BACAAJA, SEMARANG – PMI menggenjot distribusi air bersih untuk wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem saat musim kemarau.
Musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir 2026 membuat ancaman kekeringan semakin nyata di berbagai daerah. Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) pun meminta seluruh jajaran PMI memperkuat distribusi air bersih untuk membantu masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan pasokan air.
Menurut JK, perubahan iklim membuat musim kemarau tahun ini lebih panjang dan berdampak luas, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara.
Bacaaja: Soal Kebakaran dan Kekeringan, PDAM: Air Gratis
Bacaaja: Duh.. Kemarau Baru Mulai, Banyumas dan Purbalingga Sudah Krisis Air Bersih Duluan
“Kalau ini kekeringan, di mana-mana kekeringan di dunia. Spanyol juga kekeringan, kebakaran hutan di Spanyol, di Prancis, di Amerika. Memang sekarang persoalan iklim menjadi masalah besar,” kata JK usai melantik Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI Provinsi Jawa Tengah di Gradhika Bhakti Praja, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, kemarau panjang membawa dua dampak besar sekaligus, yakni menurunnya produktivitas pertanian dan semakin sulitnya masyarakat memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, PMI diminta menjadikan penanganan krisis air bersih sebagai salah satu prioritas hingga musim kemarau berakhir.
“Saya berharap operasi air bersih di seluruh Indonesia terus dijalankan untuk membantu masyarakat,” ujarnya.
JK mengungkapkan, hingga saat ini PMI telah menyalurkan sekitar 2,2 juta liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan.
Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
“Sampai sekarang sudah 2,2 juta liter. Itu akan bertambah terus sejalan dengan operasional mobil tangki dan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Di Jawa Tengah, distribusi bantuan air bersih dari PMI telah menjangkau 16 kabupaten melalui 543 tangki air.
Selain menghadapi kekeringan, JK juga mengingatkan bahwa peran PMI tidak hanya sebatas pelayanan donor darah. Menurutnya, organisasi kemanusiaan itu harus selalu hadir dalam setiap kondisi darurat, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga kekeringan.
“Semua bencana itu harus dibantu. Apa banjir, apa kekeringan, apa gempa, PMI harus selalu aktif di mana pun,” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pemerintah provinsi bersama BPBD dan PMI telah mengantisipasi dampak musim kemarau sejak dini.
Hingga akhir Juli, sekitar 2,5 juta liter air bersih telah disalurkan ke berbagai daerah yang mengalami krisis air.
Menurut Luthfi, kolaborasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan PMI akan terus diperkuat agar distribusi bantuan air bersih bisa menjangkau seluruh wilayah terdampak selama musim kemarau berlangsung. (dul)

