Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan

Redaktur Opini
Last updated: Maret 12, 2026 7:26 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Hal yang dihargai bukan kapasitas menjelaskan situasi secara kompleks, tetapi cara menghasilkan komentar yang cepat, tajam, dan mudah disebarkan.

 

Beberapa waktu terakhir, sebuah konflik personal antara dua orang bisa berubah menjadi perdebatan nasional hanya dalam hitungan jam. Ketika sebuah kasus viral di media sosial, ribuan komentar segera bermunculan.

Ada yang mencoba menafsirkan peristiwa. Ada yang menilai siapa yang bersalah. Tetapi tidak sedikit pula yang menjadikannya bahan ejekan. Percakapan yang seharusnya berangkat dari sebuah tragedi atau konflik manusia sering dengan cepat bergeser menjadi ajang saling olok-olok di antara para penonton digital.

Fenomena ini menunjukkan perubahan menarik dalam cara masyarakat berinteraksi dengan sebuah peristiwa. Konflik yang pada dasarnya bersifat interpersonal, dan melibatkan dua individu, dengan konteks relasi yang rumit sering diperlakukan sebagai panggung komentar kolektif.

Alih-alih mencoba memahami situasi, atau menahan penilaian sampai fakta lebih jelas, banyak orang justru berlomba menghasilkan komentar yang paling tajam, paling sinis, atau paling mengundang reaksi. Dalam ruang yang dipenuhi audiens anonim, ejekan sering menjadi bentuk ekspresi yang paling cepat menarik perhatian.

Fenomena ini bisa dipahami jika kita melihat interaksi di media sosial sebagai bentuk dramaturgi sosial. Dalam perspektif ini, ruang digital bekerja seperti panggung untuk menampilkan diri di hadapan audiens yang luas.

Ketika seseorang menulis komentar, yang dipikirkan tidak selalu hanya lawan bicara. Ia juga memikirkan agar komentarnya akan terlihat oleh orang lain yang membaca. Komentar yang sarkastik atau mengejek sering lebih efektif sebagai performa sosial dibandingkan argumen yang panjang dan hati-hati.

Logika ini diperkuat oleh cara platform media sosial bekerja dalam ekonomi perhatian. Sistem distribusi konten cenderung mendorong unggahan yang menghasilkan interaksi tinggi seperti komentar, reaksi, dan perdebatan. Konten yang memicu emosi kuat sering lebih cepat menyebar daripada penjelasan yang hati-hati.

Tanpa disadari, pola ini menciptakan insentif bagi gaya komunikasi yang lebih provokatif. Ditambah, komentar yang tajam atau menghina sering memperoleh perhatian yang lebih besar dibandingkan upaya menjelaskan konteks secara lebih hati-hati.

Ada juga faktor psikologis yang dikenal sebagai online disinhibition effect. Komunikasi digital menciptakan jarak sosial yang cukup besar. Orang tidak melihat ekspresi wajah lawan bicara dan tidak merasakan secara langsung dampak emosional dari kata-kata mereka.

Banyak percakapan juga terjadi di hadapan audiens anonim. Kondisi ini membuat batasan sosial yang biasanya menahan seseorang untuk tidak menghina orang lain menjadi lebih lemah. Akibatnya, ejekan atau komentar sinis menjadi lebih mudah muncul.

Ketika kondisi panggung sosial, ekonomi perhatian, dan jarak psikologis ini bertemu, perdebatan di media sosial mudah berubah menjadi kompetisi retorika. Akibatnya, hal yang dihargai bukan kapasitas menjelaskan situasi secara kompleks, tetapi cara menghasilkan komentar yang cepat, tajam, dan mudah disebarkan. Dalam proses tersebut, konflik interpersonal yang sebenarnya melibatkan manusia nyata dengan konteks yang rumit sering berubah menjadi sekadar bahan tontonan kolektif.

Jika demikian, mungkin pertanyaannya bukan lagi terkait alasan debat di media sosial begitu mudah berubah menjadi ejekan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah media sosial memang bisa diposisikan sebagai ruang debat yang objektif? Atau barangkali sejak awal ia lebih tepat dipahami sebagai ruang ekspresi diri yang kebetulan terlihat seperti diskusi publik.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

BoP Kesalahan Paling Epik Prabowo

Demokratisasi Akses Literasi Hukum Sejak Bangku Sekolah Dasar

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pemprov Gelar Cek Kesehatan Sopir Bus
Next Article Wali Kota Solo Respati Ardi memberikan arahan pelaksanaan Ground Check PBI JK di kantor Dinas Sosial Surakarta, Rabu (11/3/2026). Gelar Ground Check PBI JK, Wali Kota Solo Respati: Biar Bantuan Nggak Salah Sasaran

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Piala U-13 Semarang Jadi Jalan Ninja ke Sepak Bola Profesional

Sumarno Minta Event Kejurnas di Jateng Diperbanyak

Kota Lama Sudah Glow Up, Tapi Masih Sepi Nyawa

Pawai Ogoh-Ogoh: Semarang Nggak Cuma Ramai, Tapi Juga “Rukun Level Dewa”

PSIS Selamat dari Zona Panas, Rival Kepeleset di Detik Terakhir

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Satu Tahun Agustina-Iswar: Saatnya Melompat Lebih Tinggi

Februari 22, 2026
Presiden Prabowo Subianto akhirnya resmi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025. Dalam Prepres ini, Pemerintah bakal menaikkan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya buat guru, dosen, tenaga kesehatan, penyuluh, TNI/Polri, dan pejabat negara.
Opini

Naikin Gaji ASN, Prabowo Main Aman atau Efisien?

September 20, 2025
Opini

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

November 24, 2025
Kedatangan Jokowi ke kediaman Presiden Prabowo pada Sabtu, 4 Oktober 2025 membuat publik bertanya-tanya. ada apa gerangan sang mantan presiden itu menemui presiden?
Opini

Pertemuan Jokowi–Prabowo: Silaturahmi, Gimmick atau Sinyal Politik?

Oktober 7, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mengapa Perdebatan di Media Sosial Mudah Berakhir Ejekan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?