Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial

Redaktur Opini
Last updated: Juni 15, 2026 8:17 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Akhmad Idris adalah dosen  sekaligus awardee BPI 2023 program doktoral di Universitas Negeri Malang.

Pembayaran berbasis digital memang menjanjikan kemudahan transaksional, tetapi kemudahan ini tidak berarti meniadakan risiko.

 

Era telah berjalan (atau bahkan berlari) jauh, sehingga penghuni era juga dituntut untuk mengimbanginya. Dari era dompet fisik menuju dompet elektronik, dan dari uang kartal menjadi uang digital. Perubahan besar ini tentu saja memberikan dampak yang sangat beragam karena lompatan era ini menuntut penghuninya untuk mengimbangi, sedangkan kesenjangan teknologi telah menjadi rahasia umum di negeri ini.

Oleh sebab itu, kemerataan teknologi sudah seharusnya menjadi pertimbangan prioritas jika negeri ini tidak ingin tertinggal (terlalu) jauh. Lebih dari itu, lompatan era ini memang membawa kabar baik untuk kemudahan transaksional meskipun di sisi lain juga menjadi ujian sosial.

Lompatan era ini sebenarnya sudah terjadi sejak revolusi industri 4.0, sedangkan saat ini sudah digembor-gemborkan telah memasuki era society 5.0. Sebuah era yang semakin ‘memper-simple’ semua hal, di antaranya adalah pembayaran berbasis digital. Satu hal utama yang membuat digitalisasi pembayaran ini sangat bermanfaat adalah menghilangkan risiko penipuan dengan uang palsu. Meskipun penipuan dengan uang palsu adalah sebuah kisah klasik, tetapi tragedi ini tetap saja masih sering terjadi.

Mulai dari yang mengerikan hingga yang memilukan, seperti kasus di Karawang yang membuat korban mengalami kerugian sebesar Rp 50.000.000. Juga kasus nenek penjual rempah di Pamekasan yang ditipu dengan uang mainan. Kasus-kasus ini hanyalah serpihan kecil dari ‘pegunungan’ tragedi yang terjadi selama tahun 2025 ini. Artinya, digitalisasi pembayaran tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga menjamin keamanan.

Tak berlebihan jika Hidayat (2009) menyebut kegiatan ekonomi masyarakat di era revolusi industri 4.0 (ke atas) dengan sebutan “New Economy”. Istilah ini digunakan untuk menyebut semua kegiatan ekonomi yang berbasis internet yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, “New Economy” dapat juga disebut dengan sistem digital.

Senada dengan definisi yang ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), digital berarti berkaitan dengan atau menggunakan komputer/internet. Sistem ‘ekonomi baru’ ini memang mengandalkan sistem teknologi berbasis digital yang pengoperasiannya cukup dilakukan dalam satu genggaman alias lewat gawai cerdas (smartphone). Model seperti ini memang cocok dengan karakterisasi populasi dominan di Indonesia saat ini.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2020, jumlah populasi yang paling dominan adalah generasi Z dan generasi milenial dengan persentase sebesar 53,8 %. Artinya, lebih dari separuh masyarakat Indonesia adalah orang dengan karakter “digital savvy” yang merupakan karakterisasi dari generasi Z dan generasi milenial. Hitungan ini diperkirakan akan terus meninggkat hingga tahun-tahun berikutnya.

Atas dasar itulah model pembayaran berbasis digital tentu saja akan menjadi pilihan favorit mayoritas masyarakat Indonesia. Digitalisasi memang memberikan keefektifan karena meringkas hal-hal yang dianggap ribet. Sebut saja pembayaran pajak tahunan dan sejenisnya yang bisa dilakukan tanpa perlu susah-susah ke tempat pelayanan terkait yang terkadang sangat menguras waktu.

Ditambah lagi, generasi Z dan generasi milenial cenderung sulit dilepaskan dari gawai cerdas. Alhasil segala aktivitas transaksional yang dapat diselesaikan dalam satu genggaman akan lebih dipilih daripada aktivitas transaksional yang masih konvensional.

Pembayaran berbasis digital memang menjanjikan kemudahan transaksional, tetapi kemudahan ini tidak berarti meniadakan risiko. Kondisi ini bisa menjadi ujian pertemanan. Faktanya, tidak semua orang menggunakan jasa internet karena akses ini dipengaruhi beberapa faktor seperti faktor ekonomi dan sejenisnya.

Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2024, dari 278,69 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah penduduk yang menggunakan internet adalah 221, 56 juta jiwa. Meskipun hampir menyentuh 80 % populasi, masih saja ada orang-orang yang belum (atau bahkan tidak) menggunakan internet. Kelompok yang ‘belum’ inilah yang berpotensi menjadi ujian pertemanan dalam situasi-situasi transaksional yang berbasis digital.

Akhirnya, langkah yang dilakukan oleh teman yang ‘belum’ bisa menggunakan pembayaran berbasis digital adalah mengutang kepada teman yang sudah memanfaatkan pembayaran berbasis digital. Kalimat sakti yang biasa diucapkan adalah “pakai punyamu dulu ya, nanti kuganti dengan cash”. Saat-saat seperti inilah ikatan pertemanan sedang diuji karena yang tersisa hanyalah dua kemungkinan, yakni utang itu akan dilunasi atau utang itu dianggap tidak pernah terjadi.

Menariknya lagi, ujian pertemanan ini tidak hanya menempatkan pengguna pembayaran berbasis digital sebagai korban, tetapi bisa juga sebaliknya: pengguna sebagai pelaku. Misalnya ketika pengguna pembayaran berbasis digital membutuhkan uang cash (karena tidak semua tempat menyediakan transaksi digital), sementara ia sendiri sedang tidak memiliki satu rupiah pun uang kartal.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah kalimat “aku pinjam uang cash-mu dulu ya, nanti kutransfer. Kirim nomormu.” Memang masalah-masalah seperti ini terkesan ‘receh’, tetapi terkadang relasi sosial bisa menjandi renggang secara perlahan sebab masalah yang dianggap ‘receh’ tersebut.

Pembayaran berbasis digital tetaplah dua sisi mata uang. Ada sisi positif dan juga sisi negatif. Sebagaimana nasihat-nasihat bijaksana yang masyhur, yakni tidak ada hal yang murni baik dan juga tidak ada hal yang murni buruk. Ketakribetan dalam transaksi digital tetap saja mengundang niat-niat jahat, misalnya kasus pemalsuan bukti transfer yang sedang ramai diperbincangkan baru-baru ini.

Sederhananya, transformasi digital yang menyeluruh membutuhkan dasar-dasar yang kuat pula untuk pelakunya. Dimulai dari kemerataan teknologi, lalu kemampuan literasi digital, dan kearifan digital. Di antara tiga hal ini, komponen terakhir yang jarang mendapatkan perhatian. Berbeda dengan dua hal sebelumnya yang berkali-kali digemborkan.

Kearifan digital dapat diartikan sebagai sikap bijaksana dalam menggunakan digitalisasi, seperti menghindari situasi yang merugikan orang lain, atau bahkan sampai ke tahap melukai orang lain. Kearifan digital inilah yang pada akhirnya menjadi solusi atas ujian pertemanan dan ancaman penipuan.(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Politik Iba ala Jokowi

Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Banjir yang Naik Kelas: Alarm Keras untuk Tata Ruang Kota Semarang

Mereka yang Diam-Diam Mendukung Pelaku Kekerasan Seksual

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article TRANSPORTASI UMUM - Pengguna angkutan umum menaiki bus di halte. (ist) Akademisi SCU: Subsidi BBM Lebih Tepat untuk Transportasi Umum

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial

TRANSPORTASI UMUM - Pengguna angkutan umum menaiki bus di halte. (ist)

Akademisi SCU: Subsidi BBM Lebih Tepat untuk Transportasi Umum

PAD Naik, Kepala Daerah Dapat Bonus? Usulan Tito Bikin Publik Garuk Kepala

Piala Dunia Datang, Turis Malah Hilang

Dapur MBG Kebanyakan, Anggaran Bakal Dikurangi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Semasa Kecil di Sawah

November 25, 2025
Opini

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Januari 12, 2026
Opini

Rumus Mujarab Menertawakan Kemiskinan dan Lepas dari Jerat Kegilaan

Januari 22, 2026
Opini

Sampai Kapan Terpaksa Menjadi “People Pleaser”?

Mei 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Digitalisasi Pembayaran: Kemudahan Transaksional dan Ujian Sosial
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?