Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Selingkuh adalah Tindakan Krisis Moral
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Selingkuh adalah Tindakan Krisis Moral

Redaktur Opini
Last updated: Desember 30, 2025 10:08 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Ana Fitri Aulia, mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Diponegoro. Tinggal di Tawangharjo, Grobogan.

Yang terjadi dalam perselingkuhan sejatinya bukanlah kebutuhan yang terabaikan, melainkan ketidakmampuan bertahan dalam komitmen.

Perselingkuhan menjadi isu yang semakin banyak diperbincangkan belakangan ini. Kabar tentang perselingkuhan politisi dengan artis menyeruak di media sosial, dan merenggut perhatian banyak pihak.

Sejak awal 2025 saja, beragam kasus perselingkuhan sudah muncul dalam berbagai bentuk dan skala, datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan membuahkan dampak yang nyata.

Perselingkuhan selalu hadir dengan nada yang sama; alasan-alasan yang berulang, pembenaran yang banal, serta kecenderungan untuk menyederhanakan pengkhianatan yang seolah bisa dijelaskan dengan satu kalimat yang mudah diterima.

Perselingkuhan kerap dibingkai sebagai akibat dari kebutuhan yang tidak terpenuhi. Narasi tersebut seolah terdengar masuk akal, seakan pengkhianatan adalah respons yang bisa dimengerti. Padahal, membingkai perselingkuhan dengan cara ini justru mengaburkan inti persoalan.

Yang terjadi dalam perselingkuhan sejatinya bukanlah kebutuhan yang terabaikan, melainkan ketidakmampuan bertahan dalam komitmen, ketidakbecusan menghormati batas relasi, serta kegagalan memikul tanggung jawab moral.

Ketika perselingkuhan terjadi, pasangan yang dikhianati seringkali justru menjadi pihak yang diadili. Kekurangannya dihitung, sikapnya ditimbang, fisiknya dibandingkan, kesalahannya dicari, dan karakternya dikikis. Narasi-narasi tersebut merupakan rasionalisasi klasik yang dijadikan sebagai dalih pengkhianatan.

Padahal dalam relasi tak pernah menuntut kesempurnaan sebagai syarat kesetiaan. Kesetiaan bukan hanya tentang perasaan, tetapi mencakup hal yang lebih dalam yaitu kemampuan menahan diri, menghormati batas, dan bertanggung-jawab atas janji yang telah diucapkan.

Kemudian yang sering digaungkan oleh pelaku perselingkuhan, terutama pihak selingkuhan adalah perasaan “lebih hadir”, “lebih mengerti”, atau “lebih memberi kenyamanan.” Padahal perasaan “lebih baik” dalam relasi selingkuh sejatinya merupakan ilusi yang lahir dalam situasi yang semu dan tidak setara.

Rasa nyaman yang muncul dalam relasi selingkuh muncul karena tidak dihadapkan oleh konflik yang nyata, tanggung jawab jangka panjang, kekecewaan, maupun permasalahan emosional yang menuntut kedewasaan. Maka rasa nyaman dalam perselingkuhan tidak dapat dijadikan patokan kedalaman relasi, apalagi kematangan moral. Karena yang terjadi adalah dangkalnya individu dalam merugalasi diri.

Perselingkuhan tidak hanya tentang mengkhianati pasangan, tetapi juga menyerobot ruang relasi orang lain yang seharusnya dihormati. Itulah sebabnya perselingkuhan dapat dikatakan sebagai krisis moral, karena dampak yang dilahirkan tak hanya berhenti pada rasa sakit sesaat.

Luka akibat perselingkuhan dapat mengikis ruang terdalam dari diri korban. Perselingkuhan menggoreskan trauma mendalam dan berkepanjangan, kecemasan yang muncul berulang, rasa keberhargaan diri yang terkikis, serta kepercayaan yang runtuh, yang membuat korban kehilangan pijakan untuk memandang dirinya dengan aman.

Trauma perselingkuhan juga sering termanifestasi dalam respons tubuh yang tidak disadari. Jantung berdebar tanpa pemicu yang jelas, tangan gemetar, dada terasa sesak. Tubuh menyimpan ingatan akan pengkhianatan, bahkan ketika pikiran berusaha “baik-baik saja.” Luka tersebut bersifat sunyi, hampir tidak pernah mendapat ruang dalam percakapan publik, tidak ditayangkan algoritma, dan tidak dirayakan dalam narasi-narasi media.

Maka di balik setiap narasi pembenaran akan perselingkuhan, selalu ada kepercayaan yang runtuh, rasa aman yang hancur, dan seseorang yang harus belajar kembali mempercayai dunia dari titik yang lebih rapuh.

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang kurang atau siapa yang lebih mampu memberi. Pertanyaan yang lebih jujur adalah apakah kita masih memandang komitmen sebagai tanggung jawab moral terhadap sesama manusia? Atau hanya sebagai opsi yang bisa ditinggalkan kapan saja?

Cara kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan bukan hanya bagaimana kita memaknai perselingkuhan, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan relasi, kepercayaan, dan luka orang lain dengan lebih manusiawi.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Efek Tinju “Low Blow” Amien Rais

Menengok Metode Suzuki, Upaya Menjaga Jarak dari Apropriasi Budaya

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Gurunya Manusia Tapi Pikiran Siswa Isinya Algoritma

Degradasi Organisasi Mahasiswa: Hidup Segan Mati Tak Mau!

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Hari Ini Buruh Turun ke Monas, UMSK Jabar Jadi Api
Next Article Sat-set, Setahun Polres Banjarnegara Bongkar Ratusan Kasus Kriminal

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sidang Nadiem Makin Panas, Tuntutan Belasan Tahun Bikin Geger

Jawaban Dibilang Salah, Lomba MPR Malah Berujung Gugatan Panjang

OC Kaligis Laporkan Menkes ke Polda Metro Jaya, Ternyata Terkait Hal Ini

Gerobak Pinggir Jalan Hancur, Disikat Mobil MBG Owi Pulang Tinggalkan Anak Masih Balita

Jakarta Belum Jadi Pensiun Sebagai Ibu Kota Negara, Putusan MK Malah Bikin Ramai Lagi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Surat Terbuka untuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Maret 2, 2026
Opini

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Januari 22, 2026
Opini

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Januari 27, 2026
Opini

Mau Menang atau Kalah, MU Tetap Lucu Bahkan Bagi Saya yang Tidak Terlalu Suka Sepak Bola

Februari 12, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Selingkuh adalah Tindakan Krisis Moral
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?