Kita tidak bisa terus-menerus mengurung anak-anak di dalam kamar bertembok tebal sambil berharap keajaiban hujan turun.
Akhir-akhir ini, napas kita tidak lagi terasa menyegarkan, melainkan berat dan menyesakkan. Langit kota-kota besar kini tertutup kabut tebal yang sayangnya bukan salju romantis, melainkan jelutong dan debu karhutla.
Menghirup udara luar rasanya mirip seperti menyedot asap knalpot beraroma kayu bakar. Paru-paru kita dipaksa bekerja keras menghadapi ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang grafiknya melonjak drastis. Udara bersih kini menjadi sesuatu yang mewah, sementara batuk berjemaah menjadi paduan suara harian di ruang-ruang publik.
Fenomena ini bukanlah sihir tiba-tiba. Kebakaran hutan dan lahan yang merebak belakangan ini menyumbang pasokan asap abu-abu secara rutin. Lihat saja musibah karhutla di lereng Gunung Sumbing yang membakar berhektar-hektar kawasan vegetasi dan memunculkan kepulan asap pekat ke udara.
Ketika alam terbakar di atas sana, racunnya terbang bebas tanpa paspor dan hinggap di paru-paru warga di bawahnya. Bukit indah di sekeliling berubah menjadi instalasi pengasapan alami, dan masyarakat secara tidak sengaja terdaftar sebagai peserta program “asupan debu gratis” saban hari.
Di tengah kondisi yang kian mencekik, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya merilis imbauan resmi. Kelompok rentan, mulai dari lansia, ibu hamil, hingga anak-anak, diminta untuk membatasi aktivitas luar ruangan.
Jika terpaksa harus keluar rumah untuk mencari nafkah atau sekolah, hukumnya wajib mengenakan masker medis bertali kencang. Anjuran ini sangat masuk akal. Namun, analoginya mirip seperti memberi payung kertas di tengah guyuran badai topan. Protektif secara teori, tetapi sangat merepotkan pada praktiknya.
Bayangkan anak-anak sekolah yang dasarnya aktif bergerak, kini harus berlari-lari mengejar bola di lapangan sambil engos-engosan di balik lipatan kain steril. Masker yang mulanya menjadi tameng pertahanan kesehatan, lama-lama terasa seperti perangkap sauna portabel di area hidung dan mulut.
Sementara itu, orang dewasa yang harus mengadu nasib di jalanan hanya bisa mengelus dada sambil menelan dahak. Kita dipaksa menyesuaikan diri dengan kondisi udara beracun, ketimbang menyelesaikan akar masalah lingkar asapnya.
Solusi mitigasi jangka pendek seperti masker dan isolasi mandiri memang bisa mencegah masuknya mikropartikel berbahaya ke tenggorokan. Namun, masker bukanlah jalan keluar permanen atas krisis ekologi yang melanda negeri ini. Kita tidak bisa terus-menerus mengurung anak-anak di dalam kamar bertembok tebal sambil berharap keajaiban hujan turun.
Penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar hutan serta strategi penanganan Karhutla yang solutif dari hulu adalah satu-satunya tabung oksigen sejati bagi kita semua. Sebelum semua warga benar-benar kehabisan napas segar, sudah saatnya pengawasan lingkungan dibenahi dengan serius, bukan sekadar membagikan masker gratis saat kabut asap makin membubung tinggi.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

