BACAAJA, SEMARANG – Jalan Majapahit, Kota Semarang, kembali dibenahi. Kali ini, ruas Jalan Brigjen Sudiarto sepanjang sekitar 300 meter tidak sekadar ditambal, tetapi ditingkatkan menggunakan perkerasan beton.
Pemilihan konstruksi beton tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai salah satu tantangan terbesar ruas tersebut adalah tingginya beban kendaraan yang melintas.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro menyebut, sejumlah kendaraan dengan sumbu tiga bahkan lebih kerap melintasi ruas Jalan Majapahit, terutama dari arah setelah pintu tol menuju kawasan timur.
Kondisi tersebut membuat beban yang diterima jalan menjadi lebih berat dibandingkan ruas jalan yang lalu lintas kendaraannya didominasi kendaraan dengan sumbu lebih rendah.
“Di Jalan Majapahit ini banyak kendaraan yang sampai sumbu tiga. Ini sebenarnya menjadi salah satu penyebab dengan tingginya beban lalu lintas yang ada di situ,” ujar Henggar, Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Jalan Provinsi Bisa Jadi Mesin PAD Baru
Menurutnya, kendaraan dengan sumbu dua masih relatif aman bagi konstruksi jalan. Namun, ketika kendaraan dengan sumbu tiga atau lebih semakin banyak melintas, beban terhadap jalan ikut meningkat.
“Kalau sudah sampai sumbu tiga atau bahkan lebih, ini yang menjadi catatan kami karena bebannya lebih tinggi dibanding tempat lain,” katanya. Beban kendaraan tersebut bahkan dinilai bisa berada di atas beban rencana yang sebelumnya telah diperhitungkan dalam pembangunan jalan.
Karena itu, perbaikan Jalan Majapahit kali ini menggunakan konstruksi beton dengan ketebalan sekitar 30 sentimeter. Pekerjaan dilakukan pada ruas sepanjang 300 meter dengan lebar 10,8 meter.
Nilai Kontrak
Proyek yang dikerjakan CV Nava Draco itu memiliki nilai kontrak Rp4,679 miliar dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender, mulai 2 Juli hingga 28 Desember 2026.
Hingga 9 Agustus, progres pekerjaan telah mencapai 21,732 persen. Pekerjaan yang telah dilakukan meliputi pengukuran, rekayasa lalu lintas, penggalian aspal eksisting, serta pengecoran beton sekitar 200 meter pada satu lajur.
Henggar mengatakan, penggunaan beton diharapkan membuat usia layanan jalan lebih panjang dibandingkan apabila kembali menggunakan aspal. “Dengan menggunakan beton ini daya tahannya akan lebih lama. Harapan kita secara umur akan jauh lebih tinggi dibanding menggunakan aspal,” jelasnya.
Namun, persoalan Jalan Majapahit tidak hanya berhenti pada konstruksi. Henggar menilai perlu ada pembicaraan lebih luas mengenai pengelolaan lalu lintas kendaraan berat di jalur tersebut.
Baca juga: Luthfi Sidak Proyek Perbaikan Jalan Parakan-Patean
Menurut dia, ruas Semarang hingga Blora memiliki lalu lintas yang cukup penting. Bahkan, pemerintah berharap jalur tersebut ke depan dapat beralih status menjadi jalan nasional.
Untuk mewujudkan hal itu, Pemprov Jateng perlu duduk bersama dengan pemerintah daerah yang wilayahnya dilintasi jalur tersebut, mulai dari Kota Semarang, Kabupaten Demak, Grobogan hingga Blora.
“Harapan kita sebenarnya ruas Semarang sampai Blora ini bisa beralih menjadi jalan nasional. Ini menjadi catatan bagi kita,” ujarnya. Henggar menegaskan, perbaikan jalan memang penting, tetapi menjaga agar jalan tidak kembali cepat rusak juga tidak kalah penting.
Sebab, sebagus apa pun konstruksi yang dibangun, jalan tetap memiliki batas kemampuan ketika terus-menerus menerima beban kendaraan yang melebihi perencanaannya. “Beban lalu lintas ini bisa jadi di atas beban rencana yang sudah kita siapkan sebelumnya,” Tegas Henggar.
Jadi, kali ini Jalan Majapahit memang mendapat “baju besi” berupa beton. Tinggal satu pertanyaan: kalau truk sumbu tiga tetap datang tanpa kompromi, jangan-jangan betonnya yang akhirnya ikut minta rehat. (dul)

