BACAAJA, SEMARANG – Bayangkan suasana panas di Mekkah, lautan manusia bergerak mengelilingi Ka’bah, dan di tengah momen sakral itu muncul satu pertanyaan sederhana tapi bikin gelisah: boleh nggak sih pakai celana dalam saat ihram? Pertanyaan ini kelihatannya sepele, tapi nyatanya sering bikin jemaah pria, terutama yang baru pertama kali umrah atau haji, jadi overthinking.
Kondisi ini wajar, apalagi buat yang belum terbiasa memakai dua lembar kain ihram tanpa jahitan. Rasa khawatir soal kenyamanan, apalagi di area sensitif, sering muncul tiba-tiba dan bikin fokus ibadah jadi buyar.
Padahal, kalau tidak dipahami dengan benar, kesalahan kecil seperti ini bisa berdampak besar. Ibadah bisa jadi kurang sempurna, bahkan berpotensi kena denda yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.
Dalam praktiknya, aturan ihram bagi laki-laki memang cukup tegas. Salah satu yang paling utama adalah larangan memakai pakaian berjahit yang mengikuti bentuk tubuh, termasuk celana dalam.
Hal ini bukan sekadar tradisi, tapi punya dasar kuat dalam ajaran Islam. Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah SAW secara jelas melarang penggunaan pakaian tertentu saat ihram.
Larangan tersebut mencakup baju, celana, penutup kepala, hingga pakaian lain yang dijahit mengikuti bentuk tubuh. Tujuannya bukan untuk mempersulit, tapi justru menyederhanakan.
Ihram mengajarkan kesetaraan. Semua orang, tanpa melihat status sosial, jabatan, atau latar belakang, tampil sama di hadapan Allah SWT.
Dengan melepas pakaian sehari-hari dan menggantinya dengan kain sederhana, ada pesan kuat tentang kerendahan hati dan kepasrahan total dalam ibadah.
Meski begitu, di lapangan banyak jemaah yang masih ragu. Rasa tidak nyaman sering jadi alasan utama kenapa aturan ini dipertanyakan.
Beberapa bahkan tergoda untuk tetap memakai celana dalam demi alasan praktis. Padahal, jika dilakukan dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan, ada konsekuensi yang harus ditanggung.
Dalam ilmu fikih, pelanggaran ini masuk kategori larangan ihram. Konsekuensinya bukan sekadar teguran, tapi juga kewajiban membayar dam.
Dam sendiri bisa berupa menyembelih kambing, memberi makan fakir miskin, atau berpuasa selama beberapa hari, tergantung kondisi dan pilihan yang diambil.
Artinya, keputusan kecil soal pakaian bisa berdampak pada kewajiban tambahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Namun, Islam juga tidak menutup mata terhadap kondisi tertentu. Jika ada alasan medis yang benar-benar mendesak, ada keringanan yang bisa dipertimbangkan.
Meski begitu, tetap ada aturan yang harus diikuti. Jadi bukan berarti bebas sepenuhnya tanpa konsekuensi.
Di sisi lain, rasa tidak nyaman sebenarnya bisa diatasi dengan beberapa cara sederhana tanpa harus melanggar aturan ihram.
Salah satu yang paling penting adalah memastikan kain ihram terpasang dengan benar dan kuat. Di sinilah fungsi sabuk ihram jadi krusial.
Sabuk ini membantu menjaga kain tetap di posisi, sehingga tidak mudah bergeser saat berjalan atau saat berdesakan dengan jemaah lain.
Selain itu, menjaga kondisi kulit juga penting. Gesekan di area paha sering jadi sumber masalah saat berjalan jauh.
Solusinya, gunakan pelembap tanpa aroma untuk mengurangi risiko lecet. Ini aman selama tidak mengandung wewangian yang dilarang saat ihram.
Teknik melilit kain juga punya peran besar. Lipatan yang tepat bisa membantu sirkulasi udara dan membuat gerakan jadi lebih leluasa.
Dengan teknik yang benar, kain tidak akan terlalu menempel ke kulit, sehingga rasa gerah bisa diminimalkan.
Persiapan seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya besar terhadap kenyamanan selama ibadah berlangsung.
Karena pada akhirnya, tujuan utama ihram bukan sekadar mengikuti aturan, tapi juga menjaga kekhusyukan dalam beribadah.
Ketika tubuh terasa nyaman, pikiran jadi lebih tenang. Dan saat pikiran tenang, ibadah bisa dijalani dengan lebih fokus.
Jadi, jawaban dari pertanyaan yang sering muncul itu sebenarnya sudah jelas. Memakai celana dalam saat ihram bagi laki-laki memang tidak diperbolehkan.
Daripada mengambil risiko melanggar aturan, lebih baik mempersiapkan diri dengan benar sejak awal.
Dengan begitu, perjalanan ke tanah suci bukan hanya jadi pengalaman spiritual, tapi juga berjalan lancar tanpa beban pikiran.
Pada akhirnya, memahami aturan ihram dengan benar adalah bagian dari menghormati ibadah itu sendiri, bukan sekadar mengikuti kewajiban. (*)

