BACAAJA, SEMARANG – Kalau mendengar suara dengung nyamuk di telinga, banyak orang langsung kesal karena khawatir bakal digigit. Tapi ternyata, tidak semua nyamuk punya kebiasaan mengisap darah manusia.
Faktanya, hanya nyamuk betina yang menggigit. Sementara nyamuk jantan lebih memilih menikmati nektar bunga dan cairan manis dari tumbuhan sebagai sumber makanannya.
Lantas, kenapa hanya nyamuk betina yang mencari darah? Jawabannya berkaitan dengan proses berkembang biak.
Setelah kawin, nyamuk betina membutuhkan asupan protein dan zat besi dalam jumlah cukup agar telurnya bisa berkembang dengan baik. Nutrisi tersebut didapat dari darah manusia maupun hewan.
Tanpa mengisap darah, kemampuan nyamuk betina menghasilkan telur akan jauh berkurang. Itulah sebabnya mereka aktif mencari inang untuk memenuhi kebutuhan biologis tersebut.
Meski begitu, darah bukan makanan utama nyamuk betina setiap hari. Sama seperti nyamuk jantan, mereka juga tetap mengonsumsi nektar sebagai sumber energi.
Yang membedakan adalah saat memasuki masa reproduksi. Pada fase itulah nyamuk betina mulai berburu darah demi mendukung perkembangan telurnya.
Untuk menjalankan tugas itu, nyamuk betina memiliki alat mulut khusus bernama proboscis. Bentuknya dirancang agar mampu menembus kulit dan mengisap darah dengan efektif.
Saat menggigit, nyamuk juga mengeluarkan air liur yang mengandung zat antikoagulan. Zat ini mencegah darah cepat membeku sehingga proses mengisap menjadi lebih mudah.
Air liur tersebut justru memicu reaksi pada tubuh manusia. Akibatnya muncul rasa gatal, bentol, hingga iritasi di area bekas gigitan.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Jika nyamuk betina membawa virus atau parasit, gigitannya bisa menjadi media penularan berbagai penyakit seperti demam berdarah, malaria, hingga virus Zika.
Berbeda dengan betina, nyamuk jantan sama sekali tidak membutuhkan darah. Karena tidak bertelur, mereka cukup memperoleh energi dari sari bunga dan cairan manis lainnya.
Secara fisik, nyamuk jantan juga punya ciri yang berbeda. Ukurannya cenderung lebih kecil dan memiliki antena yang lebih lebat serta berbulu dibandingkan nyamuk betina.
Umur nyamuk jantan pun relatif lebih singkat. Tugas utamanya hanyalah membuahi nyamuk betina sebelum akhirnya mati.
Karena tidak menggigit manusia, nyamuk jantan tidak berperan dalam penyebaran penyakit. Itulah sebabnya berbagai upaya pengendalian nyamuk lebih difokuskan untuk menekan populasi nyamuk betina, yang menjadi sumber utama penularan berbagai penyakit berbahaya. (*)

