Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian

Redaktur Opini
Last updated: Maret 19, 2026 9:23 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N adalah mahasiswa UIN Walisongo jurusan Al-Qur’an dan Tafsir.

Hampir seluruh masyarakat menjadikan Lebaran sebagai panggung pamer dan validasi antar sanak saudara.

 

Pernahkah kamu merasa lebih lelah setelah Lebaran daripada sebelumnya? Bukan karena perjalanan mudiknya, tapi karena pertanyaan-pertanyaannya.

“Kapan nikah?”

“Kerja di mana sekarang?”

“Gajinya sudah naik?”

Selamat datang di arena Lebaran, ketika ketupat bukan satu-satunya yang “dimakan”.

Lebaran sejatinya sakral, isinya maaf-memaafkan, mempererat silaturahmi, memulai lembaran baru. Tapi entah sejak kapan, momen suci ini menjelma kompetisi tahunan tanpa hadiah yang jelas.

Seketika semua beradu validasi, semua ingin terlihat “cukup.” Di momen yang seharusnya menghapus dosa, kita malah sibuk menambah dosa baru.

Menariknya, fenomena ini bukan sekadar tradisi lokal. Film Thunderbolts dari Marvel pun mengangkat isu serupa, yaitu ketika musuh terkuat bukan alien atau robot raksasa, melainkan manusia biasa yang tak pernah merasa diakui: tumbuh dari kekosongan validasi, lalu ketika diberi kekuatan ingin menguasai dunia, sehingga semuanya bisa diaturnya sendiri. Tujuannya agar tervalidasi apa yang dilakukannya.

Fiksi? Iya. Tapi benang merah antara Lebaran dan Thunderbolts itu nyata dan mengusik. Keduanya bercerita tentang manusia yang rapuh, yang ingin terlihat kuat, yang haus pengakuan. Yang satu dimainkan di layar IMAX dengan scoring orkestra. Yang satunya lagi dimainkan di ruang tamu, dengan aroma opor dan suara sendok beradu piring sebagai latar, tanpa efek CGI, tapi dengan luka yang sama nyatanya.

Kembali ke ruang keluarga kita, di sinilah manusia-manusia lemah itu harus bersandiwara. Berbohong demi terlihat baik-baik saja. Punya utang tapi bilang “lagi nabung.” Belum dapat kerja tapi bilang “masih nunggu penempatan yang cocok.” Hampir seluruh masyarakat menjadikan Lebaran sebagai panggung pamer dan validasi antar sanak saudara. Dan meski dianggap lumrah, kebiasaan sepele ini menyimpan dampak yang tidak sepele. Kesehatan mental yang perlahan terkikis oleh satu pertanyaan demi satu pertanyaan lainnya.

Isu mental health memang makin sering terdengar hari-hari ini, di media sosial hingga warung kopi. Pengalaman penulis dalam sebuah sesi ngobrol sambil ngopi bersama teman-teman, muncul pernyataan yang menggelitik sekaligus memprihatinkan. “Lebih baik gila daripada sehat, karena yang sehat justru yang paling banyak menanggung beban.”

Tidak ada data ilmiah yang mendukung pernyataan ini, tentu saja. Tapi kalimat itu lahir dari rasa lelah yang nyata, serta tekanan ekonomi. Ekspektasi sosial dan sistem dunia yang terasa tidak pernah berpihak pada orang banyak. Hanya pada segelintir pihak yang mengendalikan modalnya.

Di tengah kelelahan itu, kita sering lupa bahwa kita punya kendali atas satu hal, yaitu narasi kita sendiri. Andreas Kurniawan, dalam bukunya Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Selanjutnya mengingatkan bahwa hidup adalah kisah yang terus disusun dan dimaknai ulang.

Yang menentukan bukan hanya apa yang terjadi, tapi cerita apa yang kita pilih untuk dipercaya. Kita bisa memandang “kapan nikah?” sebagai serangan, atau sekadar suara bising latar yang tak perlu dan hanya mengusik ketenangan kita.

Dan di situlah ojo gumun menemukan maknanya yang paling dalam. Jangan mudah takjub, jangan terlalu sibuk menoleh ke piring tetangga, sampai lupa bahwa piring sendiri pun sudah ada isinya.

Lebaran seharusnya bukan soal siapa yang paling jauh melangkah, tapi soal pulang. Dan pulang yang sesungguhnya bukan sekadar kembali ke kampung halaman, melainkan kembali ke diri sendiri, tanpa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Dalang di Balik Perpecahan PPP dan Bayangan Jokowi

Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

Wajar Kami Marah, Kekerasan Seksual di Kampus Semakin Parah

Semasa Kecil di Sawah

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Mudik Seru, tapi Nahan Pipis Bisa Jadi Masalah
Next Article Lebaran di Balai Kota: Shalat Bareng Warga, Sekalian Ngobrol Sama Wali Kota? Gas!

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

TERBAKAR - KM Mutiara Sentosa 2 jurusan Surabaya-Makassar terbakar di tengah Perairan Sumenep, Minggu (3//8/2026). (ist)

Tragedi KM Mutiara Sentosa 2 Jurusan Surabaya-Makassar Terbakar: 5 Penumpang Tewas, 41 Hilang

Approval Merosot, Kabinet Prabowo Didorong Diacak Ulang

Pancaroba, Gadget Begadang Bikin Imun Anak Ikut Drop

Dugaan Bully di MTs Pati, Dua Jari Siswa Hilang

Agustina Pastikan Dana Rp25 Juta per RT Benar-Benar Dipakai Warga

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Kepolisian di saat Presiden Prabowo juga sedang membentuk Tim Reformasi Kepolisian dari eksternal kepolisian. Foto: dok.
Opini

Polisi Masa Kini: Antara Transformasi Serius dan Upgrade Aplikasi yang Masih Loading

September 15, 2025
Opini

Ronaldo, Messi, dan Fanatisme Sepak Bola di Indonesia

Juli 21, 2026
Opini

Perempuan Itu Jatuh Berkali-Kali Tetapi Tetap Bangkit dan Terus Bertahan

November 17, 2025
Opini

Sisi Gelap Logika Efisiensi

Mei 25, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?