Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Rakyat Gak Butuh Dolar tapi Ukuran Tempe Jadi Kecil, Pedagang Ngeluh Sepi Pembeli
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Rakyat Gak Butuh Dolar tapi Ukuran Tempe Jadi Kecil, Pedagang Ngeluh Sepi Pembeli

R. Izra
Last updated: Mei 26, 2026 6:35 am
By R. Izra
4 Min Read
Share
PEDAGANG MENGELUH - Pedagang kecil di Pasar Ngaliyan mengeluhkan mahalnya kedelai impor sebagai harga bahan baku tempe. (dul)
PEDAGANG MENGELUH - Pedagang kecil di Pasar Ngaliyan mengeluhkan mahalnya kedelai impor sebagai harga bahan baku tempe. (dul)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Warga Semarang mulai ngelus dada tiap belanja ke pasar. Soalnya, bukan cuma cabai yang makin pedas harganya, tahu dan tempe sekarang juga ikut naik diam-diam. Yang bikin warga makin sadar, ukuran tempe sekarang malah makin kecil alias “diet”.

Fenomena ini mulai banyak dikeluhkan pedagang pasar tradisional, terutama setelah harga bahan baku kedelai terus naik dalam beberapa bulan terakhir.

Ardiyasyah (38), pedagang tempe di Pasar Ngaliyan, mengaku sekarang penjual serba salah. Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, takut pembeli kabur. Akhirnya banyak pedagang memilih mengecilkan ukuran tempe supaya tetap bisa dijual dengan harga yang masih aman di kantong.

Bacaaja: Abaikan Klakson Masinis, Pengendara Sepeda Motor Tertemper Kereta Sangkuriang
Bacaaja: Rupiah Melemah Makin Nyungsep di Kaki USD, Prabowo: Orang Desa Gak Pakai Dolar

“Kalau harganya dinaikkan terus takut pembeli keberatan. Jadi sekarang ukurannya aja yang dikurangi,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Tempe yang dulu ukurannya lumayan besar dengan harga Rp5 ribu, sekarang jadi lebih kecil meski harganya hampir sama.

Bukan cuma kedelai, biaya lain seperti plastik pembungkus juga ikut bikin pedagang pusing.

“Plastik juga sempat naik. Jadi mau nggak mau ya ngaruh ke harga jual,” katanya.

Meski harga plastik sekarang mulai turun, Ardiyasyah bilang harga tempe belum bisa ikut normal lagi karena biaya produksi masih tinggi.

Keluhan serupa juga dirasakan Iis (52), pedagang kebutuhan dapur di pasar tradisional. Menurutnya, setelah Lebaran lalu hampir semua bahan pokok naik bareng-bareng.

“Sekarang apa-apa naik, bukan cuma tempe,” katanya.

Ia menyebut harga tempe yang sebelumnya Rp6 ribu sekarang jadi Rp7 ribu. Tahu juga ikut naik dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu.

Belum lagi harga cabai yang makin bikin dompet menjerit. Cabai merah keriting kini tembus Rp20 ribu per seperempat kilogram, sementara cabai rawit yang lebih pedas dijual sekitar Rp23 ribu.

“Kedelainya mahal sekarang, jadi tahu sama tempe ikut naik semua,” ujarnya.

Naiknya harga kebutuhan pokok ternyata juga bikin kondisi pasar berubah. Menurut Iis, jumlah pembeli sekarang jauh lebih sepi dibanding biasanya.

“Pembeli turun banget sekarang. Banyak yang cuma lihat-lihat terus pergi,” keluhnya.

Para pedagang berharap harga bahan pokok bisa segera stabil supaya pasar kembali ramai. Sebab kalau kondisi terus begini, bukan cuma pembeli yang pusing, pedagang kecil juga makin berat bertahan.

Bahan baku tempe masih impor

Tempe dan tahu memang jadi makanan favorit hampir semua orang Indonesia. Namun, bahan baku utama dua makanan rakyat itu ternyata masih sangat bergantung dari luar negeri.

Setiap tahun, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 2,5 hingga 2,6 juta ton kedelai untuk memenuhi kebutuhan produksi tempe dan tahu di dalam negeri. Jumlah itu terbilang besar karena produksi kedelai lokal sampai sekarang belum mampu menutup kebutuhan nasional.

Yang bikin makin menarik, sekitar 90 persen kedelai impor Indonesia ternyata berasal dari Amerika Serikat. Sisanya baru dipenuhi dari beberapa negara lain seperti Kanada dan Brasil. Semua barang impor tersebut ditebus menggunakan dolar AS. (dul)

You Might Also Like

Satgas Pangan Sidak, Harga Beras Naik Diam-Diam

Green Run 2025 Dorong Semangat Industri Ramah Lingkungan

Rakyat Gak Pakai Dolar, tapi Harga Menu Makanan di Warteg Semarang Melonjak

Survei IPI: Ganjar Masuk Tiga Besar Kandidat Capres 2029, Ada Nama Baru Masuk Radar

Renovasi Sekolah Gagal, Anggaran Dialihkan Demi Penuhi Permintaan Suami Wali Kota

TAGGED:headlineimpor kedelaikedelai imporngaliyanpasar tradisionalpedagangtahutempeukuran tempe
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article PERBAIKI PIPA--Petugas memperbaiki pipa PDAM yang rusak akibat tanah gerak. (ist) Tanah Gerak Bikin Pipa PDAM Semarang Jebol, 40 Ribu Pelanggan Sempat Terdampak
Next Article ILUSTRASI pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). (ist) Terungkap! Alasan Warga dan Petani Temanggung Ramai Tolak Pembangunan Batalion TNI

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kasus Bullying di Pemalang Disorot, Pemprov: CCTV Jangan Cuma Jadi Pajangan

Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng periode 2003–2013, Dr. Sos. Drs. KH. Muhammad Adnan, M.A., meninggal dunia pada Rabu (7/10/2026) malam di RS Samsoe Hidajat, Semarang. (Dok. Maarif NU Jawa Tengah)

Kiai Adnan, Mantan Ketua PWNU Jateng dan Sosok Akademisi Itu Telah Wafat

Tim PKM FK Unnes Kawal Kesehatan Ternak hingga Daging Kurban di Magelang

Usai Asian Games, Takraw Jateng Bidik Tiga Emas PON 2028

Giant Sea Wall Belum Berdiri, Mangrove Diminta Jadi Pasukan Pertama Jaga Pantura

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, resmikan betonisasi jalan pakai limbah PLTU.
Info

Pertama di Jateng! Betonisasi Jalan di Klaten Ini Pakai Limbah PLTU

Oktober 5, 2025
Ekonomi

Stok Beras di Jateng Melimpah Tapi Harga Naik

September 8, 2026
Politik

Hendi Dicopot dari Kepala LKPP, Ngaku Baru Tahu Hari Ini: “Yaudah Pulang Kampung Aja Dulu”

September 17, 2025
BERPIHAK KEPADA KORBAN - Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Kurnia Muhajar, berkomitmen penanganan dugaan kasus kekerasan seksual di UIN Walisongo berpihak kepada korban. (dul)
Info

Dosen Cabul UIN Walisongo Semarang Kini ‘Bebas Tugas’

September 17, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Rakyat Gak Butuh Dolar tapi Ukuran Tempe Jadi Kecil, Pedagang Ngeluh Sepi Pembeli
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?