Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Musyawarah di Media Sosial Hanya Ilusi Belaka?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
InfoOpini

Musyawarah di Media Sosial Hanya Ilusi Belaka?

Redaktur Opini
Last updated: Juli 13, 2026 3:05 pm
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Banyak interaksi yang terjadi lebih menyerupai ekspresi diri di hadapan audiens daripada upaya mencari pemahaman bersama melalui pertukaran argumen.

Setiap kali muncul isu politik, konflik personal, atau kontroversi publik, ribuan komentar segera membanjiri media sosial. Sebagian pengguna mencoba menjelaskan persoalan, menyajikan data, atau membangun argumen. Namun, tidak sedikit yang justru lebih sibuk menyindir, mengejek, atau menunjukkan keberpihakan terhadap kelompok tertentu.

Akibatnya, perdebatan yang semula tampak sebagai ruang pertukaran gagasan sering berubah menjadi arena saling serang. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang menarik: apakah media sosial benar-benar merupakan ruang deliberatif, yaitu sebuah ruang yang mengedepankan proses pertimbangan, diskusi mendalam, dan musyawarah? Atau jangan-jangan selama ini kita hanya menganggapnya demikian, padahal kenyataannya justru berlaku sebaliknya?

Harapan bahwa media sosial dapat menjadi ruang deliberatif bukan tanpa alasan. Pemikir Jürgen Habermas melalui konsep ruang publik menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan arena untuk bertukar argumen secara rasional dalam membentuk opini publik. Dalam ruang semacam itu, kualitas argumen lebih penting daripada status sosial pembicaranya.

Kehadiran media sosial sempat dipandang sebagai perluasan ruang publik. Itu disebabkan karena di sana memungkinkan siapa saja menyampaikan pendapat, mengakses informasi, dan terlibat dalam diskusi yang sebelumnya lebih sulit dilakukan. Namun, asumsi bahwa media sosial secara otomatis menjadi ruang deliberatif tampaknya terlalu optimistis.

Dalam praktiknya, tidak semua orang memasuki media sosial dengan tujuan berdiskusi atau mencari pemahaman bersama. Banyak pengguna justru memanfaatkannya untuk mengekspresikan diri, menunjukkan identitas, atau memperoleh pengakuan dari orang lain. Di sinilah pandangan Erving Goffman menjadi relevan. Melalui perspektif dramaturgi, Goffman melihat kehidupan sosial sebagai panggung tempat individu menampilkan dirinya di hadapan audiens.

Seseorang tidak hanya berbicara kepada lawan bicaranya, tetapi juga kepada orang-orang yang menyaksikan interaksi tersebut. Logika ini sangat terlihat ketika kita melihat komentar yang ada di media sosial. Ketika seseorang menulis komentar, ia tidak hanya berkomunikasi dengan orang yang ditanggapi, tetapi juga dengan ratusan atau ribuan pengguna lain yang mungkin membaca komentarnya.

Dalam situasi seperti itu, komentar yang tajam, lucu, emosional, atau provokatif sering kali lebih menarik dibandingkan argumen yang panjang dan hati-hati. Yang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran argumen, tetapi juga citra diri dan perhatian audiens.

Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh cara platform media sosial bekerja. Herbert Simon pernah mengingatkan bahwa dalam dunia yang kaya informasi, sumber daya yang paling langka justru adalah perhatian manusia. Inilah yang kemudian dikenal sebagai ekonomi perhatian.

Platform digital bersaing untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Akibatnya, konten yang memicu emosi kuat, kontroversi, atau konflik sering memperoleh jangkauan yang lebih luas dibandingkan penjelasan yang kompleks dan bernuansa. Sistem ini secara tidak langsung memberi insentif pada performa dan reaksi cepat. Bukan pada proses deliberasi yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Dalam kondisi seperti itu, media sosial memang dapat menjadi ruang pertukaran informasi. Tetapi belum tentu menjadi ruang deliberatif dalam pengertian yang dibayangkan Habermas. Banyak interaksi yang terjadi lebih menyerupai ekspresi diri di hadapan audiens daripada upaya mencari pemahaman bersama melalui pertukaran argumen.

Perdebatan tetap terjadi, tetapi sering kali berjalan sejajar tanpa benar-benar menghasilkan perubahan pandangan. Jika demikian, mungkin persoalannya bukan karena media sosial gagal menjadi ruang deliberatif. Mungkin sejak awal media sosial lebih dekat dengan ruang ekspresi diri yang kebetulan terlihat seperti ruang diskusi publik.

Jika asumsi itu benar, pertanyaannya bukan lagi mengapa perdebatan di media sosial sering berakhir konflik. Melainkan apakah kita selama ini menaruh harapan yang keliru terhadap fungsi media sosial itu sendiri?(*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

KPK Pasang Alarm buat Proyek Kipas Kopdes

Dorong Inklusi, Nawal Yasin Minta Program Difabel Masuk ke Kecamatan Berdaya

NIK Jadi Identitas Tunggal, Warga Tak Lagi Repot Fotokopi KTP

Libur Panjang Datang, Jateng Bersiap Diserbu 7,8 Juta Pelancong

BPBD Terapkan Sistem Injeksi untuk Atasi Bara Api TPA Jatibarang

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article SAMBUT SISWA: Guru kelas dan badut menyambut 3 siswa baru SDN Purwoyoso 1 Semarang dalam rangkaian MPLS, Senin (13/7/2026). (Foto: bae) SDN Purwoyoso 1 Cuma Terima 3 Murid Baru, MPLS Tetap Dibikin Serasa Pesta
Next Article NAIK TRANS JATENG - Penumpang hendak naik armada Trans Jateng di bekas Terboyo, Semarang. (dul) Jekuti Butuh Trans Jateng! MTI: Ekonomi Terus Tumbuh, Jangan Tunggu Macet Makin Parah

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Rudal Houthi Mengancam, WNI di Saudi Diminta Waspada

Ilustrasi hakim sidang di pengadilan.

MA Ultimatum Hakim Nakal: Dagang Perkara, Siap Dipecat!

Murid Tak Naik Kelas pada 2027, DPR Minta Dikaji Ulang

PINDAH LAPAS: Puluhan napi Lapas Semarang menuruni kapal saat proses pemindahan ke Nusakambangan. (ist)

36 Napi Lapas Semarang Dipindah ke Nusakambangan

Patah Hati Gara-Gara Rocky Gerung

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Turnamen FF, Event Clash Squad 4v4, yang digelar di Warmindo Mayoritas, Semarang, diserbu ratusan peserta.
Olahraga

Mode Clash Squad Kian Ngetren, Turnamen FF 4v4 di Warmindo Mayoritas Dipenuhi Peserta

April 19, 2026
PESAWAT CITILINK‐-Pesawat Citilink terparkir di apron Bandara Ahmad Yani Semarang. (ist)
Ekonomi

Citilink Tambah Penerbangan Semarang-Jakarta, Pilihan Jam Makin Banyak

Agustus 23, 2026
Ekonomi

Investor Silakan Masuk, Luthfi: Tapi Jangan Lupa Warga Lokal

Mei 6, 2026
DIPECAT - Presiden Prabowo Subianto memecat Dadan Hindayana dari Kepala BGN. (ist)
Info

BREAKING NEWS: Prabowo ‘Pecat’ Kepala BGN Dadan, 2 Purnwirawan Jenderal Ikut Dicopot

Juni 2, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Musyawarah di Media Sosial Hanya Ilusi Belaka?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?