BACAAJA, KUTTOARJO – Di tengah obrolan soal kerja keras yang selalu diukur dari gaji, ada cerita beda dari sebuah desa yang justru membalik logika itu. Di sana, kerja bareng tanpa bayaran tetap jalan, bahkan mampu menghasilkan omzet yang nggak bisa dibilang kecil.
Kisah ini datang dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kutoharjo. Koperasi ini sudah aktif beroperasi, tapi yang bikin menarik, para pengurusnya sampai sekarang belum menerima gaji sepeser pun.
Meski begitu, roda usaha tetap berputar. Bahkan, dari aktivitas harian yang mereka jalankan, koperasi ini mampu mencatat omzet puluhan juta rupiah setiap bulan.
Ketua koperasi, Bambang Sudibyo, menjelaskan bahwa semangat gotong royong jadi bahan bakar utama yang membuat koperasi ini tetap hidup.
Menurutnya, jumlah anggota saat ini sudah mencapai sekitar 250 orang. Angka yang cukup menjanjikan untuk ukuran koperasi desa yang masih dalam tahap berkembang.
Menariknya, seluruh modal yang digunakan berasal dari anggota sendiri. Tidak ada suntikan dana dari pemerintah, semua dibangun dari partisipasi warga.
Untuk bisa bergabung, warga hanya perlu menyetor simpanan pokok sebesar Rp100 ribu sekali bayar, ditambah iuran wajib Rp10 ribu setiap bulan.
Sebagai gantinya, anggota berhak mendapatkan bagian keuntungan yang dibagikan melalui mekanisme rapat anggota. Jadi, sistemnya tetap transparan dan kolektif.
Proses pendaftarannya pun dibuat simpel. Cukup punya KTP domisili setempat, menyerahkan pas foto, dan mengisi formulir, seseorang sudah bisa menjadi bagian dari koperasi.
Setelah resmi terdaftar, anggota akan menerima kartu keanggotaan serta buku simpanan sebagai bukti administrasi mereka.
Dalam operasionalnya, koperasi ini dikelola oleh sembilan orang pengurus. Mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, hingga beberapa bidang lain yang saling berbagi tugas.
Saat ini, kegiatan koperasi masih menumpang di area balai desa. Fasilitas tersebut diberikan oleh pemerintah desa sebagai bentuk dukungan awal.
Meski tempatnya sederhana, aktivitasnya cukup padat. Berbagai kebutuhan pokok tersedia, mulai dari sembako, makanan ringan, minuman, hingga gas melon.
Tidak hanya itu, koperasi juga mulai merambah layanan keuangan sederhana untuk anggota, sehingga fungsinya makin terasa di tengah masyarakat.
Anggota juga mendapat prioritas dalam pembelian barang tertentu. Misalnya untuk gas melon, mereka bisa membeli sesuai harga yang sudah ditentukan tanpa khawatir langka.
Untuk menjaga harga tetap ramah di kantong, koperasi menjalin kerja sama dengan Bulog. Barang diambil langsung dari sumber, sehingga bisa ditekan biayanya.
Layanan tambahan juga terus dikembangkan. Salah satunya adalah sistem antar barang untuk anggota yang membutuhkan kemudahan.
Di balik aktivitas yang terlihat ramai itu, ada fakta yang cukup mengejutkan. Para pengurus belum menerima gaji sama sekali sejak koperasi berjalan.
Hal ini bukan tanpa alasan. Keuntungan bersih yang didapatkan masih relatif kecil, sekitar Rp1 juta per bulan.
Padahal jika dilihat dari omzet, angkanya cukup besar. Dalam sehari bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta, atau sekitar Rp50 sampai Rp60 juta per bulan secara kotor.
Selisih tersebut banyak terserap untuk biaya operasional dan pengadaan barang. Jadi, keuntungan bersih yang bisa dibagi memang masih terbatas.
Untuk mendongkrak penjualan, pengurus rutin menggelar bazar murah di berbagai dukuh. Kegiatan ini jadi cara efektif untuk menarik minat warga.
Respons masyarakat pun cukup positif. Banyak yang mulai mengenal koperasi ini dan tertarik untuk ikut bergabung.
Meski begitu, jumlah anggota masih jauh dari potensi yang ada. Dari sekitar 4.000 warga dewasa, baru sebagian kecil yang ikut.
Namun, Bambang menilai capaian ini sudah jadi langkah awal yang cukup baik. Apalagi koperasi ini masih tergolong baru.
Seiring waktu, dana yang dikelola terus bertambah. Keuntungan kecil yang ada tetap diputar kembali untuk memperkuat usaha.
Saat ini, koperasi juga belum memiliki karyawan. Semua pekerjaan masih ditangani langsung oleh para pengurus secara gotong royong.
Bagi mereka, koperasi ini bukan sekadar tempat mencari untung. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan bersama warga desa.
Sejak mulai berjalan pada Juli lalu, semangat sukarela terus dijaga. Harapannya sederhana, koperasi bisa tumbuh dan benar-benar memberi manfaat nyata.
Di saat banyak orang mengejar gaji, cerita dari Kutoharjo justru menunjukkan bahwa kerja tanpa bayaran pun bisa menghasilkan sesuatu yang besar, asal dijalankan bareng-bareng dengan niat yang sama. (*)

