Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Rupiah Loyo, Baju Sampai Sepatu Minggu Depan Harganya Naik
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Rupiah Loyo, Baju Sampai Sepatu Minggu Depan Harganya Naik

Kekhawatiran itu disampaikan kalangan pengusaha yang melihat tekanan kurs belum juga mereda. Meski saat ini harga barang di banyak mal masih relatif stabil, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama jika nilai tukar rupiah terus berada di level yang tinggi terhadap dolar AS.

Nugroho P.
Last updated: Juni 9, 2026 5:34 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi dagangan di mall.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Masyarakat yang gemar berburu koleksi fashion di pusat perbelanjaan tampaknya perlu bersiap menghadapi kemungkinan harga yang lebih tinggi dalam waktu dekat. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS mulai membuat pelaku ritel waswas, terutama untuk produk-produk yang banyak bergantung pada impor.

Kekhawatiran itu disampaikan kalangan pengusaha yang melihat tekanan kurs belum juga mereda. Meski saat ini harga barang di banyak mal masih relatif stabil, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama jika nilai tukar rupiah terus berada di level yang tinggi terhadap dolar AS.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengungkapkan bahwa stok barang yang saat ini beredar di pusat perbelanjaan sebagian besar masih berasal dari pengadaan beberapa bulan lalu. Karena itu, dampak pelemahan kurs belum sepenuhnya terasa di rak-rak toko.

Menurutnya, masa yang paling krusial diperkirakan mulai memasuki Juli 2026. Saat itu banyak pelaku usaha harus menyelesaikan pembayaran impor dengan kurs terbaru yang lebih mahal dibanding sebelumnya.

Situasi tersebut berpotensi memicu penyesuaian harga di sejumlah kategori produk yang selama ini menjadi andalan pusat perbelanjaan. Produk fashion disebut menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Mulai dari sepatu, pakaian, hingga tas diperkirakan bisa mengalami kenaikan harga apabila tekanan kurs dolar AS terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Beban biaya impor yang meningkat menjadi faktor utama yang mendorong potensi penyesuaian tersebut.

Pelaku usaha sebenarnya sudah berusaha menahan kenaikan harga selama mungkin. Namun kemampuan itu sangat bergantung pada ketersediaan stok yang masih tersimpan di gudang maupun toko.

Budihardjo menjelaskan bahwa sepanjang tahun ini pelaku ritel sudah menghadapi tantangan cukup berat. Bahkan sejumlah produk disebut telah mengalami kenaikan harga hingga dua kali akibat terbatasnya pasokan barang impor.

Masalah yang dihadapi bukan hanya soal kurs mata uang. Kesulitan memasukkan barang dari luar negeri juga ikut mempersempit stok yang tersedia di pasar.

Ketika stok mulai menipis sementara permintaan tetap ada, ruang bagi pelaku usaha untuk menahan harga menjadi semakin sempit. Kondisi inilah yang membuat para peritel berharap ada solusi cepat dari pemerintah.

Menurut mereka, kemudahan proses impor dapat membantu menjaga pasokan tetap aman sehingga gejolak harga bisa ditekan. Semakin lancar arus barang masuk, semakin besar peluang harga bertahan lebih stabil.

Pelaku usaha menilai brand-brand besar yang sudah memiliki jaringan toko resmi di pusat perbelanjaan seharusnya mendapat kemudahan dalam mengurus kebutuhan impor mereka.

Dengan stok yang cukup, toko tidak perlu terburu-buru menaikkan harga kepada konsumen. Sebaliknya, jika pasokan tersendat, tekanan biaya akan lebih cepat diteruskan ke harga jual.

Di tengah kekhawatiran sektor ritel, pelemahan rupiah ternyata tidak selalu menjadi kabar buruk bagi semua pelaku usaha. Beberapa sektor justru menikmati keuntungan dari kondisi tersebut.

Sektor komoditas menjadi salah satu yang paling diuntungkan. Perusahaan yang menjual produknya ke pasar internasional menerima pembayaran dalam dolar AS sehingga pendapatannya ikut meningkat ketika dikonversi ke rupiah.

Industri kelapa sawit menjadi contoh yang sering disebut sebagai penerima manfaat. Penjualan crude palm oil atau CPO ke luar negeri menghasilkan devisa dalam dolar yang nilainya menjadi lebih besar saat ditukarkan ke mata uang domestik.

