Khoirul Nikmah, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS.
Kenaikan harga BBM yang terjadi bersamaan dengan melemahnya rupiah tentu memberikan tekanan yang lebih besar kepada masyarakat. Terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi isu yang mendapat perhatian besar dari masyarakat. Hal ini bukan tanpa alasan, tetapi karena BBM memiliki peran penting dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika harga BBM mengalami kenaikan, dampaknya tidak berhenti pada biaya membeli bahan bakar kendaraan, tetapi juga merambat pada biaya transportasi, harga barang kebutuhan pokok, hingga daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan biaya berbagai komoditas meningkat. Masyarakat kecil akhirnya menghadapi dua tekanan ekonomi sekaligus, yaitu pengeluaran harian yang bertambah dan kemampuan membeli barang-barang kebutuhan yang semakin terbatas.
Kenaikan harga BBM, terutama jenis non-subsidi seperti Pertamax, secara langsung memengaruhi pengeluaran masyarakat pengguna kendaraan pribadi. Dampak tersebut juga dirasakan oleh pelaku usaha yang bergantung pada transportasi dalam menjalankan aktivitas ekonominya.
Setelah pertamax mengalami perubahan harga, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan jumlah bahan bakar yang sama. Bagi sebagian masyarakat dengan pendapatan tetap, kenaikan tersebut mungkin terlihat kecil dalam hitungan satu kali pengisian. Namun, jika dihitung dalam jangka panjang, tambahan pengeluaran tersebut dapat menjadi beban tersendiri, terutama bagi pekerja harian seperti pengemudi ojek daring, pedagang kecil, kurir, dan pekerja sektor informal lainnya.
Dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan, tetapi juga dapat memengaruhi harga barang kebutuhan sehari-hari. Transportasi adalah bagian penting dalam proses distribusi barang, mulai dari pengangkutan hasil pertanian, pengiriman produk ke pasar, hingga kegiatan sehari-hari juga mengendarai mobil atau motor.
Ketika biaya bahan bakar meningkat, biaya distribusi pun berpotensi naik. Kondisi ini kemudian dapat mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok seperti beras, sayuran, minyak goreng, dan bahan pangan lainnya. Sehingga, masyarakat harus membayar lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan yang sama.
Kondisi ini menjadi semakin berat ketika nilai tukar rupiah ikut melemah. Ketika nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing turun, terutama dolar Amerika Serikat, biaya untuk membeli barang atau bahan baku dari luar negeri akan menjadi lebih mahal. Padahal, Indonesia masih bergantung pada beberapa produk impor, termasuk bahan yang berkaitan dengan pangan dan energi.
Akibatnya, kenaikan biaya impor dapat ikut mendorong naiknya harga barang di dalam negeri. Jadi, masyarakat tidak hanya harus menghadapi biaya transportasi yang meningkat akibat kenaikan BBM, tetapi juga harus bersiap dengan kemungkinan naiknya harga kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan harga BBM yang terjadi bersamaan dengan melemahnya rupiah tentu memberikan tekanan yang lebih besar kepada masyarakat. Terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Bagi sebagian orang, kenaikan harga mungkin masih bisa diatasi, tetapi bagi masyarakat kecil perubahan harga sedikit saja bisa cukup terasa. Ketika harga kebutuhan pokok, transportasi, dan kebutuhan lainnya ikut naik, mereka harus pintar-pintar mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Meski kenaikan harga BBM sering dianggap memberatkan masyarakat, kebijakan tersebut pastinya memiliki alasan dan pertimbangan tertentu dari pemerintah. Salah satunya berkaitan dengan beban subsidi energi yang semakin besar.
Pemerintah juga berupaya menjaga agar BBM bersubsidi tetap terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan. Namun, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya soal ada atau tidaknya kenaikan harga, melainkan bagaimana subsidi tersebut benar-benar sampai kepada orang yang tepat.
Menurut saya, persoalan BBM bukan hanya tentang bagaimana menjaga agar harganya tidak naik, tetapi juga bagaimana Indonesia bisa punya sistem energi yang lebih kuat. Selama kebutuhan energi masih banyak bergantung pada impor, Indonesia akan tetap mudah terdampak ketika harga minyak dunia naik atau nilai rupiah melemah.
Karena itu, pemerintah perlu mulai memperkuat sumber energi dari dalam negeri, mencari alternatif energi lain, dan membuat kebijakan yang benar-benar bisa membantu masyarakat, terutama mereka yang paling merasakan dampaknya.
Selain itu, setiap kebijakan ekonomi sebaiknya tidak hanya dilihat dari angka inflasi atau nilai tukar saja, tetapi juga dari bagaimana dampaknya dirasakan oleh masyarakat sehari-hari. Jangan sampai kebijakan yang dibuat untuk menjaga kondisi ekonomi justru membuat masyarakat kecil semakin kesulitan.
Kenaikan harga BBM dan melemahnya rupiah menjadi pengingat bahwa pemerintah perlu memiliki rencana jangka panjang agar masyarakat tidak terus menjadi pihak yang paling terdampak ketika kondisi ekonomi berubah. Karena itu, menjaga kestabilan ekonomi, memperkuat energi dalam negeri, dan melindungi daya beli masyarakat harus menjadi hal yang terus diperhatikan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

