Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Banyak interaksi yang terjadi lebih menyerupai ekspresi diri di hadapan audiens daripada upaya mencari pemahaman bersama melalui pertukaran argumen.
Setiap kali muncul isu politik, konflik personal, atau kontroversi publik, ribuan komentar segera membanjiri media sosial. Sebagian pengguna mencoba menjelaskan persoalan, menyajikan data, atau membangun argumen. Namun, tidak sedikit yang justru lebih sibuk menyindir, mengejek, atau menunjukkan keberpihakan terhadap kelompok tertentu.
Akibatnya, perdebatan yang semula tampak sebagai ruang pertukaran gagasan sering berubah menjadi arena saling serang. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang menarik: apakah media sosial benar-benar merupakan ruang deliberatif, yaitu sebuah ruang yang mengedepankan proses pertimbangan, diskusi mendalam, dan musyawarah? Atau jangan-jangan selama ini kita hanya menganggapnya demikian, padahal kenyataannya justru berlaku sebaliknya?
Harapan bahwa media sosial dapat menjadi ruang deliberatif bukan tanpa alasan. Pemikir Jürgen Habermas melalui konsep ruang publik menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan arena untuk bertukar argumen secara rasional dalam membentuk opini publik. Dalam ruang semacam itu, kualitas argumen lebih penting daripada status sosial pembicaranya.
Kehadiran media sosial sempat dipandang sebagai perluasan ruang publik. Itu disebabkan karena di sana memungkinkan siapa saja menyampaikan pendapat, mengakses informasi, dan terlibat dalam diskusi yang sebelumnya lebih sulit dilakukan. Namun, asumsi bahwa media sosial secara otomatis menjadi ruang deliberatif tampaknya terlalu optimistis.
Dalam praktiknya, tidak semua orang memasuki media sosial dengan tujuan berdiskusi atau mencari pemahaman bersama. Banyak pengguna justru memanfaatkannya untuk mengekspresikan diri, menunjukkan identitas, atau memperoleh pengakuan dari orang lain. Di sinilah pandangan Erving Goffman menjadi relevan. Melalui perspektif dramaturgi, Goffman melihat kehidupan sosial sebagai panggung tempat individu menampilkan dirinya di hadapan audiens.
Seseorang tidak hanya berbicara kepada lawan bicaranya, tetapi juga kepada orang-orang yang menyaksikan interaksi tersebut. Logika ini sangat terlihat ketika kita melihat komentar yang ada di media sosial. Ketika seseorang menulis komentar, ia tidak hanya berkomunikasi dengan orang yang ditanggapi, tetapi juga dengan ratusan atau ribuan pengguna lain yang mungkin membaca komentarnya.
Dalam situasi seperti itu, komentar yang tajam, lucu, emosional, atau provokatif sering kali lebih menarik dibandingkan argumen yang panjang dan hati-hati. Yang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran argumen, tetapi juga citra diri dan perhatian audiens.
Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh cara platform media sosial bekerja. Herbert Simon pernah mengingatkan bahwa dalam dunia yang kaya informasi, sumber daya yang paling langka justru adalah perhatian manusia. Inilah yang kemudian dikenal sebagai ekonomi perhatian.
Platform digital bersaing untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Akibatnya, konten yang memicu emosi kuat, kontroversi, atau konflik sering memperoleh jangkauan yang lebih luas dibandingkan penjelasan yang kompleks dan bernuansa. Sistem ini secara tidak langsung memberi insentif pada performa dan reaksi cepat. Bukan pada proses deliberasi yang membutuhkan waktu dan kesabaran.
Dalam kondisi seperti itu, media sosial memang dapat menjadi ruang pertukaran informasi. Tetapi belum tentu menjadi ruang deliberatif dalam pengertian yang dibayangkan Habermas. Banyak interaksi yang terjadi lebih menyerupai ekspresi diri di hadapan audiens daripada upaya mencari pemahaman bersama melalui pertukaran argumen.
Perdebatan tetap terjadi, tetapi sering kali berjalan sejajar tanpa benar-benar menghasilkan perubahan pandangan. Jika demikian, mungkin persoalannya bukan karena media sosial gagal menjadi ruang deliberatif. Mungkin sejak awal media sosial lebih dekat dengan ruang ekspresi diri yang kebetulan terlihat seperti ruang diskusi publik.
Jika asumsi itu benar, pertanyaannya bukan lagi mengapa perdebatan di media sosial sering berakhir konflik. Melainkan apakah kita selama ini menaruh harapan yang keliru terhadap fungsi media sosial itu sendiri?(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

