BACAAJA, BANYUMAS – Musim kemarau baru berjalan, tetapi dampaknya sudah mulai terasa di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga menjadi dua daerah yang lebih dulu menghadapi krisis air bersih.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat agar kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi sebelum musim kemarau memasuki puncaknya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pemantauan terus dilakukan sejak awal musim kemarau yang mulai berlangsung pada pertengahan Juni.
Menurutnya, koordinasi lintas instansi diperkuat agar distribusi air bersih bisa berjalan lancar dan masyarakat yang terdampak tetap mendapatkan pelayanan.
Di Kabupaten Banyumas, kekeringan mulai dirasakan di Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur, serta Desa Taman Sari, Kecamatan Karanglewas.
Sebanyak 523 kepala keluarga di Kelurahan Sokanegara dan 44 kepala keluarga di Desa Taman Sari dilaporkan mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Sebagai langkah darurat, pemerintah daerah telah menempatkan penampungan air berkapasitas 4.000 liter di tiga titik yang dinilai paling membutuhkan.
Selain itu, BPBD juga menyiapkan rencana penambahan tandon air di sejumlah lingkungan permukiman agar distribusi air bisa menjangkau lebih banyak warga.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Sementara itu, Kabupaten Purbalingga juga mulai merasakan dampak serupa, terutama di kawasan perbukitan Kecamatan Karangreja.
Dua desa yang terdampak adalah Desa Kutabawa dan Desa Serang. Lokasi tersebut dikenal memiliki sumber air yang terbatas sehingga lebih rentan mengalami kekeringan saat curah hujan menurun.
Data sementara menunjukkan sebanyak 102 kepala keluarga atau sekitar 398 jiwa mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
BPBD Purbalingga telah mengirimkan dua armada truk tangki yang membawa sekitar 10.000 liter air bersih ke wilayah terdampak.
Distribusi diprioritaskan untuk warga di Dusun Gunung Malang yang menjadi salah satu titik dengan kondisi paling membutuhkan pasokan air.
Air bersih tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat seperti memasak, minum, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya.
BNPB menilai kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa musim kemarau tahun ini perlu diantisipasi lebih serius, terutama di wilayah yang selama ini rawan kekeringan.
Karena itu, seluruh BPBD di daerah diminta terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait.
BNPB memastikan upaya penanganan akan terus dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung dan dampaknya tidak semakin meluas.(*)

