Fara Ulyatul Fatma adalah Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi UIN Walisongo Semarang.
Media sosial kontemporer tidak hanya mengandung rekayasa teknis, tetapi juga rekayasa psikologis yang terstruktur.
Beberapa hari lalu, sewaktu saya dan beberapa rekan mengunjungi Rumah Sakit Jiwa Soeradja, Magelang, ada pemandangan yang membuat saya terhenyak sejenak. Di ruang administrasi, dua perempuan sedang mengurus berkas.
Saya mengira mereka keluarga biasa yang hendak menjenguk pasien. Ternyata salah satunya adalah calon pasien itu sendiri, berusia 13 tahun. Ia dirujuk karena kecanduan gawai. Yang mengantarnya adalah kakak perempuannya.
Ada sesuatu yang berat dalam pemandangan itu. Seorang kakak yang datang bukan untuk menjenguk, melainkan untuk menitipkan adiknya. Fenomena ini bukan kejadian tunggal yang bisa kita lewati begitu saja. Ia adalah cerminan dari masalah yang jauh lebih sistemik, tentang dampak teknologi digital, khususnya media sosial, yang telah merambah ke wilayah paling rentan dari kesehatan mental manusia, termasuk anak-anak.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar soal siapa yang bersalah, melainkan tentang tanggung jawab kolektif kita yang tampaknya kini telah absen. Kebijakan penggunaan media sosial memang ada, tetapi regulasi tersebut berjalan lambat. Kalah cepat dari laju algoritma yang dirancang tanpa batas etis yang jelas.
Perlu ditegaskan pula bahwa persoalan ini tidak hanya menyasar anak di bawah umur. Polarisasi opini publik, standar hidup yang dikonstruksi oleh konten yang sedang tren, hingga fenomena self-diagnosis berbasis konten media sosial adalah gejala dari ekosistem yang sama, dan menyentuh semua lapisan pengguna.
Dalam bukunya Homo Deus, Yuval Noah Harari menyebut data sebagai kekuatan paling dominan di era ini. Ia lebih berpengaruh dari institusi mana pun. Ia mampu mengendalikan ekonomi hingga politik melalui infrastruktur digital yang kita kenal sebagai media sosial.
Harari menyebutnya sebagai “agama data”, ruang yang menjadikan penggunanya tidak lagi sepenuhnya menjadi subjek yang berdaulat, melainkan objek yang terus dikelola.
Pernyataan itu mungkin terasa hiperbolik, tetapi Arthur C. Clarke, penulis fiksi ilmiah terkemuka, pernah mengamati bahwa teknologi yang cukup maju tidak dapat dibedakan dari sihir. Media sosial hari ini membuktikan hal itu. Kita tersihir untuk tidak bisa lepas darinya. Rela duduk berjam-jam dengan satu-satunya aktivitas yang tersisa hanyalah gerakan jari.
Topik yang saya bicarakan barusan selaras dengan film dokumenter The Social Dilemma. Film ini menggambarkan pengguna media sosial yang dianggap seperti boneka yang dikendalikan oleh algoritma di balik layar. Setiap klik, guliran, dan tanda suka adalah respons yang sudah direkayasa. Para psikolog menyebutnya zombie scrolling, yakni aktivitas menggulir konten tanpa henti, tanpa tujuan, tanpa kesadaran penuh.
Kondisi tersebut dalam literatur klinis memiliki kemiripan dengan OCD (Obsessive–Compulsive Disorder), yaitu dorongan kompulsif untuk terus mengulangi perilaku yang sama meskipun tidak memberikan manfaat nyata. Ketika seseorang merasa bebas memilih konten, sesungguhnya ia belum menyadari bahwa pilihan tersebut sudah dikurasi oleh sistem jauh sebelum jari menyentuh layar, seperti pesulap yang menawarkan kartu pilihan tetapi sebenarnya hasilnya sudah ditentukan sejak awal.
Media sosial kontemporer tidak hanya mengandung rekayasa teknis, tetapi juga rekayasa psikologis yang terstruktur. Konten berdurasi pendek yang dangkal serta fitur guliran tanpa batas dirancang secara spesifik untuk memaksimalkan sekresi dopamin, neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Stimulasi dopamin yang berulang dan berlebihan inilah yang membentuk siklus kecanduan.
Efek jangka panjangnya dikenal dengan istilah brain rot. Pada 2024, Oxford University Press menetapkan istilah ini sebagai word of the Year setelah mencatat lonjakan penggunaan sebesar 230 persen. Oxford mendefinisikannya sebagai deteriorasi kapasitas mental dan intelektual seseorang akibat konsumsi konten dangkal yang berlebihan.
Gejalanya mungkin sudah akrab: kesulitan berkonsentrasi pada tugas yang kompleks, menurunnya semangat, rasa cemas yang mengambang tanpa sebab yang jelas, serta ketidakmampuan untuk bertindak meski sudah menyadari permasalahan. Gejala-gejala ini kerap disalahartikan sebagai krisis motivasi semata. Namun, perubahan perilaku yang dihasilkan dari konsumsi konten berlebih bukan hanya soal semangat. Ia mencerminkan perubahan fungsional pada cara kerja otak itu sendiri. Seberapa banyak pun video motivasi ditonton, hasilnya tidak akan signifikan jika akar masalahnya ada di tingkat neurologis.
Paradoks lainnya ialah, kita hidup di era kecerdasan figur seperti Einstein, Habibi, atau Jerome Polin dikagumi sekaligus dianggap sebagai bawaan genetik yang eksklusif. Padahal neurosains modern menunjukkan sebaliknya. Semua otak manusia memiliki kapasitas dasar yang setara.
Otak manusia tersusun dari hampir 100 miliar neuron, dengan potensi koneksi antarneuron yang bisa mencapai seribu triliun sambungan. Itu beratus kali lebih banyak dari jumlah bintang di galaksi Bima Sakti. Kapasitas ini bukan hak istimewa segelintir orang.
Perbedaannya terletak pada bagaimana otak digunakan. Berbeda dari cakram keras komputer yang menyimpan data secara pasif, otak manusia menyimpan memori melalui proses aktif yang disebut berpikir. Koneksi antarsel saraf hanya terbentuk dan diperkuat melalui paparan terhadap tantangan kognitif. Dengan kata lain, otak bekerja seperti otot. Ia berkembang hanya jika diberi beban. Tanpa stimulasi yang cukup bermakna, koneksi-koneksi itu melemah dan kemampuan berpikir kritis ikut terdegradasi.
Einstein sendiri pernah menyatakan bahwa keunggulannya bukan terletak pada kecerdasan bawaan, melainkan pada kesediaannya untuk bertahan lebih lama dalam kerumitan. Artinya, otak bersifat plastis, ia bisa berubah ke arah yang lebih baik atau lebih buruk bergantung pada bagaimana kita memperlakukannya setiap hari.
Kembali pada gadis 13 tahun di RSJ Soeradja tadi. Kasusnya bukan anomali, melainkan titik ekstrem dari sebuah spektrum yang sebenarnya sudah menyentuh hampir semua dari kita. Respons yang diperlukan bukan hanya pembatasan layar untuk anak-anak, melainkan kesadaran yang lebih dalam tentang bagaimana kita, sebagai individu maupun masyarakat, memperlakukan aset paling berharga yang kita miliki: kemampuan berpikir.
Sebab pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya soal ketiadaan gangguan, melainkan soal seberapa utuh kita masih mampu hadir, berpikir, dan memahami diri sendiri.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

