BACAAJA, SEMARANG – Kawasan Jepara-Kudus-Pati (Jekuti) merupakan salah satu pusat ekonomi di Jateng. Namun, hingga saat ini kawasan Jekuti belum tersentuh layanan transportasi publik aglomerasi yang memadai.
Karena itu, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera menghadirkan layanan Trans Jateng di koridor Jekuti.
Sekretaris MTI Wilayah Jawa Tengah, Anastasia Yulianti, mengatakan aktivitas ekonomi di kawasan Jekuti terus tumbuh.
Bacaaja: Mulai 2027, Trans Jateng Sambungkan Magelang-Temanggung
Bacaaja: Dukung Bus Listrik Trans Jateng, Saleh: Transportasi Publik Nyaman dan Ramah Lingkungan
Kudus menjadi pusat industri pengolahan, Jepara dikenal sebagai sentra mebel dan garmen, sedangkan Pati menopang sektor pertanian, perikanan, hingga agroindustri.
Sayangnya, tingginya aktivitas tersebut belum diimbangi dengan layanan angkutan massal yang layak.
“Output ekonomi yang besar belum diimbangi penyediaan angkutan massal yang modern dan memadai,” ujar Anastasia, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, Kudus menjadi tujuan utama perjalanan masyarakat dari wilayah sekitarnya. Sekitar 72 persen perjalanan keluar dari Jepara mengarah ke Kudus, sementara dari Pati mencapai 73 persen.
Di sisi lain, angkutan umum di kawasan itu justru terus menyusut. Armada semakin berkurang, jadwal operasional tidak menentu, hingga membuat masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi.
“Sebanyak 74 hingga 89 persen perjalanan harian kini menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor,” katanya.
Kondisi tersebut berdampak pada semakin padatnya arus lalu lintas, terutama di jalur Pantura Timur. Bahkan, tingkat kejenuhan lalu lintas di ruas Batas Demak–Jepara hingga Margoyoso tercatat mencapai 1,16, sedangkan Jalan Lingkar Juwana mencapai 1,83, yang berarti volume kendaraan sudah melampaui kapasitas jalan.
Tak hanya itu, dalam lima tahun terakhir jumlah armada angkutan umum di kawasan Jekuti juga terus menurun. Bahkan di Kudus, jumlah armada disebut berkurang hingga 30 persen.
“Sebagian angkot dan angkudes kini lebih banyak dimanfaatkan sebagai angkutan carter dibanding melayani penumpang reguler,” ungkapnya.
MTI menilai kehadiran Trans Jateng di koridor Jekuti bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus memperkuat konektivitas antardaerah.
Selain mempermudah mobilitas warga, layanan tersebut juga dinilai penting untuk mendukung perjalanan para pekerja menuju kawasan industri seperti Mayong, Kalinyamatan, Jekulo, hingga Margorejo.
“Realisasi Trans Jateng di koridor Jekuti sudah tidak bisa ditunda lagi. Layanan ini penting untuk menjamin mobilitas pekerja dan menjaga produktivitas ekonomi kawasan,” tegas Anastasia. (*)