Fenomena serupa juga dirasakan perusahaan pertambangan. Komoditas seperti batu bara, nikel, tembaga, dan emas yang dipasarkan ke luar negeri memberikan pendapatan lebih tinggi ketika kurs dolar menguat.

Keuntungan itu semakin terasa karena sebagian besar biaya operasional perusahaan masih menggunakan rupiah. Selisih antara pendapatan dolar dan biaya lokal menciptakan ruang keuntungan yang lebih lebar.

Selain sektor komoditas, dunia pariwisata juga berpotensi ikut tersenyum. Rupiah yang melemah membuat Indonesia menjadi destinasi yang lebih murah bagi wisatawan asing.

Dengan jumlah uang yang sama, turis mancanegara bisa mendapatkan lebih banyak rupiah untuk membayar hotel, transportasi, makanan, hingga berbagai aktivitas wisata selama berlibur di Indonesia.

Karena itu, saat sebagian pelaku usaha ritel mulai cemas menghadapi ancaman kenaikan harga barang impor, sektor ekspor dan pariwisata justru melihat peluang besar di balik pelemahan mata uang nasional. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak kurs tidak selalu sama bagi semua sektor, ada yang tertekan, tetapi ada pula yang menikmati berkahnya. (*)

You Might Also Like

Next Indonesia: Perluasan Jargas Jadi Kunci Tekan Subsidi LPG

Duh, Disnaker Jateng Belum Bisa Nentuin Kapan UMP Diketok

Catat Jadwalnya! Ini Alasan Kamu Wajib Ikut Test Drive New Veloz Hybrid di Semarang

Bank bjb Gelar RUPST, Susi Pudjiastuti eks Menteri KKP jadi Dewan Komisaris

Menteri LH: Daerah yang Gagal Kelola Sampah ‘Dianugerahi’ Predikat Kota Kotor

TAGGED:bajurupiah loyorupiah melemahsepatu
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Siap-siap, Saat Ini AI Ikut Meracik Vaksin
Next Article TOKO BUKU KEKINIAN - Sejumlah pengunjung menikmati membaca buku di salah satu spot di toko buku Gramedia Jalma, di Jalan Pandanaran, Semarang. (dul) Gramedia Jalma Semarang: Toko Buku Kayak Tempat Healing, Ada Playground dan Kafe

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Tengah, Haryono Agus Setiawan. (bae)

Fakta Jaringan Love Scamming di Semarang, Izin Tinggal 4 WNA China Kedaluwarsa

LAYANI PELANGGAN - Pelaku usaha fotokopi di Ngaliyan, Semarang, sedang melayani pelanggan. Mereka mengaku empot-empotan menghadapi harga kertas yang terus melambung tinggi, dampak melemahnya rupiah. (dul)

Harga Kertas Melambung Tinggi, Pelaku Usaha Fotokopi Ketar-ketir

KETUA PERADI SAI SEMARANG - Ketua DPC Peradi SAI Kota Semarang, Luhut Sagala (tengah) mengumumkan perubahan nama dan logo organisasi dalam acara buka bersama anggota di Aroem Resto Semarang, Selasa (3/3/2026). (bae)

Luhut Sagala Kembali Pimpin Peradi SAI Kota Semarang, Ini Fokus Agenda Kerjanya

ROKOK - Ilustrasi produk turunan tembakau berupa rokok.

Harga Rokok Ikut Terkerek Naik Meski Tak Ada Penyesuaian Tarif Cukai

KANTONG PLASTIK - Ilustrasi pedagang memasukkan barang yang dibeli pelanggan ke dalam kantong plastik.

Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pemerhati lingkungan pesisir dari Universitas Katholik Sugijopranoto (Unika) Semarang Hotmauli Sidabalok, saat menjelaskan masalah lingkungan yang terjadi di pesisir Semarang-Demak, Sabtu (19/7/2025). Foto: BAE
Sirkular

Pembangunan Pelabuhan dan Kawasan Industri Menambah Tumpukan Masalah di Pesisir

Juli 20, 2025
Ekonomi

PDIP Semarang Buka Posko THR

Maret 12, 2026
Ekonomi

Investor Silakan Masuk, Luthfi: Tapi Jangan Lupa Warga Lokal

Mei 6, 2026
Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah saat rapat dengan Kementerian Keuangan RI di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (19/8/2025). Foto: dok.
Ekonomi

Rombongan Pimpinan BEI & OJK Mundur setelah IHSG Rontok, DPR: Itu Belum Cukup

Januari 31, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Rupiah Loyo, Baju Sampai Sepatu Minggu Depan Harganya Naik
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?